CLOSE AD
MARKET DATA
Internasional

Breaking! Hasil Hitung Cepat Pemilu Israel, Begini Nasib Netanyahu

luc,  CNBC Indonesia
28 October 2026 06:01
A supporter reacts to exit polls with a sign depicting Israeli Prime Minister and Likud party leader Benjamin Netanyahu during Israel's national election, at Likud's election headquarters in Jerusalem, October 27, 2026. REUTERS/Ronen Zvulun     TPX I
Foto: REUTERS/Ronen Zvulun

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan umum Israel yang digelar di tengah situasi perang berakhir tanpa pemenang yang jelas, berdasarkan hasil hitung cepat dari survei keluar tempat pemungutan suara atau exit poll pada Selasa (27/10/2026) waktu setempat. Hasil sementara ini menjadi pukulan potensial bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang berupaya mempertahankan kekuasaannya setelah bertahun-tahun mendominasi politik Israel.

Meski blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diproyeksikan memperoleh lebih banyak kursi dibandingkan kubu Netanyahu, kedua pihak belum memiliki jalan yang pasti untuk membentuk pemerintahan. Keunggulan tipis tersebut setidaknya berpotensi memberi Eisenkot kesempatan pertama untuk menyusun koalisi.

Namun, kebuntuan politik justru bisa menguntungkan Netanyahu. Ia berpeluang tetap menjalankan pemerintahan sementara selama partai-partai politik bernegosiasi untuk membentuk koalisi baru.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7%. Angka itu merupakan yang tertinggi dalam lebih dari dua dekade dan sekitar 7 poin persentase di atas partisipasi dalam pemilu sebelumnya pada 2022.

Tiga jaringan televisi besar Israel memperbarui hasil exit poll mereka dan memperkirakan blok Eisenkot unggul dua kursi atas kubu yang dipimpin Partai Likud milik Netanyahu, dengan perolehan masing-masing 52 dan 50 kursi.

Sementara itu, 18 kursi lainnya diperkirakan jatuh kepada partai-partai Arab yang tidak berafiliasi dengan kedua blok tersebut. Akan tetapi, Eisenkot, pemimpin Partai Yashar, hampir sepenuhnya menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai itu.

Sikap tersebut membuat upayanya meraih mayoritas menjadi lebih sulit meski bloknya unggul dalam proyeksi perolehan kursi.

Hasil berbeda muncul dari sejumlah media Israel, termasuk Channel 14 yang dikenal mendukung Netanyahu. Media-media tersebut memperkirakan Netanyahu beserta partai-partai pendukungnya mampu mengamankan total 60 kursi.

Hasil resmi pemilu diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari untuk diumumkan. Sistem politik Israel yang terfragmentasi juga membuat partai-partai kecil berpotensi menjadi penentu pembentukan pemerintahan.

Sejauh ini, tidak ada satu partai pun yang pernah meraih 61 kursi secara langsung di Knesset yang memiliki 120 anggota, sehingga koalisi menjadi pola yang lazim.

Yohanan Plesner, Presiden Israel Democracy Institute, menyebut hasil exit poll sebagai kekalahan besar bagi koalisi Netanyahu. Blok yang sebelumnya menguasai 68 kursi di Knesset diperkirakan hanya memperoleh sekitar 50 kursi dalam pemilu kali ini.

Meski demikian, Plesner menilai Eisenkot belum dapat disebut sebagai pemenang yang jelas. Ia mengingatkan bahwa hasil akhir masih bisa berubah selama penghitungan suara berlangsung.

Jika hasil resmi nantinya sesuai dengan proyeksi exit poll, Eisenkot dapat mencoba membentuk pemerintahan minoritas untuk mengakhiri kekuasaan Netanyahu, meskipun pemerintahan tersebut mungkin hanya bertahan sampai pemilu berikutnya.

Oposisi Menguat, Netanyahu Terancam

Walaupun belum menghasilkan pemenang yang pasti, hasil exit poll memperlihatkan kuatnya dukungan terhadap kelompok yang ingin mengakhiri pemerintahan Netanyahu.

Pemimpin oposisi Yair Lapid menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa hasil tersebut merupakan kekalahan telak bagi kubu perdana menteri.

"Jangan biarkan siapa pun membingungkan kalian: blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak. Ini merupakan keruntuhan total dan rakyat telah menyuruh mereka untuk pulang," kata Lapid, dilansir Reuters.

