MARKET DATA

Prabowo Segera Resmikan Pabrik Baterai EV Terbesar ke-2 RI

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
20 October 2026 18:35
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). (Dok. DHL)
Foto: Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). (Dok. DHL)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto rencananya akan dijadwalkan untuk meresmikan mulai beroperasinya pabrik baterai kendaraan listrik (EV) di Karawang, Jawa Barat, dalam waktu dekat ini.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia di Istana Negara, Senin (19/10/2026).

"Nah, untuk urusan hilirisasi di sektor nikel berjalan dengan baik. Kemarin Bapak Presiden meresmikan beberapa pabrik di Wedabay di Maluku Utara. Dan sebentar lagi kita akan melakukan peresmian pabrik ekosistem baterai mobil di Karawang yang satu tahun lalu Bapak Presiden melakukan groundbreaking. Itu adalah kerja sama antara CATL dan BUMN kita," ungkap Bahlil.

Adapun, pabrik baterai EV ini dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).

Pabrik Sudah Beroperasi

Indonesia Battery Corporation (IBC) sempat membeberkan bahwa pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, sudah mulai beroperasi sejak Juli 2026.

PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara IBC dan CBL, anak usaha produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, fasilitas produksi di Karawang tersebut menghasilkan baterai kendaraan listrik, serta sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS).

"Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi sudah memang sudah beroperasi sejak bulan Juli. Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS, Battery Energy Storage System," jelasnya dalam Sosialisasi MediaMind 2026, di Energy Building, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Aditya memaparkan bahwa pabrik tersebut memiliki kapasitas yang direncanakan untuk diekspansi hingga mencapai setidaknya 15 Giga Watt hour (GWh). Saat ini tahap pertama sudah dibangun dengan kapasitas 6,9 GWh.

Total investasi untuk pengembangan pabrik baterai hingga kapasitas 15 GWh tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,2 miliar setara Rp 21,19 triliun (asumsi kurs Rp 17.662 per US$).

Adapun, kapasitas 15 GWh itu setara bisa untuk memberi daya sekitar 250.000 kendaraan listrik.

Pembangunan pabrik yang berada di Artha Industrial Hill (ALH) & Karawang New Industry City (NICC) Karawang, Jawa Barat ini dimulai pada 29 Juni 2025. Prabowo meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking saat itu.

Dengan beroperasinya pabrik pada Juli 2026 ini, maka artinya pembangunan pabrik ini "hanya" membutuhkan waktu sekitar 13 bulan.

Ini merupakan pabrik baterai kendaraan listrik kedua setelah pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang beroperasi dan diresmikan pada Juli 2024 lalu.

Pabrik baterai terintegrasi CATIB di Karawang tersebut dibangun dalam wilayah yang mencakup pabrik cell sepanjang 1 KM serta fasilitas packing di sebelahnya. Dalam proses produksinya, masukan material baterai diolah menjadi bentuk cell sebelum dilakukan pengemasan di fasilitas packer.

"Jadi yang panjang ini adalah cell, panjangnya 1 km dari ujung sampai ke ujung. Masukan dari pabrik ini adalah material baterai kemudian diolah menjadi dibentuk menjadi cell, kemudian dilakukan packing di fasilitas packer-nya," ujarnya.

Dalam menunjang operasional pabrik, IBC telah menjalankan program transfer pengetahuan (knowledge transfer) dengan mengirimkan 600 pegawai untuk mengikuti pelatihan di Tiongkok.

Selain itu, sebagai komitmen terhadap aspek lingkungan, IBC berencana menginstalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MW peak pada 2027.

Di samping proyek Karawang, IBC bersama CATL juga mengembangkan proyek material baterai di Halmahera dengan nilai investasi US$ 600 juta atau setara Rp 10,59 triliun.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Produksi Bahan Baku Baterai RI Diperkirakan Naik 2x di 2027


Most Popular
Features