Prabowo Terima Laporan Data Ekonomi RI Terbaru, Tertinggi di G20

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Jumat, 23/10/2026 18:15 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan perkembangan terkini ekonomi Indonesia dalam Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Rabu (21/10/2026). Airlangga menyebut ekonomi Indonesia terus tumbuh dan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.

"Ini ekonomi kita terus tumbuh di atas 5%, yaitu 5,45%, di mana ini lebih tinggi dari global rata-rata yang 3%. Dan kita di sini tertinggi di G20, Pak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN," kata Airlangga, mengutip siaran Sekretariat Presiden, Jumat (23/10/2026).


Selain pertumbuhan ekonomi, Airlangga juga memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan kondisi relatif terjaga, mulai dari inflasi, aktivitas manufaktur, perdagangan, hingga sektor keuangan.

Dari paparannya, tingkat inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,28%, yang artinya berada pada rentang 2,5% plus minus 1%.

"Memang kemarin agak kenaikan sedikit walaupun dalam range, tetapi ini hasil pertanian (penyumbang inflasi), yaitu cabai merah dan cabai keriting," kata Airlangga.

Lebih lanjut, dari sisi manufaktur, juga menujukan penguatan dengan Indeks Purchasing Managers Indeks (PMI) naik menjadi 52,4. Airlangga menjelaskan dengan capaian angka di atas 50 maka menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam zona ekspansi.

Adapun neraca perdagangan Indonesia juga tercatat masih surplus dengan besaran US$7,25 miliar. Kemudian indeks kepercayaan konsumen berada pada level 118,1, yang menunjukkan optimisme konsumen masih terjaga.

"Pengangguran sejak 1994, ini pengangguran terendah, Pak Presiden, 4,65%. Dan rasio gini juga terus membaik, 0,368," kata Airlangga.

Kemudian dari sisi fiskal, Airlangga mengatakan defisit APBN masih dijaga pada level 1,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sesuai dengan target pemerintah.

Dari sisi moneter, suku bunga acuan BI Rate juga masih ditahan pada level 5,75%. Yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat sebesar 7,21%, serta cadangan devisa negara yang mencapai US$146,3 miliar atau setara dengan pembiayaan impor selama 6,5 bulan.

"Cadangan devisa masih cukup membiayai 6,5 bulan impor, yaitu US$146,3 billion," katanya. Adapun kredit bank tumbuh double digit, 13,65% secara tahunan, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat Dana 10,94%.

"Modal perbankan juga solid, Pak Presiden, 24,10 dan kredit macet 2,11%, relatif kecil," lanjutnya.


(mij/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Masih Impor, Ini Efek Lonjakan Harga Minyak ke Industri-APBN