Eisenkot, 66 tahun, muncul sebagai penantang terkuat Netanyahu. Mantan kepala militer yang dikenal berpandangan keras dalam urusan keamanan itu kehilangan seorang putra dan dua keponakannya dalam perang di Gaza.

Dalam kampanye kali ini, ia mengandalkan rekam jejaknya di bidang keamanan sembari memosisikan diri sebagai tokoh berhaluan tengah dalam urusan domestik.

Eisenkot baru terjun ke politik sekitar empat tahun lalu. Setelah serangan Hamas pada 2023, ia bergabung dengan kabinet perang Netanyahu, tetapi mengundurkan diri delapan bulan kemudian karena mengkritik kepemimpinan sang perdana menteri.

Ia menawarkan perubahan dari kepemimpinan Netanyahu dan pengaruh sekutu-sekutu sayap kanan ekstremnya. Namun, dalam urusan keamanan, Eisenkot tidak menawarkan pergeseran besar dari pendekatan keras yang semakin mengakar sejak serangan Hamas pada 2023.

Ia menentang pembentukan negara Palestina dan menyatakan sayap militer Hamas harus dihancurkan atau dilucuti kekuatannya.

Meski demikian, Eisenkot menilai respons Israel terhadap serangan Hamas telah gagal. Perang yang dilancarkan Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza, tetapi Hamas masih tetap berkuasa di wilayah tersebut.

Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat yang juga menjadi lawan politik Netanyahu, menyampaikan pidato di hadapan pendukungnya setelah pemungutan suara berakhir.

"Para Demokrat yang terhormat, keputusan telah dibuat. Bangsa ini telah memberikan kepada kita tugas suci: menerjemahkan kepercayaan yang mereka berikan kepada kita menjadi tindakan, memperkuat demokrasi, menyelamatkan Israel, dan memberikan perlindungan nyata bagi negara," kata Golan.

Sementara itu, suasana meriah terjadi di markas Joint List, aliansi sejumlah partai Arab. Para pendukung bersorak dan bertepuk tangan ketika hasil exit poll diumumkan setelah pemungutan suara ditutup. Partisipasi warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel juga mencatat momentum penting dalam pemilu kali ini.

"Kami menolak pendudukan dan rasisme, dan kami akan tetap berada di sini," kata Faten Gattas, kandidat dari Joint List, dalam pidatonya di markas aliansi tersebut di Nazareth.

Para kandidat berharap tingginya partisipasi pemilih Arab dapat memberi mereka posisi penentu untuk mencegah koalisi Netanyahu, yang dianggap sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel, kembali berkuasa.

Partisipasi Pemilih Pecahkan Rekor

Antusiasme warga terlihat dari antrean panjang di luar tempat pemungutan suara. Pemilu berlangsung ketika masyarakat Israel masih menghadapi trauma akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera.

Serangan itu kemudian diikuti perang di Gaza, konflik dengan kelompok Hizbullah di Lebanon, serta perang melawan Iran.

Netanyahu mendapat kritik keras atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan Hamas terjadi. Namun, ia berargumen bahwa langkah-langkah militernya, termasuk pembunuhan sejumlah pemimpin senior Hamas, Hizbullah, dan Iran, telah membuat Israel dan dunia lebih aman.

Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu selama ini memicu perpecahan di dalam negeri sekaligus memperdalam isolasi Israel di tingkat internasional. Di tengah kritik tersebut, Netanyahu terus menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi musuh-musuh Israel.

Netanyahu, 77 tahun, telah menjabat sebagai perdana menteri selama hampir 19 tahun dalam tiga dekade terakhir. Ia berulang kali berhasil bertahan melewati krisis politik.

Sejak 2009, lawan-lawannya hanya satu kali berhasil menyingkirkannya dari jabatan perdana menteri. Hal itu terjadi setelah empat pemilu yang tidak menghasilkan pemenang jelas dalam kurun dua tahun. Namun, hanya 18 bulan kemudian, Netanyahu kembali berkuasa.

Dalam pemilu kali ini, ia juga menghadapi persoalan hukum berupa sejumlah tuduhan korupsi yang telah lama membayangi dirinya dan terus dibantahnya. Selain itu, ia mendapat kritik atas kegagalan intelijen yang memungkinkan militan pimpinan Hamas melancarkan serangan pada Oktober 2023.

Netanyahu menjalani kampanye dengan mengandalkan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sekutunya dalam perang melawan Iran.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemilu Paling Menentukan, Nasib Israel & Rezim Netanyahu Dipertaruhkan


Most Popular
Features