RI Bakal Kebanjiran Pasokan Alumina-Aluminium, Ini Pemicunya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 30/10/2026 17:50 WIB
Foto: Pabrik Aluminium PT Inalum. (CNBC Indonesia/ Pratama Guitarra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia Mining Institute (IMI) memproyeksikan Indonesia akan mengalami kelebihan pasokan (oversupply) alumina hingga aluminium, seiring dengan meningkatnya pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina, hingga pabrik aluminium baru.

Potensi kelebihan pasokan tersebut didorong oleh adanya smelter bauksit baru, serta maraknya pembangunan pabrik aluminium dalam beberapa tahun ke depan.

Chairman IMI Irwandy Arif mengatakan bahwa pendorong utama lonjakan pasokan alumina ini karena adanya proyek smelter alumina baru, seperti di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikerjakan oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).


BAI kini telah mengoperasikan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah Fase 1 yang memproduksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun. Tak hanya berhenti di situ, BAI juga kini tengah membangun SGAR Fase 2 yang juga akan memproduksi 1 juta ton alumina per tahun.

Bila SGAR Fase 2 ini rampung, maka total produksi alumina dari smelter BAI mencapai 2 juta ton per tahun.

"Bauksit, kita kemungkinan akan kelebihan alumina, akan timbul nanti pabrik besar baru di Kalimantan Barat, dari bauksit alumina, lalu sampai ke aluminium juga. Ada pabrik aluminium baru di Kalimantan Utara, 500 ribu ton. Nah kemungkinan untuk alumina dan aluminium juga kelebihan," katanya dalam acara Coffee Morning-Special 2 Tahun Prabowo bertema "2 Tahun Prabowo: Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Jumat (30/10/2026).

Tak hanya smelter alumina, Indonesia kini juga tengah membangun sejumlah pabrik aluminium, seperti di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikerjakan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), serta pabrik aluminium di Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI), di Tanah Kuning-Mangkupadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Pabrik aluminium di Mempawah ini merupakan pabrik aluminium kedua yang akan dibangun Inalum. Rencananya, pabrik aluminium baru yang diperkirakan membutuhkan investasi US$ 2,4 miliar ini akan memproduksi sekitar 600.000 ton aluminium per tahun. Dengan demikian, produksi aluminium Inalum akan bertambah menjadi sekitar 900.000 ton per tahun dari kapasitas saat ini sekitar 275.000 ton per tahun.

Sementara itu, pabrik aluminium di KIPI dikerjakan oleh PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), anak usaha dari PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

PT Kalimantan Aluminium Industry ini membangun smelter aluminium di lahan seluas 600 Ha dengan kapasitas produksi aluminium pada fase pertama sebanyak 500.000 ton per tahun (ton per annum/tpa) aluminium.

Adapun, kebutuhan aluminium di Tanah Air menurutnya saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun. Dengan kapasitas pabrik aluminium saat ini masih sekitar 200.000-300.000 ton, artinya Indonesia masih mengimpor aluminium dalam jumlah besar.

Dia menyebut, pengolahan dari bauksit menjadi aluminium akan menguntungkan Indonesia. Pasalnya, nilai tambah akan meningkat 80 kali.

"Peningkatan nilai dari bauksit menjadi aluminium itu 80 kali. Dan itu besar sekali," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

ESDM Usut Perusahaan Asing Pemilik Kebun Sawit Jalankan Usaha Tambang