Internasional

Geger! Virus dari Hewan Ternak di Eropa Kini Menginfeksi Manusia

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 23/10/2026 06:05 WIB
Foto: Ilustrasi Virus. (Dok Pexels)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus Shamonda, yang selama ini dikenal menyerang hewan ternak, untuk pertama kalinya terdeteksi menginfeksi manusia di Prancis. Kasus ini menjadi perhatian otoritas kesehatan setelah pasien yang terinfeksi mengalami komplikasi neurologis dan meninggal dunia pada awal Oktober 2026.

Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan bahwa pasien tersebut memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh yang parah dan sedang menjalani perawatan untuk penyakit serius di kelompok rumah sakit Hospices Civils de Lyon. Otoritas masih menyelidiki hubungan antara infeksi virus tersebut dan kematian pasien.

Meski demikian, otoritas Prancis menyatakan belum menemukan bukti adanya risiko bagi masyarakat umum. Penyelidikan masih berlangsung untuk memahami bagaimana infeksi terjadi dan apakah virus yang selama ini dikenal menyerang hewan tersebut berpotensi menimbulkan kasus lain pada manusia.


Berikut fakta-fakta terkait virus Shamonda, seperti dikutip Anadolu Agency (AA), Jumat (23/10/2026).

Apa Itu Virus Shamonda?

Virus Shamonda merupakan jenis orthobunyavirus yang terutama menyebar melalui gigitan lalat penggigit berukuran kecil dari genus Culicoides. Virus ini termasuk dalam kelompok yang sama dengan virus Schmallenberg dan Akabane, yang diketahui menyebabkan penyakit pada hewan.

Virus Shamonda pertama kali terdeteksi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Setelah itu, virus ini dilaporkan muncul secara sporadis di sejumlah wilayah Afrika dan Asia, termasuk Jepang. Menurut Kementerian Pertanian Prancis, virus tersebut teridentifikasi di Eropa pada musim panas 2026, termasuk di Prancis, Jerman, dan Swiss.

Badan Kesehatan Hewan dan Tanaman Inggris (Animal and Plant Health Agency) juga mendeteksi virus tersebut pada sapi di Jersey pada Agustus 2026. Temuan ini menunjukkan bahwa virus Shamonda telah beredar di sejumlah wilayah Eropa sebelum kasus pertama pada manusia dilaporkan.

Cara Virus Ini Menginfeksi Manusia

Dalam kasus di Prancis, pasien mengalami komplikasi neurologis sebelum meninggal dunia. Otoritas menyebut komplikasi tersebut "sangat mungkin" berkaitan dengan infeksi virus Shamonda, meskipun hubungan sebab-akibatnya masih diteliti.

Para penyelidik menduga pasien terinfeksi melalui gigitan lalat Culicoides di wilayah Prancis bagian timur. Kawasan tersebut diketahui menjadi tempat peredaran virus pada hewan selama musim semi dan musim panas.

Menurut otoritas Prancis, karakteristik kasus ini memiliki kemiripan dengan infeksi pada manusia yang disebabkan oleh orthobunyavirus lain, termasuk virus Oropouche. Namun, kasus Shamonda ini menjadi perhatian khusus karena sebelumnya belum ada infeksi pada manusia yang tercatat.

Gejala Virus Shamonda pada Hewan

Pada sapi, infeksi virus Shamonda dapat menimbulkan demam, diare, kelesuan, dan penurunan produksi susu. Kementerian Pertanian Prancis menyebut gejala tersebut umumnya bersifat sementara.

Infeksi pada hewan yang sedang hamil juga dapat memicu gangguan reproduksi, termasuk keguguran dan kelainan pada janin. Dampak tersebut serupa dengan komplikasi yang dikaitkan dengan virus Schmallenberg.

Selain sapi, virus Shamonda juga pernah terdeteksi pada domba, kambing, kuda, dan alpaka di sejumlah negara Eropa. Temuan virus pada kuda yang mengalami gangguan neurologis di Jerman dan Swiss turut diselidiki untuk memastikan apakah infeksi tersebut berkaitan dengan gejala yang dialami hewan.

Penularan dan Risiko bagi Manusia

Virus Shamonda terutama ditularkan melalui gigitan lalat penggigit Culicoides. Menurut Kementerian Pertanian Prancis, hingga kini belum terdapat bukti penularan langsung antarhewan dalam skala signifikan, selain kemungkinan penularan dari induk yang sedang hamil kepada keturunannya.

Otoritas juga menyatakan belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan virus ini menular melalui daging, susu, atau produk olahan susu. Meski demikian, produk yang berasal dari hewan sakit tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

Sejauh ini, otoritas Prancis menyatakan belum ditemukan risiko bagi masyarakat umum berdasarkan pengetahuan yang tersedia. Namun, kasus pertama pada manusia tersebut masih diselidiki sehingga pemahaman mengenai risiko infeksi terhadap manusia belum sepenuhnya lengkap.

Belum Ada Vaksin Khusus

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk membasmi virus Shamonda pada hewan yang terinfeksi. Dokter hewan dapat memberikan perawatan untuk meredakan gejala, sedangkan peternak disarankan segera meminta bantuan jika sapi mengalami demam, diare, atau penurunan produksi susu.

Upaya pencegahan difokuskan pada pengurangan paparan lalat penggigit, antara lain dengan menghilangkan tempat perkembangbiakannya, seperti genangan air dan tumpukan kotoran basah. Pengendalian serangga pada kendaraan pengangkut hewan juga dianjurkan.

Pihak berwenang Prancis masih melakukan penyelidikan bersama para ahli kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Prancis juga telah memberitahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mengenai kasus tersebut.


(tfa/tfa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemukim Israel Menyerang Wali Kota Prancis di Tepi Barat