Pemilu Sela AS Digelar, Popularitas 'Gerbong' Trump Makin Merosot
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemungutan suara pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) resmi ditutup di tujuh negara bagian pada hari Selasa. Jutaan warga AS telah memberikan suara mereka untuk menentukan nasib kendali Partai Republik di Kongres.
Mengutip Reuters, Selasa (3/11/2026), Partai Demokrat kini lebih difavoritkan untuk merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di sisi lain, kedua partai masih harus bertarung sengit untuk memperebutkan kursi Senat di masing-masing negara bagian.
Nasib masing-masing majelis mungkin belum akan diketahui mengingat petugas masih sibuk menghitung surat suara di puluhan negara bagian. Tempat pemungutan suara di Indiana dan Kentucky ditutup pada pukul 6 sore, disusul Georgia, Carolina Selatan, Vermont, Virginia, dan sebagian besar Florida pada pukul 7 malam.
Nasib Gerbong Trump
Dalam sejarahnya, partai presiden yang menjabat tercatat selalu kehilangan kursi di Kongres pada hampir semua pemilu sela sejak Perang Dunia Kedua. Hal ini juga diramalkan terjadi kembali pada adminitrasi Presiden Donald Trump.
Tingkat persetujuan Trump terus melorot seiring rasa frustrasi atas perang Iran, tingginya harga bahan bakar, dan masalah keterjangkauan. Keputusannya terkait tarif impor yang banyak ditolak pengadilan serta serangan ke Iran pada Februari sukses menaikkan harga bagi konsumen.
Berdasarkan jajak pendapat, setengah dari pemilih melihat pemilu sela 2026 ini sebagai kesempatan nyata untuk menegur presiden. Tiga perempat dari mereka juga mengaku marah atau tidak puas dengan arah pergerakan negara saat ini.
Sebanyak 70% pemilih yang disurvei bahkan menyatakan bahwa mereka ingin Kongres memberikan lebih banyak pengawasan dan keseimbangan. Trump sendiri telah meminta para pendukungnya untuk membayangkan bahwa namanya ada di surat suara kali ini.
Dalam pidatonya pada hari Selasa, Trump berusaha memengaruhi pemilih yang tidak puas dengan besarnya dukungan AS untuk Israel. Ia menyatakan niatnya untuk menghentikan pendanaan tahunan sebesar US$ 3,8 miliar (Rp 68,4 triliun) yang dijanjikan kepada Israel akhir tahun ini.
Namun, belum jelas bagaimana presiden akan melakukan pemotongan tersebut. Hal ini mengingat adanya undang-undang tahun 2020 yang secara ketat mengamanatkan tingkat pendanaan untuk sekutu AS tersebut.
Aliansi erat AS-Israel juga menjadi fokus khusus di negara bagian Michigan melalui kandidat progresif Demokrat Abdul El-Sayed. Ia berpotensi besar menjadi senator AS beragama Islam pertama jika berhasil memenangkan pemilu sela ini.
El-Sayed kini menghadapi perlawanan kampanye jutaan dolar dari kelompok-kelompok terkait Israel atas kritiknya terhadap sekutu AS tersebut. Dipimpin oleh Trump, Partai Republik menggambarkan El-Sayed dan kandidat Demokrat lainnya sebagai kelompok radikal hingga komunis.
Sang presiden juga telah menggelar lebih dari dua rangkaian kampanye akbar sejak awal Oktober untuk menyemangati basis pendukungnya. Mayoritas kampanye itu dilakukan di negara-negara bagian yang dengan mudah ia menangkan pada tahun 2024 guna memperkuat postur defensif Republik.
Pemantauan Masif
Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS telah mengerahkan 1.000 pemantau dan pengamat pemilu ke seluruh 50 negara bagian. Langkah yang diklaim sebagai upaya pemantauan terbesar dalam sejarah ini justru dikritik oleh Demokrat sebagai bentuk intimidasi pemilih.
Seluruh 435 kursi di DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat siap untuk diperebutkan pada pemilu kali ini. Demokrat harus membalikkan setidaknya tiga kursi DPR dan empat kursi Senat untuk memenangkan mayoritas mutlak di setiap majelis.
Terdapat sekitar 47 persaingan kursi DPR yang dinilai sangat kompetitif oleh para pengamat pemilu. Demokrat diketahui hanya perlu memenangkan 13 dari persaingan tersebut untuk mengamankan posisi mayoritas.
Namun, Demokrat memiliki margin kesalahan yang sangat kecil dalam persaingan merebut kursi Senat. Mereka harus mempertahankan seluruh kursi saat ini sembari memenangkan setidaknya dua negara bagian basis Trump, seperti Alaska, Iowa, Kansas, Nebraska, Ohio, Carolina Selatan, dan Texas.
Intrik pemilu yang memanas juga terjadi dalam persaingan Senat Alaska antara kandidat Demokrat Mary Peltola dan lawannya dari Republik. Kampanye Peltola dituduh membantu merekrut kandidat ketiga untuk maju sebagai independen dengan nama Dan Sullivan, persis dengan nama lawannya tersebut.
Peltola sendiri telah membantah tegas segala keterlibatannya dalam taktik kotor pemilu tersebut. Merespons kekacauan ini, Departemen Kehakiman Trump langsung meluncurkan penyelidikan kriminal dan mengajukan gugatan untuk memblokir sertifikasi hasil pemilu.
Meskipun demikian, pendukung petahana Dan Sullivan mengaku sama sekali tidak bingung dengan kehadiran dua nama kembar di surat suara.
"Mereka membuatnya cukup jelas, tertulis 'petahana' setelah namanya," tutur Wesley.
Merespons keberadaan dua nama yang sama itu, Trump berulang kali mengeluh dalam beberapa hari terakhir. Ia menilai para pemilih mungkin tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata petahana tersebut.