Geger Listyo Sadap Prabowo, Ini 5 Kasus Penyadapan Pemimpin Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Penahanan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo akibat kasus dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto sukses mengguncang panggung politik nasional. Insiden peretasan komunikasi tingkat tinggi ini mengingatkan publik pada berbagai skandal serupa yang pernah menggemparkan dunia.
Mengutip ABC News Australia dan Mediapart, Rabu (4/11/2026), praktik penyadapan terhadap kepala negara terbukti sering kali memicu krisis diplomatik yang serius. Berikut adalah lima kasus penyadapan presiden dan pemimpin negara yang paling membekas dalam sejarah global, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga skandal Watergate.
SBY Dikhianati Intelijen Australia
Dokumen rahasia yang dibocorkan oleh mantan kontraktor keamanan AS Edward Snowden mengungkap fakta pahit bagi Indonesia pada tahun 2013 lalu. Intelijen Australia terbukti telah menyadap telepon genggam milik Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dokumen dari Direktorat Sinyal Pertahanan Australia itu menunjukkan upaya aktif mereka memantau aktivitas SBY selama 15 hari pada Agustus 2009. Penyadapan ini rupanya juga menargetkan lingkaran dalam presiden, termasuk sang istri Kristiani Herawati atau Ibu Ani Yudhoyono.
Target lainnya meliputi mantan Wakil Presiden Boediono, Jusuf Kalla, hingga beberapa menteri strategis di kabinet saat itu. Juru bicara kepresidenan saat itu, Teuku Faizasyah, langsung merespons dengan keras atas pengungkapan tersebut.
"Pemerintah Australia perlu mengklarifikasi berita ini untuk menghindari kerusakan lebih lanjut," tegasnya.
"Tetapi kerusakan telah terjadi."
Perdana Menteri Tony Abbott kala itu menolak berkomentar dan beralasan bahwa semua pemerintah di dunia pasti mengumpulkan informasi.
Kanselir Jerman Angela Merkel
Skandal penyadapan Snowden juga menyeret nama Kanselir Jerman Angela Merkel. Pemerintah Jerman memperoleh informasi kuat bahwa AS mungkin telah memantau telepon seluler milik sang kanselir selama bertahun-tahun.
Merkel yang marah besar langsung menelepon Presiden AS Barack Obama untuk menuntut klarifikasi segera. Gedung Putih memang tidak membantah, tetapi Obama meyakinkan bahwa AS tidak sedang dan tidak akan memantau komunikasinya di masa depan.
Pernyataan keras dari juru bicara Merkel menegaskan bahwa Jerman sama sekali tidak puas dengan jawaban Washington.
"Dia (Merkel) menjelaskan bahwa dia memandang praktik semacam itu, jika terbukti benar, sama sekali tidak dapat diterima dan mengutuknya dengan tegas," paparnya.
"Ini akan menjadi pelanggaran kepercayaan yang serius."
Pihak Jerman menegaskan bahwa praktik pengintaian antarnegara sahabat semacam ini harus dihentikan demi menjaga hubungan diplomatik.
Dilma Rousseff dan Presiden Meksiko
Di kawasan Amerika Latin, skandal penyadapan AS juga sukses membakar amarah para pemimpin negara tersebut. Laporan program berita Fantastico dari jaringan Globo Brasil membongkar dokumen yang diperoleh dari jurnalis Glenn Greenwald.
Dokumen rahasia NSA tersebut menampilkan pesan-pesan tertulis dari Enrique Pena Nieto yang saat itu masih menjadi kandidat presiden Meksiko. Dalam pesan yang disadap pada Juni 2012 itu, Pena Nieto terpantau tengah mendiskusikan calon-calon menteri kabinetnya.
Tak hanya Meksiko, dokumen itu juga menampilkan pola komunikasi antara Presiden Brasil Dilma Rousseff dengan para penasihat utamanya. Kedua slide presentasi tersebut rupanya merupakan bagian dari studi kasus rahasia milik badan intelijen NSA.
Program pengawasan internet rahasia itu secara khusus dirancang untuk menyaring data secara cerdas dari berbagai target tingkat tinggi.
Tiga Presiden Prancis Berturut-turut
Di Prancis, dokumen bocoran AS berlabel "Sangat Rahasia" mengungkap operasi bertajuk "Espionnage Elysée". Operasi ini membuktikan bahwa AS telah menyadap tiga presiden Prancis secara berturut-turut.
Target penyadapan itu meliputi Presiden Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, hingga Francois Hollande yang terpilih pada 2012. Dokumen WikiLeaks menunjukkan bahwa menteri kabinet hingga duta besar Prancis untuk AS juga masuk dalam daftar target.
Laporan penyadapan yang dipublikasikan media lokal mengungkap detail menakutkan mengenai daftar penyadapan tersebut.
"Dokumen-dokumen tersebut berisi 'penyeleksi' dari daftar target, merinci nomor telepon seluler sejumlah pejabat di Elysée hingga dan termasuk telepon seluler langsung presiden," papar laporan tersebut.
Berdasarkan bocoran itu, Sarkozy pernah mempertimbangkan untuk memulai kembali perundingan damai Israel-Palestina tanpa campur tangan AS. Sementara itu, Hollande rupanya pernah mengkhawatirkan keluarnya Yunani dari zona euro pada tahun 2012.
Skandal Legendaris Watergate
Presiden AS juga tak luput dari skandal lingkaran penyadapan. Pada awal 1970-an, muncul aksi penyadapan dan spionase Komite Nasional Demokrat di kompleks Watergate, yang membuat skandal ini dikenal sebagai Watergate.
Lima pria tertangkap basah sedang memasang alat penyadap dan mencuri dokumen rahasia milik kubu lawan politik Presiden Richard Nixon. Awalnya, pemerintahan Nixon bersikeras membantah keterlibatan mereka dalam aksi kotor tersebut.
Namun, kegigihan dua jurnalis muda dari The Washington Post secara perlahan berhasil menguliti kebohongan sang presiden. Investigasi mendalam mereka mengungkap adanya aliran dana gelap dari komite kampanye Nixon kepada para pembobol tersebut.
Drama ini mencapai puncaknya ketika terungkap bahwa Nixon diam-diam merekam semua percakapan di Ruang Oval Gedung Putih. Rekaman audio rahasia itulah yang akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi sang presiden.
Di bawah tekanan ancaman pemakzulan yang sudah di depan mata, Nixon akhirnya memilih menyerah pada keadaan. Ia resmi mengundurkan diri pada Agustus 1974, menjadikannya satu-satunya presiden AS yang pernah mundur dari jabatannya.
(tps/tps)