Eropa Ngeri! 2 Negara Dibayangi Krisis Utang, Jadi Bom Waktu
Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis utang kini menghantui negara Eropa. Setelah Prancis, kini giliran Italia yang disorot.
Rencana peningkatan belanja pemerintah yang memperlebar defisit anggaran memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi fiskal negara itu. Goldman Sachs memperingatkan, kenaikan defisit anggaran dan imbal hasil obligasi berpotensi mendorong rasio utang Italia terhadap produk domestik bruto (PDB) terus meningkat hingga 2028, diperkirakan menjadi yang tertinggi di Eropa.
Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Giorgia Meloni pada 2 Oktober menyetujui tambahan pembiayaan sebesar 28 miliar euro atau sekitar US$31 miliar untuk belanja pertahanan dan energi selama dua tahun ke depan. Peningkatan belanja tersebut membuat target defisit Italia pada 2027 naik menjadi 3,4% dari PDB, sedangkan pada 2028 menjadi 3,2%.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya pada April. Di mana-mana masing-masing sebesar 2,8% dan 2,5%.
Filippo Taddei, ekonom senior Eropa di Goldman Sachs, menilai perubahan target tersebut menjadi kejutan signifikan yang berpotensi menambah tekanan terhadap obligasi pemerintah Italia. Dalam catatannya pada Kamis, Taddei menyebut kombinasi kebijakan fiskal yang lebih longgar, kondisi keuangan yang semakin ketat, dan persaingan pemilihan umum yang ketat dapat memperburuk prospek utang Italia setelah empat tahun konsolidasi fiskal.
Goldman Sachs memperkirakan rasio utang terhadap PDB Italia akan bergerak naik hingga 2028 sebelum stabil di sekitar 137%. Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi yang tertinggi di Eropa pada periode itu.
Risiko semakin besar apabila imbal hasil obligasi pemerintah Italia untuk tenor 10 tahun bertahan di atas 4%. Menurut Taddei, perubahan struktural menuju tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari ambang tersebut berpotensi membuat rasio utang Italia terus meningkat setelahnya.
Bayang-Bayang Krisis Utang Prancis
Kekhawatiran terhadap Italia muncul ketika pasar obligasi Eropa masih menghadapi tekanan akibat kondisi fiskal Prancis. Pada Jumat, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun tercatat sekitar 4,85%, sedangkan obligasi Italia dengan tenor yang sama berada di kisaran 4,55%.
Selisih imbal hasil obligasi Italia terhadap obligasi acuan Jerman mencapai sekitar 108 basis poin. Imbal hasil obligasi yang meningkat mencerminkan tuntutan kompensasi lebih besar dari investor untuk memegang surat utang.
Ini dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah, terutama bagi negara dengan beban utang tinggi. Italia juga menghadapi ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum berikutnya yang harus digelar paling lambat 22 Desember 2027.
Menurut Goldman Sachs, persaingan pemilu yang ketat dapat menyulitkan pemerintah berikutnya mengambil langkah konsolidasi fiskal. Partai-partai dari kubu kanan maupun kiri berpotensi mengajukan tambahan belanja demi membangun koalisi pemerintahan.
Di sisi lain, pemerintahan Meloni sebelumnya memperoleh apresiasi pasar setelah berhasil menurunkan defisit anggaran Italia, yang tercatat sebesar 3,1% dari PDB pada 2025. Stabilitas politik di bawah kepemimpinannya turut membantu memperbaiki sentimen investor terhadap obligasi Italia.
Tambahan belanja pertahanan dan energi tersebut juga diperbolehkan melalui klausul pengecualian nasional Uni Eropa (National Escape Clause), yang memberikan fleksibilitas anggaran sementara bagi negara anggota untuk menghadapi guncangan, termasuk dampak perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
Italia Dinilai Masih Lebih Kuat dari Prancis?
Meski menghadapi risiko kenaikan utang, sejumlah investor menilai posisi Italia belum tentu lebih buruk dibandingkan Prancis. Konstantin Veit, manajer portofolio di PIMCO, mengatakan obligasi pemerintah Italia memiliki karakteristik yang relatif lebih mendukung karena sebagian besar dimiliki investor domestik.
Kondisi tersebut dapat menjadi faktor penstabil ketika pasar mengalami tekanan. Sebaliknya, kepemilikan obligasi Prancis yang lebih luas di kalangan investor asing dinilai membuat pasar lebih rentan terhadap perubahan sentimen global.
Veit juga menyoroti sejumlah faktor pendukung Italia, termasuk keseimbangan anggaran primer yang lebih kuat, arah fiskal yang relatif menguntungkan, stabilitas politik, serta rekam jejak pemerintah dalam mengambil keputusan fiskal yang sulit. Namun, risiko terhadap obligasi Italia tetap menjadi perhatian investor.
Kepala strategi suku bunga Eropa di UBS Investment Bank, Reinout De Bock, sebelumnya mengambil posisi jual (short position) pada obligasi pemerintah Italia atau BTP. Strategi tersebut mencerminkan pandangan bahwa surat utang Italia berpotensi menjadi titik lemah berikutnya di pasar obligasi pemerintah Eropa.
De Bock menilai investor dapat semakin mencermati risiko Italia seiring tingginya imbal hasil obligasi, meskipun negara tersebut telah menjalankan berbagai reformasi. Dengan demikian, meski Italia masih memiliki sejumlah penopang fundamental, pelebaran defisit, tingginya beban utang, dan ketidakpastian politik berpotensi menjadi kombinasi risiko yang perlu dicermati pasar menjelang 2028.