Sukabumi & Bogor Waspada Gempa Kecil-Dangkal, Udah Rusak Ratusan Rumah

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 19/10/2026 12:55 WIB
Foto: Beberapa rumah mengalami kerusakan usai diguncang gempa yang melanda wilayah bogor dengan kekuatan 4,1 Magnitudo dengan kedalaman 5 Km pada Kamis (15/10/2026). (Dok. BPBD Bogor via Detikcom)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua kejadian gempa dengan waktu berdekatan mengguncang wilayah Bogor, Jawa Barat pada hari Kamis, 15 Oktober 2026 lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi, gempa tersebut merusak ratusan rumah dan beberapa rumah ibadah di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu menjelaskan, gempa pertama terjadi pada pukul 17.49.43 WIB dengan magnitudo M3,5, kemudian disusul gempa kedua pada pukul 17.58.23 WIB dengan magnitudo M4,1. Kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal, masing-masing pada kedalaman 9 km dan 5 km.

Kata dia, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kedua gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif.


Dalam keterangan resminya, Ayu mengungkapkan hasil monitoring BMKG yang mencatat, setidaknya terjadi sebanyak 11 kali kejadian gempa susulan (after shock) setelah kedua gempa utama tersebut. Dengan magnitudo berkisar M1,6-M2,6, dua kejadian dilaporkan dirasakan masyarakat.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi saat dua gempa utama dan gempa-gempa susulan mengguncang Bogor pada hari Kamis lalu? Kenapa sampai merusak ratusan rumah?

Gempa bumi mengguncang wilayah Kota Bogor dengan kekuatan 4,1 Magnitudo dengan kedalaman 5 Km pada Kamis (15/10/2026). (Dok. BMKG) Foto: Gempa bumi mengguncang wilayah Kota Bogor dengan kekuatan 4,1 Magnitudo dengan kedalaman 5 Km pada Kamis (15/10/2026). (Dok. BMKG)

Waspada Gempa Kecil Merusak di Sukabumi dan Bogor

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan, gempa merusak tidak selalu harus bermagnitudo besar. Gempa kecil, imbuh dia, juga dapat memicu dampak yang tidak selalu kecil.

"Peristiwa gempa di wilayah Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, pada Kamis sore, 15 Oktober 2026, menjadi pengingat penting bahwa gempa kecil dan dangkal yang terjadi dekat permukiman dapat merusak ratusan rumah serta memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya," tukasnya.

"Meski magnitudonya relatif kecil, dampak gempa cukup signifikan," sambungnya.

Hal itu, jelasnya, karena dari perspektif seismologi, kedua gempa termasuk jenis shallow crustal earthquake, yaitu gempa tektonik yang sumbernya berada pada kerak bumi bagian dangkal.

"Aktivitas ini diduga kuat berkaitan dengan pergerakan sesar aktif di sekitar Kabandungan. Namun, identifikasi sesar penyebab secara definitif memerlukan analisis lebih lanjut terhadap lokasi hiposenter, mekanisme sumber, dan kondisi tektonik setempat," paparnya.

Menurut Daryono, ada 3 faktor yang dapat menjelaskan kerusakan akibat gempa bermagnitudo kecil tersebut.

Pertama, sumber gempa sangat dangkal. Kedalaman hiposenter hanya 5-9 km, sehingga energi gelombang seismik menempuh lintasan relatif pendek menuju permukaan. Pada lokasi yang dekat dengan sumber, guncangan dapat terasa kuat meskipun magnitudo gempa kecil.

Kedua, kerentanan struktur bangunan. Rumah dengan konstruksi yang tidak memenuhi prinsip bangunan tahan gempa, seperti sambungan antarelemen struktur yang lemah, tidak adanya pengikat struktural yang memadai, serta kualitas material yang rendah, lebih mudah mengalami kerusakan ketika menerima guncangan.

Ketiga, pengaruh kondisi tanah setempat atau local site effect. Lapisan tanah lunak atau endapan lepas tertentu dapat memperkuat amplitudo guncangan seismik (seismic amplification).

"Dalam kondisi tertentu, kesesuaian frekuensi dominan getaran tanah dengan frekuensi alami bangunan dapat meningkatkan respons getaran melalui fenomena resonansi," ujarnya.

"Pengaruh ini perlu dibuktikan melalui kajian kondisi tanah dan respons seismik setempat. Dengan demikian, tingkat kerusakan merupakan hasil interaksi antara karakteristik sumber gempa (source), perambatan gelombang (path), kondisi tanah (site), dan kerentanan bangunan (structural vulnerability)," kata Daryono.

Daryono pun mengingatkan, Sukabumi dan Bogor harus mewaspadai gempa-gempa dangkal karena daerah tersebut ada di lingkungan tektonik Jawa Barat yang kompleks, dengan keberadaan sejumlah sesar aktif.

