MARKET DATA
Internasional

Putin "Turun Gunung" Bawa Pesan Iran ke Trump, Perang Bisa Selesai

sef,  CNBC Indonesia
12 October 2026 05:30
Traditional Russian wooden nesting dolls, Matryoshka dolls, depicting Russian President Vladimir Putin (R) and US President Donald Trump (L) are displayed for sale in a shop at Izmailovo market in Moscow on February 10, 2026. (Photo by Hector RETAMAL
Foto: AFP/HECTOR RETAMAL

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan telah menyampaikan pandangan Teheran mengenai kemungkinan mengakhiri perang Iran kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Langkah ini membuka perhatian baru terhadap peran Moskow di tengah konflik yang terus mengguncang pasar energi dunia.

Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Putin menyampaikan pesan tersebut dengan persetujuan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kantor berita Rusia, Interfax, mengutip pernyataan Peskov terkait komunikasi tersebut.

Sementara itu, laporan media Rusia lainnya menyebut Putin berbicara melalui telepon dengan Trump setelah bertemu Pezeshkian di sela-sela sebuah pertemuan tingkat tinggi di Turkmenistan. Namun, belum ada perincian mengenai usulan Iran untuk mengakhiri konflik tersebut di mana Gedung Putih juga belum segera memberikan konfirmasi atas laporan mengenai percakapan antara Putin dan Trump.

Perang Iran bermula pada 28 Februari 2026, setelah serangan udara AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran. Sejak itu, konflik berkembang menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasokan energi global.

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mengintensifkan serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi internasional.

Rusia Siap Pasok Jutaan Ton Diesel

Mengutip CNBC International Senin (12/10/2026), laporan mengenai pesan Iran tersebut muncul sehari setelah Trump mengumumkan bahwa Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton diesel ke pasar global. Trump mengatakan kesepakatan itu dicapai bersama Putin melalui percakapan telepon.

Pasokan tersebut diharapkan membantu meredakan tekanan terhadap pasar bahan bakar ketika perang di Iran dan Ukraina mendorong kenaikan harga energi. Dalam unggahan di Truth Social pada Jumat, Trump menyebut Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton diesel, disusul 500.000 ton pada November dan 1 juta ton setelahnya.

Rusia kemudian akan mengirimkan tambahan 3 juta ton diesel, bergantung pada kondisi kilang minyak negara tersebut. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap diesel Rusia hingga April 2027 melalui izin umum yang diterbitkan Departemen Keuangan AS pada Jumat.

Langkah tersebut menjadi sorotan. Pasalnya Washington sebelumnya menerapkan berbagai sanksi terhadap sektor energi Rusia menyusul perang Ukraina.

Ukraina Kritik Kesepakatan Trump-Putin

Kesepakatan pasokan diesel itu langsung menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Zelenskyy memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi tanpa komitmen Rusia untuk meredakan perang justru berisiko memperpanjang konflik.

Dalam unggahan di media sosial, ia menilai pemberian kelonggaran kepada Moskow tidak akan membawa perdamaian dan justru dapat membantu membiayai perang Rusia. Harga diesel dunia melonjak di tengah gangguan pasokan energi.

Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang-kilang Rusia, sementara Iran dan kelompok Houthi yang bersekutu dengannya juga menyerang fasilitas energi di Timur Tengah. Kondisi tersebut mempersempit pasokan bahan bakar global ketika kebutuhan pasar masih tinggi.

Selat Hormuz Jadi Titik Rawan

Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar minyak dunia. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.

Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Rabu juga menyatakan bahwa Teheran akan memblokir seluruh jalur yang dianggap ilegal di Selat Hormuz.

Sementara itu, ekspor minyak mentah dari Timur Tengah pada September dilaporkan kembali mencapai tingkat sebelum perang.

Pemulihan ini antara lain didukung pengawalan militer AS terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di sepanjang pesisir Oman. Kesepakatan sementara yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni untuk menghentikan permusuhan dan membuka ruang negosiasi sebelumnya juga tidak bertahan lama.

Di tengah situasi tersebut, Trump menghadapi tekanan politik domestik untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November. Dengan belum adanya rincian usulan Iran yang disampaikan Putin, peluang penyelesaian perang masih belum jelas.

Namun, komunikasi antara Moskow dan Washington, bersamaan dengan kesepakatan pasokan diesel Rusia, menempatkan diplomasi dan energi sebagai dua isu yang saling berkaitan dalam perkembangan konflik tersebut.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin Janji Turun Tangan Bantu Iran di Perang dengan Amerika


Most Popular
Features