RI Tekor Dagang dengan China, Sama AS Makin Untung!
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari-September 2026 menyusut menjadi US$10,61 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu US$33,54 miliar.
Total neraca perdagangan secara kumulatif itu disumbang oleh surplusnya perdagangan ekspor-impor Indonesia dengan negara-negara mitra utama, seperti Amerika Serikat, India, Filipina, negara-negara kawasan ASEAN, serta Uni Eropa.
Dengan Amerika Serikat, neraca perdagangan total Indonesia bahkan surplusnya meningkat menjadi US$ 14,26 miliar dari periode yang sama tahun lalu US$ 13,35 miliar. Sedangkan India uS$ 10,59 miliar dari sebelummya US$10,42 miliar, dan Filipina turun tipis menjadi US$ 6,48 miliar dari sebelumnya US$ 6,54 miliar.
"Negara penyumbang surplus terbesar adalah AS US$ 14,26 miliar, India surplus US$ 10,59 miliar, dan Filipina surplus US$ 6,48 miliar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Komoditas penyumbang utama surplus neraca perdagangan khusus untuk non migas Indonesia dengan Amerika Serikat di antaranya mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorinya, serta alas kaki.
Sedangkan dengan India berupa bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya. Dengan Filipina, surplus terjadi akibat komoditas kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.
Adapun dengan negara-negara kawasan ASEAN, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,39 miliar dari sebelumnya US$ 5,68 miliar, Uni Eropa US$ 3,06 miliar dari sebelumnya US$ 5,73 miliar, dan lainnya US$ 4,84 miliar, dari sebelumnya US$ 13,61 miliar.
Adapun neraca perdagangan Indonesia dengan mitra dagang utama lainnya mengalami defisit. Terbesar di antaranya ialah dengan China, Singapura, serta Australia.
Defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China membengkak menjadi US$ 21,20 miliar, dari sebelumnya minus US$ 14,27 miliar. Dengan Singapura defisit US$ 7,03 miliar dari minus US$ 3,51 miliar, sedangkan Australia defisit US$ 5,78 miliar dari sebelumnya hanya minus US$ 4,01 miliar.
Komoditas penyumbang tekor dagang RI dengan China utamanya berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, mesin dan peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.
Dengan Australia, neraca perdagangan RI makin tekor karena komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata, serealia, serta bahan bakar mineral.
(arj/arj)