Internasional

Amerika Terancam Krisis, Bisa Chaos Besar-Besaran Bak Prancis

tfa, CNBC Indonesia
Rabu, 21/10/2026 12:40 WIB
Foto: Bendera Amerika Serikat berkibar setengah tiang di depan Gedung Putih untuk mengenang Dolly Parton, setelah diumumkan bahwa ikon musik country tersebut meninggal dunia pada usia 80 tahun, di Washington, D.C., AS, 25 Agustus 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kerusuhan di Prancis bisa saja menjalar di Amerika Serikat (AS). Paman Sam bahkan berpotensi menghadapi krisis besar-besaran yang membuat marah warga.

Hal ini setidaknya diutarakan sejumlah pengamat mengutip CNN International, Rabu (21/10/2026). Dari segi masalah ekonomi, AS dan Prancis kini cenderung memiliki kesamaan.


Dilaporkan bagaimana AS menghadapi tekanan fiskal yang semakin berat, utang pemerintahh membengkak, ditambah biaya pembayaran bunga. Situasi ini mengingatkan pada krisis anggaran yang sedang membelit Prancis, meski sejumlah keunggulan ekonomi membuat AS belum berada dalam kondisi darurat yang sama.

"Situasinya telah mencapai titik di mana masalah ini tidak bisa lagi diabaikan," ujar Peter Taylor-Gooby, profesor kebijakan sosial di University of Kent, seperti dikutip CNN International, Rabu (21/10/2026).


"Jika terus diabaikan, kita akan menghadapi krisis yang serius," tambahnya.

Perlu diketahui, Prancis menghadapi tekanan besar dengan utang pemerintah yang mencapai sekitar 119% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini hampir dua kali lipat dari batas acuan Uni Eropa.

Defisit anggarannya juga mencapai 5,4% dari PDB, membuat pemerintah menghadapi pilihan sulit antara menaikkan pajak dan memangkas belanja. Kedua langkah tersebut berisiko memicu penolakan publik di tengah situasi politik yang terpecah.

Tekanan ini juga terlihat di AS. Utang pemerintah AS mencapai sekitar US$32 triliun (Rp576 kuadriliun) sementara defisit anggarannya mencapai US$2 triliun (Rp36 kuadriliun). Biaya bunga utang bahkan telah menembus US$1 triliun (Rp18 kuadriliun) per tahun. Angka ini setara dengan 14% dari total anggaran federal.


Tapi AS Lebih Unggul?

Meski demikian, AS memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya lebih mampu menanggung beban utang. Dolar masih menjadi mata uang cadangan utama dunia sementara obligasi pemerintah AS (Treasuries) banyak diminati investor sebagai aset aman ketika pasar bergejolak.

Permintaan tersebut membantu pemerintah AS memperoleh pembiayaan dengan biaya yang relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah negara Barat lainnya. Ukuran ekonomi AS yang besar dan beragam juga menjadi penyangga di mana investasi kecerdasan buatan (AI), khususnya, dinilai mampu menopang pertumbuhan ekonomi ketika sejumlah sektor lain mengalami perlambatan.

"Prancis dan Inggris berada dalam posisi yang cukup mirip," kata kepala ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi.

"Namun, di Amerika Serikat, kontribusi AI terhadap pertumbuhan ekonomi membuat negara ini lebih mampu mengelola utangnya," tambahnya.

Tetap Berisiko

Namun, keunggulan tersebut bukan berarti AS bebas dari risiko. Zandi mengingatkan bahwa kondisi fiskal Amerika hanya relatif lebih baik dibandingkan Prancis dan Inggris, bukan berarti pemerintah dapat mengabaikan persoalan utang.

"Jika pertumbuhan ekonomi melambat sementara biaya bunga tetap tinggi, beban pembayaran utang dapat semakin menekan anggaran federal," ujarnya lagi.

Di Eropa, para ekonom menilai tekanan fiskal Prancis sejauh ini belum tentu menular menjadi krisis di seluruh kawasan. Bank Sentral Eropa memiliki instrumen untuk meredam gejolak pasar obligasi jika diperlukan, sementara sejumlah negara Eropa lainnya memiliki defisit yang lebih rendah.

Risiko utama Prancis masih dinilai berpusat pada persoalan anggaran dan kebuntuan politik di dalam negeri. Namun ancaman lain bagi AS muncul dari persoalan batas utang pemerintah atau debt ceiling.

Kongres harus mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas tersebut agar pemerintah tetap dapat memenuhi kewajiban pembayarannya. Kebuntuan politik berisiko membuat pemerintah kehabisan ruang untuk membayar utang, meskipun secara ekonomi AS sebenarnya memiliki kemampuan untuk melunasinya.

"Kita bisa membayangkan skenario di mana batas utang terlampaui menjelang perayaan Halloween tahun depan," ujar Zandi.

Jika itu terjadi, AS dapat menghadapi gejolak serius di pasar keuangan. Dengan demikian, meski belum berada di ambang krisis seperti Prancis, besarnya utang dan polarisasi politik tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan Washington.


(tfa/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Prancis Berlakukan Jam Malam Usai Kerusuhan