3 Indikator Ini Kompak Naik, Menperin Pede Industri Kembali Ekspansi
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) M. Sarmuji menyebut sektor industri pengolahan kembali berada di fase ekspansi. Kondisi ini tecermin dari tiga indikator yang kompak menguat, yakni Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia, PMI S&P Global, dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI).
Hal itu disampaikan Sarmuji usai bertemu Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad H. Wibowo di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (27/10/2026), untuk membahas sumber-sumber pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Hari ini kita mendapatkan data yang sebenarnya cukup optimistik," ujar Sarmuji.
Berdasarkan data BI yang dirilis sehari sebelumnya, PMI pada kuartal III-2026 tercatat 52,28, atau di atas ambang batas 50 yang menandakan ekspansi. Angka itu naik dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 51,43 dan kuartal III-2025 sebesar 51,66.
Sementara itu, PMI manufaktur S&P Global pada September 2026 berada di level 52,4, kembali ke zona ekspansi setelah sempat terkontraksi di level 49,8 pada Agustus.
Adapun IKI September 2026 tercatat 51,93, naik dibandingkan bulan sebelumnya. Menurut Sarmuji, kenaikan ini menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ke depan.
"Itu artinya pelaku industri optimistis bahwa keadaan akan membaik di masa-masa yang akan datang," katanya.
Dradjad menambahkan, optimisme itu berlanjut pada Oktober. "Pelaku industri justru lebih optimis di bulan Oktober ini dibandingkan dengan di bulan September," ujarnya.
Sarmuji memperkirakan IKI akan terus naik hingga akhir tahun. Menurutnya, tren tersebut bisa semakin kuat bila gas bumi benar-benar direalokasikan untuk sektor industri dengan harga tertentu.
"Apalagi kalau betul gas direalokasikan untuk sektor industri. Mudah-mudahan dengan harga gas bumi tertentu itu akan menjadi dorongan yang sangat baik buat peningkatan sektor industri," ujarnya.
Pemerintah juga membuka peluang insentif tambahan bagi industri. Sarmuji mengatakan bentuknya masih akan dipetakan bersama Kemenko Perekonomian dan Kementerian Keuangan.
"Mumpung ada momentum kepercayaan industri lagi naik. Kalau bisa ada insentif tambahan agar sektor industri menjadi lebih bergairah lagi," katanya.
Di sisi lain, Sarmuji menyoroti tingkat utilisasi industri yang baru mendekati 70%. Pemerintah menargetkan angka tersebut naik ke 80%, bahkan 85%.
"Dengan meningkatkan utilisasi yang ada saja, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi maupun PDB akan sangat signifikan," ucapnya.
Ia menambahkan, serapan tenaga kerja di sektor industri juga menunjukkan peningkatan.
Adapun Wamenko Dradjad menyebut sejumlah sumber pertumbuhan yang bisa didorong, mulai dari makanan dan minuman, agro, hingga kawasan industri dan kawasan berikat. Menurutnya, momentum kenaikan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga bisa dimanfaatkan.
Ia pun menyamakan strategi ini dengan intensifikasi di sektor pertanian. "Di industri ini juga intensifikasi industri melalui peningkatan utilisasi," kata Dradjad.
(haa/haa)