"Karena itu, ancaman gempa tidak hanya berasal dari zona megathrust di selatan Jawa, tetapi juga dari aktivitas sesar aktif di daratan yang dapat menghasilkan gempa dangkal dekat kawasan permukiman," katanya.

"Pengalaman gempa merusak di wilayah ini jadi pelajaran bahwa gempa kecil sekalipun tidak boleh diremehkan. Terutama jika sumbernya dangkal, dekat permukiman, dan bangunan memiliki kerentanan tinggi," ucap Daryono.

Di sisi lain, dia menegaskan, kejadian gempa kecil tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan akan terjadinya gempa yang lebih besar.

"Waktu, lokasi, dan magnitudo gempa berikutnya belum dapat diprediksi secara tepat," ujarnya.

Gempa bumi pertama yang mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi dengan kekuatan 3,5 Magnitudo dengan kedalaman 10 Km pada Kamis (15/10/2026). (Dok. BMKG) Foto: Gempa bumi pertama yang mengguncang wilayah Kabupaten Sukabumi dengan kekuatan 3,5 Magnitudo dengan kedalaman 10 Km pada Kamis (15/10/2026). (Dok. BMKG)

Sejarah Gempa Merusak di Sukabumi dan Bogor

Menurut Daryono, wilayah Sukabumi dan Bogor memiliki sejarah panjang kejadian gempa bumi merusak.

"Catatan historis menunjukkan bahwa sejak tahun 1780 hingga 2026, kawasan ini telah berulang kali mengalami gempa yang mengakibatkan kerusakan bangunan, bahkan menimbulkan korban luka," kata Daryono, dikutip Senin (19/10/2026).

"Sejumlah gempa dengan magnitudo relatif kecil hingga menengah juga tercatat menyebabkan kerusakan cukup signifikan," tambah dia.

Hal ini, jelasnya, menunjukkan risiko gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga oleh kedalaman dan jarak sumber gempa, kondisi geologi setempat, serta kualitas bangunan.

"Sejarah kegempaan ini menjadi pengingat penting bahwa Sukabumi dan Bogor merupakan wilayah yang memerlukan perhatian serius dalam mitigasi gempa bumi," ucap Daryono.

"Terutama melalui penguatan bangunan tahan gempa, pemetaan zona rawan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat," tegasnya.

Daftar Kejadian Gempa Merusak di Sukabumi dan Bogor

Daryono membeberkan rentetan peristiwa gempa merusak yang pernah mengguncang wilayah Sukabumi dan Bogor:

- 22 Januari 1780: merusak banyak rumah
- 11 Oktober 1834: merusak banyak rumah di Sukabumi, Bogor, Cianjur
- Tahun 1879: merusak ratusan rumah
- 26 Desember 1973: merusak beberapa rumah
- 14 Juni 1900: banyak rumah rusak
- 23 Februari 1903: merusak rumah di Sukabumi & Bogor
- 21 Januari 1912: banyak rumah rusak
- 2 November 1969 (M5,4): banyak rumah roboh
- 26 November 1973: banyak rumah rusak
- 10 Februari 1982 (M5,5): banyak rumah rusak & 17 orang luka-luka
- 12 Juli 2000 (M5,4 dan M5,1): sebanyak 1.900 rumah rusak
- 12 Juni 2011 (M4,9): 136 rumah rusak
- 4 Juni 2012 (M6,1): 104 rumah rusak
- 8 September 2012 (M5,1): 560 rumah rusak
- 11 Maret 2020 (M5,1): 760 rumah rusak
- 15 Oktober 2026 (M4,1) ratusan rumah rusak.

Lantas, apa langkah mitigasi yang harus dilakukan?

Kata Daryono, langkah mitigasi paling penting adalah meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa.

"Rumah harus dibangun dengan struktur yang kuat, material berkualitas, fondasi sesuai kondisi tanah, serta hubungan antarelemen struktur yang baik. Pembangunan dan perkuatan rumah perlu mengikuti standar teknis bangunan tahan gempa yang berlaku," cetusnya.

"Bangunan yang sudah mengalami kerusakan perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum ditempati kembali. Terutama jika ditemukan retakan pada elemen struktur, pergeseran dinding, atau kerusakan pada kolom dan balok. Masyarakat juga perlu memahami tindakan perlindungan diri saat gempa, mengenali tempat aman, mengamankan perabot yang berpotensi roboh, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan arahan pemerintah daerah," kata Daryono.

Dia pun mengingatkan, gempa memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko korban jiwa dan kerusakannya dapat dikurangi.

"Pengalaman Sukabumi dan Bogor mengingatkan kita, ancaman bukan hanya datang dari gempa besar, melainkan juga dari gempa kecil yang sumbernya sangat dangkal dan berada dekat permukiman," pungkas Daryono.


(dce/dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gempa Bumi M 5,2 Goyang Jawa Timur, Terasa Hingga Bali