CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Melania Trump Turun Tangan, Rusia-Ukraina Sepakat Gencatan Senjata

luc,  CNBC Indonesia
28 October 2026 09:41
Ibu Negara AS Melania Trump menyampaikan pidato mengenai mendiang pengusaha dan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein dari Grand Foyer Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 9 April 2026. (REUTERS/Evan Vucci)
Foto: Ibu Negara AS Melania Trump menyampaikan pidato mengenai mendiang pengusaha dan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein dari Grand Foyer Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 9 April 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump mengeklaim berhasil memediasi gencatan senjata terbatas antara Rusia dan Ukraina di Kota Oleshky, wilayah selatan Ukraina. Kesepakatan tersebut memungkinkan penghentian sementara seluruh aktivitas militer di kota itu untuk membuka akses bantuan kemanusiaan sekaligus mempersiapkan evakuasi warga sipil melalui jalur aman yang telah ditentukan.

Gencatan senjata lokal tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Oktober 2026.

Melania mengatakan kondisi warga yang masih bertahan di Oleshky sangat memprihatinkan. Kota itu berada di garis depan pertempuran, sementara sebagian besar penduduk yang tersisa merupakan warga lanjut usia yang membutuhkan pertolongan medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih.

"Situasi di Oleshky sangat buruk. Oleshky adalah kota perang di garis depan yang berada di ambang bencana. Penduduk Oleshky yang tersisa sebagian besar terdiri dari warga lanjut usia yang sangat membutuhkan perawatan medis, obat-obatan, makanan, dan air bersih," kata Melania Trump dalam keterangan resmi yang dirilis Gedung Putih, Selasa (27/10/2026) waktu setempat.

Ia menambahkan pasokan listrik di kota tersebut terbatas. Warga juga harus hidup di tengah jalan-jalan yang dipasangi ranjau dan serangan militer yang terus terjadi.

"Sangat jelas bahwa tanpa intervensi saya, kemungkinan untuk membawa bantuan kemanusiaan ke kota tersebut dan mengevakuasi warga lanjut usia tidak akan mungkin terwujud," tuturnya.

Menurut Melania, dirinya bersama seorang perwakilan telah berkomunikasi langsung dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina untuk merumuskan ketentuan gencatan senjata tersebut. Ia mengaku menginisiasi pembicaraan dengan kedua negara dan menyelaraskan tujuan kesepakatan, prosedur teknis, jadwal, mekanisme pelaksanaan, hingga persyaratan lainnya dalam kapasitasnya sebagai mediator eksklusif.

Melania mengatakan para pejabat sipil nonmiliter dari kedua negara akan bekerja sama mendatangi rumah-rumah warga Oleshky untuk menilai bantuan yang dibutuhkan masing-masing keluarga. Warga yang ingin meninggalkan kota itu akan mendapatkan dukungan terkoordinasi serta transportasi menuju tujuan pilihan mereka.

"Saya memperkirakan sebagian warga ingin pergi ke Rusia, sementara yang lain ingin ke Ukraina," kata Melania.

Ia juga mengungkapkan telah mendapatkan persetujuan sebuah organisasi media Amerika Serikat yang independen untuk mendampingi sekaligus mendokumentasikan kegiatan tim Rusia dan Ukraina di lapangan selama proses berlangsung.

"Hal ini akan memainkan peran penting dalam memastikan bahwa keinginan setiap keluarga benar-benar dihormati," lanjutnya.

Melania mengaku pertama kali mengetahui kondisi mendesak di Oleshky dalam sebuah diskusi tertutup pada acara Fostering the Future Together di New York. Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81.

Ia mengatakan dirinya dan perwakilannya segera memanfaatkan jalur komunikasi yang sebelumnya dibangun dengan Rusia dan Ukraina dalam proses reunifikasi enam kelompok yang melibatkan 34 anak.

Oleshky terletak di wilayah selatan Ukraina, tepat di seberang Sungai Dnipro dari Kota Kherson. Sebelum perang, sekitar 24.000 orang tinggal di kota tersebut.

Namun, kini jumlah penduduk yang tersisa diperkirakan hanya berkisar 1.700 hingga 2.000 orang, sebagian besar warga lanjut usia yang tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut, serta sekitar 50 anak.

Belum ada pendataan demografi resmi di Oleshky sejak 2022. Sejak perang berlangsung, kota itu terus berada di garis depan pertempuran sehingga sebagian besar penduduknya terpaksa mengungsi atau dievakuasi.

Kondisi makin memburuk setelah Bendungan Kakhovka hancur, yang menyebabkan sekitar 90% wilayah kota terendam banjir.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Jreng.. Trump Minta Zelenskiy Diganti dari Kursi Presiden Ukraina


Most Popular
Features