Peternak Ayam Petelur Jabar Berguguran, Anggota Koperasi Sisa Setengah
Jakarta, CNBC Indonesia - Usaha peternakan ayam petelur di Jawa Barat kian tertekan. Dari sekitar 100 anggota Koperasi Produsen Peternak Sumedang Raya yang tersebar di 10 kabupaten, kini hanya sekitar setengahnya yang masih bertahan.
Sekretaris Koperasi Produsen Peternak Sumedang Raya Ikhwan mengatakan banyak peternak terpaksa menutup kandangnya setelah terus mengalami kerugian selama berbulan-bulan.
"Kerugian ini banyak sekali. Hari ini peternak tinggal di ujung tanduk, mereka sudah banyak yang tutup kandangnya. Kita punya anggota koperasi itu kurang lebih 100 orang, tersebar di 10 kabupaten di Jawa Barat. Hari ini mungkin tinggal sisa setengahnya," kata Ikhwan saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Ikhwan mengungkapkan, peternak telah merugi selama tujuh bulan terakhir. Kerugian tersebut dipicu harga jual telur yang berada di bawah biaya produksi, sehingga pendapatan dari penjualan telur belum mampu menutup ongkos usaha.
Ia menyebut harga pokok produksi (HPP) telur saat ini berada di kisaran Rp24.000 per kilogram. Sementara itu, harga jual di tingkat peternak di Jawa Barat hanya sekitar Rp20.000 per kilogram.
"Betul. Sudah 7 bulan kita rugi hampir kurang lebih Rp4.000 (per kilogram)," ujar dia.
Menurut Ikhwan, persoalan peternak tidak hanya terletak pada harga jual telur, tetapi juga kelebihan pasokan di pasar dan tingginya biaya bahan baku pakan. Kondisi ini membuat peternak kecil semakin sulit bersaing dengan pelaku usaha besar yang memiliki fasilitas produksi pakan, anak ayam, hingga obat-obatan sendiri.
Ia berharap pemerintah dapat membenahi tata kelola industri peternakan, menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan, serta memperbaiki keseimbangan pasokan dan permintaan telur, agar peternak dapat kembali menjalankan usaha secara berkelanjutan.
"Mudah-mudahanlah dengan ini bisa terselesaikan, tapi mungkin solusinya itu ya harus ditata. Itu yang pertama perusahaan yang besar-besar, yang kedua ketersediaan jagung, dan ketiga hilirnya telur," pungkasnya.
(dce)