Cara Ekonomi RI Bisa Tumbuh Kayak Korsel: Investasi di Riset!

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Senin, 26/10/2026 13:20 WIB
Foto: Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. (CNBC Indonesia/ Dova)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro mengungkap salah satu kunci untuk mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih maju seperti Korea Selatan, yakni memperbesar investasi di bidang penelitian dan pengembangan (research and development/R&D).

Menurut Bambang, Indonesia perlu mulai berinvestasi besar-besaran dalam riset dan inovasi agar mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi serta mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang telah berhasil mencapai status berpendapatan tinggi.

Dalam paparannya di acara Danantara TIIF 2026, Bambang menyoroti masih rendahnya rasio investasi riset Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, investasi R&D Indonesia baru sekitar 0,3% dari PDB.


Angka tersebut jauh di bawah Korea Selatan, yang menurut Bambang memiliki rasio investasi R&D sekitar 5,3% dari PDB, salah satu yang tertinggi di dunia.

"Ketika saya menjadi Menteri Riset, angkanya hanya 0,3% dari PDB. Kita perlu mulai berinvestasi besar-besaran dalam R&D," ujar Bambang.

Bambang menilai pengalaman Korea Selatan dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi riset dibutuhkan untuk mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan produk maupun jasa dengan nilai tambah lebih tinggi.

Menurutnya, model pertumbuhan ekonomi Asia pada masa lalu banyak bertumpu pada manufaktur dan ekspor. Strategi tersebut turut mendorong kemajuan Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia lainnya.

Namun, di tengah perubahan lanskap ekonomi global dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, manufaktur dan ekspor saja tidak cukup. Negara-negara Asia perlu mengembangkan model pertumbuhan baru yang menjadikan adaptasi teknologi dan inovasi sebagai penggerak utama.

"Model pertumbuhan Asia berikutnya harus didasarkan pada adaptasi teknologi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi," jelasnya.

Dia menegaskan, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah tidak hanya berlaku di sektor manufaktur, tetapi juga pertanian dan jasa. Untuk mencapai tujuan tersebut, adaptasi teknologi perlu ditopang oleh investasi riset dan pengembangan yang kuat.

AI Bikin Investasi Riset Makin Mendesak

Bambang juga mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan membawa perubahan besar terhadap kehidupan dan perekonomian dalam waktu relatif singkat.

Menurutnya, teknologi AI berpotensi memberikan dampak luas dalam waktu kurang dari satu dekade. Kondisi ini membuat Indonesia perlu mempersiapkan diri agar tidak tertinggal dalam persaingan teknologi global.

Dia membandingkan perkembangan AI dengan internet dan komputer yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memberikan dampak luas terhadap kehidupan manusia.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kemampuan mengadaptasi teknologi untuk kebutuhan domestik, meningkatkan produktivitas, serta menghasilkan inovasi perlu diperkuat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh berbagai sektor ekonomi.

Bambang juga menyoroti bahwa investasi riset di kawasan ASEAN secara umum masih relatif terbatas. Singapura, yang menjadi salah satu negara dengan rasio investasi R&D tertinggi di kawasan, memiliki rasio sekitar 1,5% dari PDB, masih jauh di bawah Korea Selatan.

Menurut Bambang, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya Indonesia mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap investasi riset dan inovasi.

Dia menilai peningkatan investasi R&D menjadi salah satu langkah penting bagi Indonesia untuk membangun ekonomi bernilai tambah tinggi dan meningkatkan daya saing di tengah perubahan teknologi global.

Dengan memperkuat riset, adaptasi teknologi, dan inovasi, Indonesia diharapkan dapat membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan ekspor manufaktur, tetapi juga meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan jasa.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AI Makin Digemari, Ketersediaan Air Kini Jadi Sorotan