Siap-Siap, ASEAN Bakal Jadi Net Importir Gas Setelah 2032
Denpasar, CNBC Indonesia - Asia Tenggara (ASEAN) diperkirakan bakal menjadi kawasan negara pengimpor gas bersih atau net importir gas setelah 2032 mendatang.
Hal ini terungkap dalam ajang pertemuan perkumpulan perusahaan energi se-ASEAN yakni 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, yang berlangsung sejak Senin (26/10/2026).
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza mengatakan, ajang ini mendiskusikan tentang bagaimana upaya menjaga ketahanan energi, baik di Indonesia maupun negara Asia Tenggara, di tengah tensi geopolitik dunia yang panas sejak awal 2026 ini.
"Sebagaimana kita ketahui bersama, tahun 2026 ini dimulai dengan shock ya, geopolitical tension, di mana bulan Februari tahun ini kita ada perang. Perangnya ini cukup unik karena perangnya itu terjadi di pusat hidrokarbon atau pusat energi dunia. Dan tertutuplah Selat Hormuz ya, untuk waktu yang cukup panjang, dan tertutupnya Selat Hormuz ini tentu mempengaruhi suplai energi ke seluruh dunia. Dan tentu sebagai net importir country, Indonesia berkepentingan ya untuk mengamankan energi bagi Indonesia," tuturnya kepada wartawan saat ditemui di sela acara 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/10/2026).
"Kita berusaha untuk mendiskusikan hal-hal yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan Indonesia, penyelamatan ASEAN, dan seterusnya. Di bidang ketahanan, kita mendiskusikan bagaimana kita sebagai ASEAN untuk bekerja lebih banyak lagi bersama-sama untuk memastikan investasi lebih banyak mengalir ke sektor hulu migas dan juga ke sektor infrastruktur, dan juga ke sektor energi terbarukan di Indonesia," jelasnya.
Tidak hanya terkait menjaga pasokan minyak mentah (crude) dan Bahan Bakar Minyak (BBM), perusahaan-perusahaan energi di Asia Tenggara ini menurutnya juga turut membahas bagaimana upaya mengamankan pasokan gas bumi, termasuk Liquefied Natural Gas (LNG), dan juga Liquefied Petroleum Gas (LPG).
"Kalau kita lihat prospeknya ke depan, ASEAN ini akan defisit di beberapa hidrokarbon yang dibutuhkan oleh masyarakat. Agar nanti anak cucu kita bisa survive, tentu kita harus membuat perencanaan yang matang, bagaimana kita bisa memperbanyak produksi di masing-masing negara dan juga kemudian untuk aktif berinvestasi bersama-sama di kawasan yang lain. Sebagai contoh untuk minyak bumi itu kita ASEAN defisit, dan kita perlu invest bersama-sama di negara lain. Sebagai contoh di Afrika, di Timur Tengah, dan seterusnya," tuturnya.
Dia menyebut, negara-negara di regional Asia Tenggara ini juga tengah "memutar otak" untuk meningkatkan produksi LNG. Pasalnya, setelah 2032 ASEAN diperkirakan akan menjadi kawasan pengimpor gas.
"Kalau untuk LNG kita harapkan produksi harus terus naik, dan ekspektasinya setelah 2032 kita akan ASEAN akan net importer untuk gas," ucapnya.
"Yang kita bisa lakukan saat ini adalah kita percepat akselerasi seluruh proyek-proyek pengembangan gas alam kita. Mungkin Bapak dan Ibu familier dengan gas di Indonesia Timur ya, banyak. Jadi kalau kita lihat peta Indonesia, itu eksplorasi kita mengatakan bahwa di Indonesia Timur itu masih banyak sekali gas yang kita bisa monetize," bebernya.
Berdasarkan data Statistical Review of World Energy 2026, setidaknya sejumlah negara utama pengimpor gas alam, termasuk LNG, di ASEAN mengimpor sebesar 26,7 miliar meter kubik sepanjang 2025. Itu baru dari tiga negara saja, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Sementara Indonesia tercatat masih memproduksi gas 71,8 miliar meter kubik pada 2025 atau 1,7% dari total produksi gas alam dunia. Indonesia sampai saat ini belum mengimpor gas alam.
(wia)