Airlangga Pede Ekonomi RI Bisa Tumbuh 7,5%, Ini Kuncinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini ekonomi Indonesia bisa tumbuh mencapai level 7,5%. Menurutnya, hal ini dapat terjadi didukung dengan investasi dan tingkat efisiensi investasi atau yang disebut dengan Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
Sebagai informasi, ICOR adalah indikator ekonomi makro yang mengukur tingkat efisiensi suatu investasi dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Semakin kecil ICOR, maka semakin efisien karena memerlukan modal kecil untuk menghasilkan pertumbuhan yang besar.Â
Airlangga mengatakan hal ini bisa dilakukan bila realisasi investasi di Indonesia mencapai 30% dari produk domestik bruto (PDB). Adapun, pemerintah menetapkan target investasi Rp2.041,3 triliun pada 2026. Dari Januari-September 2026, realisasi investasinya adalah Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target.
Tak hanya itu, Airlangga mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5% bisa dicapai dengan tingkat ICOR 4%. Saat ini, Indonesia memiliki ICOR pada level 6,1%. Adapun, angka ICOR yang tinggi menunjukkan tingkat efisiensi investasi yang rendah. Meski demikian, Airlangga mengatakan tingkat ICOR di kawasan ekonomi khusus Indonesia saat ini mencapai 2,3%.
"Kalau kita mau meningkatkan ICOR, salah satunya adalah efisiensi baik di kawasan ekonomi khusus maupun di kawasan industri. Kalau sekarang dengan investasi sekitar 30% dari PDB, kalau ICOR kita sekitar 4 saja, maka pertumbuhan 7,5% itu bisa dicapai," ujar Airlangga kepada awak media di kantornya, Rabu (21/10/2026).
Meski demikian, Airlangga tidak mengelaborasi dengan spesifik kapan Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5% tersebut. Adapun, Indonesia memang belum mampu untuk keluar dari angka pertumbuhan ekonomi 5% dalam beberapa tahun terakhir.
Misalnya, Indonesia tumbuh 5,31% pada 2022; 5,05% pada 2023; 5,03% pada 2024; dan 5,11% pada 2025. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah juga menetapkan pertumbuhan ekonomi pada level 5,4%. Di sisi lain, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memang menargetkan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 8%.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Aliansi KEK Indonesia Didik Purbadi mengatakan tingkat ICOR dan pertumbuhan ekonomi di kawasan ekonomi khusus memang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Menurutnya, hal ini sudah terjadi sejak Pandemi Covid-19.
"Terbukti kawasan ekonomi khusus sejak pandemi bahkan sampai saat ini, ICOR kita dan pertumbuhan ekonomi kita yang berada di kawasan ekonomi khusus lebih tinggi daripada perekonomian di rata-rata nasional," ujar Didik.
(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]