Inflasi Makan & Minum Kian Besar, Awas Gaji Tergerus Kebutuhan Pokok

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 20:10 WIB
Foto: Harga sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan pada awal pekan, Senin (2/11/2026) hari ini. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan ekonom memberikan penjelasan mengenai makna dibalik fenomena terjadinya inflasi pada kelompok pengeluaran makanan, minimum dan tembakau hingga deflasi pada perawatan pribadi dan jasa lainnya selama dua bulan berturut-turut.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan fenomena ini belum cukup untuk menyimpulkan terdapat pergeseran konsumsi dari kebutuhan tersier ke primer.

Rizal mengatakan inflasi bulanan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,51% pada Oktober 2026 terutama didorong cabai dan tomat, sedangkan deflasi perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,06% terutama dipicu penurunan harga emas perhiasan.


"Oleh karena itu, menyimpulkan masyarakat memangkas konsumsi perawatan pribadi hanya dari deflasi kelompok tersebut merupakan lompatan kesimpulan. Indeks harga mengukur perubahan harga, bukan perubahan volume konsumsi atau prioritas belanja masyarakat," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia, Senin (2/10/2026).

Menurutnya, risiko yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga pangan menggerus kemampuan rumah tangga membiayai kebutuhan lainnya ketika pendapatan tidak meningkat sebanding. Porsi belanja pangan bisa membesar meskipun jumlah makanan yang dibeli tetap, bahkan berkurang.

Jika kondisi ini terjadi, maka fenomena yang terlihat adalah tekanan daya beli dan penyempitan pilihan konsumsi. Pembuktiannya harus menggunakan data pendapatan riil, volume konsumsi, dan komposisi pengeluaran menurut kelompok pendapatan. Menurutnya, pemerintah perlu berfokus menjaga pasokan dan keterjangkauan pangan.

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi makanan, minuman, dan tembakau 0,51% secara bulanan dan 4,82% secara tahunan pada Oktober 2026. Ini terjadi secara dua bulan berturut-turut setelah pada September 2026 inflasi pada makanan, minuman dan tembakau adalah 0,88% secara bulanan dan 4,37% secara tahunan.

Andil terhadap inflasi secara bulanan maupun tahunan untuk kelompok pengeluaran ini menjadi yang terbesar pada Oktober 2026 dengan masing-masing mencapai 0,15% dan 3,23%.

Sementara, perawatan pribadi dan lainnya deflasi 0,06% secara bulanan pada Oktober 2026. Komoditas yang dominan mendorong deflasi adalah emas perhiasan dengan andil 0,01%. Deflasi secara bulanan juga terjadi sebesar 0,14% pada September 2026.

Inflasi Pangan Berpotensi Meningkat

Seiring dengan tingginya inflasi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, Kepala Riset Makroekonomi dan Market Permata Bank Faisal Rachman berpandangan inflasi komponen harga pangan bergejolak (volatile food) berpotensi masih terus meninggi.

Ini didukung oleh permintaan pangan yang tetap kuat, antara lain akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Risiko kenaikan inflasi dapat makin besar apabila terjadi fenomena Godzilla El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian setidaknya hingga semester I-2027.

"Kami memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, inflasi pangan dapat meningkat sebesar 4,38 poin persentase (ppt) dalam skenario El Nino kuat," ujar Faisal.

Sementara itu, dampaknya diperkirakan mencapai 2,88 ppt dalam skenario El Nino moderat dan 1,35 ppt dalam skenario El Nino lemah. Dengan demikian, kenaikan inflasi pangan akibat kondisi El Nino berpotensi menyumbang sekitar 0,27-0,88 ppt terhadap inflasi umum.

Dia mengatakan tekanan inflasi makin menguat seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan risiko penerusan kenaikan biaya dari produsen kepada konsumen atau producer-to-consumer price pass-through.

Sementara itu, dampak El Nino yang makin intens diperkirakan membuat inflasi bertahan di atas 3% setidaknya hingga semester I-2027. Di sisi lain, dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi akan bergantung pada kapasitas fiskal pemerintah dalam menyerap guncangan eksternal.

Untuk diketahui, inflasi bahan pangan bergejolak terus meningkat sejak Agustus hingga September 2026 bertengger di level 5,81%. Meski begitu, pada Oktober 2025, tekanan inflasi kelompok ini masih lebih tinggi, yakni mencapai 6,59%.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Upaya Pemerintah Tekan Inflasi Jelang Nataru