Siap-Siap, RI Diramal Bakal Kebanjiran Alumina
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia Mining Institute (IMI) memproyeksikan Indonesia akan mengalami kelebihan pasokan (oversupply) alumina seiring dengan meningkatnya pembangunan pabrik pengolahan bauksit baru.
Potensi kelebihan pasokan tersebut didorong oleh masuknya investasi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit skala besar di Kalimantan Barat dan wilayah lainnya.
Chairman IMI Irwandy Arif memaparkan bahwa ekspansi kapasitas industri olahan bauksit di dalam negeri terus melaju. Dia mengatakan bahwa lonjakan produksi alumina tersebut berpotensi melebihi kapasitas penyerapan industri aluminium nasional.
"Bauksit, kita kemungkinan akan kelebihan alumina, akan timbul nanti pabrik besar baru di Kalimantan Barat, dari bauksit alumina ke aluminium," katanya dalam acara Coffee Morning-Special 2 Tahun Prabowo bertema "2 Tahun Prabowo: Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Jumat (30/10/2026).
Potensi keberlimpahan alumina tersebut berjalan seiring dengan upaya peningkatan kapasitas produksi aluminium nasional. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berencana menaikkan kapasitas produksinya dari 200-300 ribu ton menjadi 600 ribu ton per tahun, sementara proyek pengolahan di Kalimantan Utara diproyeksikan menambah kapasitas sebesar 500 ribu ton.
"Nah kemungkinan untuk alumina juga kelebihan," tambahnya.
Meskipun pasokan alumina berpotensi melimpah, kebutuhan aluminium dalam negeri yang mencapai 1,2 juta ton saat ini belum terpenuhi karena produksi Inalum baru mencapai 300 ribu ton. Padahal, peningkatan nilai tambah dari komoditas bauksit menjadi aluminium memberikan peningkatan nilai hingga 80 kali lipat.
"Peningkatan nilai dari bauksit menjadi aluminium itu 80 kali," tandasnya.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]