Gak Cuma Nikel, Nilai Ekspor Hilirisasi Aluminium Melejit Rp129 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan laporan kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait hilirisasi di Indonesia. Diantaranya adalah hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium dan juga hilirisasi komponen baterai lithium.
Yang menarik, selain dari hilirisasi nikel, nilai dari ekspor hasil hilirisasi aluminium juga mengalami lonjakan yang signifikan di 2026 ini. Tercatat, nilai ekspor hilirisasi aluminium bisa tembus US$ 7 miliar - US$ 7,2 miliar atau RP 129,6 triliuan (kurs Rp18.000 per US$) dari yang sebelumnya hanya US$3,5 miliar di tahun 2024.
"Hilirisasi aluminium ini meningkat cukup signifikan dan kita perkirakan angka ekspor untuk produk-produk aluminium pada tahun ini menjadi sekitar US$ 7 miliar - US$ 7,2 dolar dari sekitar US$ 3,5 miliar pada tahun 2024," terang Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto di Istana Negara, dikutip Rabu (21/10/2026).
Ke depan, DEN memprediksi nilai ekspor hilirisasi aluminium bisa tembus hingga US$10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia.
Selain nikel dan aluminium, Seto menegaskan, bahwa saat ini Indonesia menjadi salah satu sumber produsen untuk komponen baterai lithium, seperti anoda, katoda baterai, bahkan juga sudah memiliki lithium refinery, di mana yang sejatinya Indonesia tidak memiliki lithium.
"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lengkap," tegas Seto.
Dalam hitungan DEN, sampai dengan akhir tahun ini, hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium dan hilirisasi komponen lithium baterai itu nilai akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45% disbanding ekspor pada tahun 2024.
"Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) karena selama 2 tahun periode pemerintahan beliau ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45%. 2026, US$ 50 miliar dolar dan tadi 2024 sekitar US$ 34,5 miliar," tutup Seto.
(pgr/pgr)