MARKET DATA

Penyebab Megathrust Sampai Gempa Kerak Dangkal Kepung Jakarta-Jabar

Damiana,  CNBC Indonesia
03 September 2026 12:20
Ilustrasi gempa bumi. (Dok. bpbd.bandaacehkota.go.id)
Foto: (Dok. bpbd.bandaacehkota.go.id)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa berkekuatan M4,3 mengguncang wilayah wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan sekitarnya pada Selasa, 01 September 2026 pukul 17:53:11 WIB.

Hasil analisis BMKG menunjukkan, gempa bumi ini memiliki episenter di koordinat 6,91 LS dan 107,10 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 10 km Barat Daya Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada kedalaman 4 km.

Menurut BMKG, gempa dipicu aktivitas Sesar Aktif. Gempa itu dirasakan warga di Sukabumi, Bandung, Sukaraja, hingga Jakarta. Menurut kesaksian warga, goyangan akibat gempa itu terasa signifikan.

Pascagempa itu, Sesar Lembang menjadi sorotan.

Apa dan di mana itu Sesar Lembang?

Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Sesar Lembang adalah patahan aktif sekitar 29 km yang membentang dari Gunung Manglayang hingga Padalarang. Sebagai sesar aktif, keberadaannya memiliki potensi menimbulkan gempa bumi apabila terjadi pergerakan lempeng.

Lantas, apa hubungannya gempa yang mengguncang wilayah Jakarta-Jawa Barat dan sekitarnya?

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengatakan, kawasan Jakarta dan Jawa Barat secara tektonik berdiri di atas zona transisi yang sangat aktif akibat subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

"Kompleksitas tatanan tektonik ini membentuk dua ancaman utama kegempaan," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/9/2026).

"Ancaman intraslab dan sesar darat aktif (crustal fault) yang mengepung wilayah daratan. Serta, ancaman megathrust di lepas pantai selatan Jawa," sambung Daryono.

Di daratan, jelasnya, Jakarta dan wilayah sekitarnya dipengaruhi oleh akumulasi regangan (strain) dari jaringan sesar aktif darat.

"Sesar Lembang di utara Bandung menjadi salah satu yang paling disorot karena memiliki laju pergeseran (slip rate) sekitar 3-6 mm/tahun dengan potensi magnitudo hingga M6,8," ujarnya.

Namun, imbuh dia, ancaman tidak berhenti di situ.

Tatanan tektonik Jawa Barat bagian barat, sambung Daryono, juga diapit oleh Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, hingga Sesar Cugenang, Cileunyi-Tanjungsari, Cipamingkis dan Garut Selatan (Garsela).

"Sesar Baribis, khususnya segmen Jakarta-Bekasi-Purwakarta, Subang hingga Kuningan dan Cirebon menyimpan potensi bahaya tinggi karena melintasi area dengan akumulasi populasi dan infrastruktur terbesar di Indonesia," ungkap dia.

"Gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dari sesar-sesar ini, meskipun magnitudonya sedang (M5,0-M6,5), dapat memicu guncangan kuat (high peak ground acceleration) dan amplify efek lokal akibat lapisan aluvial lunak di cekungan Jakarta," terangnya.

Ancaman Megathrust Hingga Tsunami

Di sisi lain, ancaman megathrust turut mengintai wilayah Jakarta, juga Jawa Barat.

"Di zona lepas pantai selatan, ancaman megathrust Selat Sunda membentang sebagai zona subduksi dangkal yang menyimpan seismic gap. Zona ini berpotensi melepaskan gempa berinteraksi antar-lempeng (interplate) hingga skala magnitudo M8,7," katanya.

Dia menjelaskan, secara seismologi, periode ulang (recurrence interval) gempa skala raksasa di zona subduksi ini terus berjalan seiring akumulasi energi tektonik yang belum terlepaskan secara signifikan dalam kurun waktu panjang.

"Jika rupture terjadi di zona megathrust ini, kombinasi gelombang gempa berperiode panjang (long-period ground motion) dan potensi tsunami dapat memberikan dampak sistemik yang luas hingga ke wilayah daratan Jawa Barat dan Jakarta," ucap Daryono.

Interaksi sesar darat aktif dan zona subduksi megathrust ini menegaskan potensi bahaya seismik di Jawa Barat dan Jakarta adalah keniscayaan geologi.

Pemahaman akan potensi bahaya itu, tegas Daryono, harus menjadi acuan kesiapsiagaan untuk diterapkan dalam mitigasi antisipasi bencana di Jakarta dan Jawa Barat, termasuk di Indonesia secara umum.

"Kesiapsiagaan struktur bangunan, mitigasi berbasis data mikrozonasi, serta pemahaman risiko kegempaan secara teknis menjadi langkah krusial dalam menghadapi dinamika tektonik aktif yang terus berlangsung di bawah pijakan kita," kata Daryono.

Sebelumnya, Daryono pun telah berulang kali merekomendasikan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan mengambil pelajaran dari kejadian gempa, baik di Indonesia maupun di luar negeri, yang menimbulkan fatalitas parah akibat kerusakan bangunan.

Kata dia, penting adanya audit ketat terhadap standar bangunan tahan gempa, pemetaan risiko seismik yang mencakup sumber dalam-lempeng, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dampak sekunder seperti runtuhan material dan potensi kebakaran di kawasan perkotaan padat.

Rekomendasi BMKG

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan langkah mitigasi dengan menempatkan sensor peringatan, edukasi ke masyarakat, mengecek secara berkala sistem peringatan dini yang sudah dihibahkan ke pemerintah daerah, hingga melakukan simulasi terhadap warga yang berada di zona buta atau blind zone.

Secara terminologi, blind zone adalah wilayah di sekitar titik gempa bumi yang tidak sempat menerima peringatan dini. Ini disebabkan karena gelombang gempa sudah lebih dulu sampai alias bergerak sangat cepat sebelum sistem mengirimkan peringatan.

"Kalau terlalu dekat dengan pusat gempa, waktu itu tidak cukup untuk menghindari guncangan," ujar BMKG dalam unggahan di akun Instagramnya.

Atas dasar ini, BMKG meminta masyarakat jangan menunggu peringatan. Jika terasa guncangan kuat, maka lakukan DROP-COVER-HOLD ON untuk melindungi diri.

Sesuai namanya, DROP berarti merunduk supaya tidak jatuh akibat goyangan kuat. Lalu, COVER berarti melindungi kepala dan leher sembari mencari perlindungan di bawah meja atau benda kokoh agar terhindari dari benda jatuh. Sementara HOLD ON berarti memegang erat penyangga atau meja tempat berlindung agar tetap aman.

"Dengan menerapkan langkah ini, kita bisa melindungi diri dari bahaya paling umum saat gempa, yaitu tertimpa, terjatuh, atau terbentur benda. Keselamatan bisa kita upayakan. Jadi, biasakan diri untuk selalu ingat Drop, Cover, and Hold setiap kali terjadi gempa," tegas BMKG.

(dce/dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Penjelasan BMKG Pemicu Gempa Dangkal M4,3 Goyang Cianjur-Jakarta


Most Popular
Features