MARKET DATA

Bos Pengembang Usul Cicilan Rumah Rp 300 Juta Turun Jadi Rp 2 Juta

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
16 October 2026 19:20
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau se
Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) mengusulkan skema subsidi pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah tanggung (MBT). Usulan ini menyasar masyarakat yang ingin membeli rumah seharga Rp250 juta hingga Rp500 juta, tetapi masih terbebani tingginya cicilan kredit pemilikan rumah (KPR).

Ketua Umum Himperra Ari Tri Priyono menilai, kelompok menengah tanggung, termasuk kalangan anak muda, memiliki kebutuhan hunian yang berbeda dari masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka cenderung menginginkan rumah dengan kualitas lebih baik, akses fasilitas publik yang memadai, serta lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja.

"Yang itu pasti menginginkan rumah yang lebih bagus, lebih berkualitas, lebih dekat dengan fasilitas publik, syukur lebih dekat dengan tempat mereka kerja," ujar Ari kepada CNBC Indonesia, Jumat (15/10/26).

Menurut Ari, rumah pada rentang harga Rp250 juta hingga Rp500 juta dapat menjadi pilihan bagi kelompok tersebut. Namun, tingginya bunga KPR komersial membuat sebagian calon pembeli harus mempertimbangkan kembali rencana membeli rumah.

Ia mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi bunga bagi kelompok MBT sehingga bunga yang ditanggung konsumen sekitar 7%. Besaran tersebut merupakan usulan Himperra, dengan skema yang berbeda dari fasilitas pembiayaan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Usulan kami untuk pasar MBT ini dikasih subsidi mungkin nanti mereka tinggal bayar sekitar 7%, jadi 2% lebih tinggi dari yang FLPP," katanya.

Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit. Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Ari menilai, penurunan beban bunga dapat membantu mengurangi cicilan bulanan sekaligus menarik masyarakat yang sebelumnya belum berencana membeli rumah. Ia memberikan ilustrasi rumah seharga Rp300 juta yang cicilannya dapat turun dari sekitar Rp3 juta menjadi Rp2 juta per bulan.

"Anggaplah rumah Rp300 juta yang semula angsurannya Rp3 juta, sekarang tinggal Rp2 juta, lebih-lebih tentu akan tertarik untuk membelinya," ujar Ari.

Selain meringankan cicilan, perluasan pembiayaan juga dinilai dapat membuka pilihan hunian yang lebih beragam. Pengembang berpeluang mengembangkan rumah dengan harga lebih tinggi di lokasi yang relatif lebih strategis karena memiliki ruang untuk membeli tanah dengan harga lebih mahal.

Harga tanah matang untuk pembangunan rumah subsidi dapat berada di kisaran Rp300 ribu per meter persegi. Sementara itu, pengembang yang menyasar rumah seharga Rp300 juta hingga Rp500 juta dinilai dapat menjangkau tanah dengan harga sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per meter persegi di sejumlah kawasan.

"Kalau ini nanti mungkin kalau yang sekarang kan Mas, untuk FLPP itu kita belinya sekitar Rp300 ribuan per meter tanah matang. Mungkin ketika Rp300 sampai Rp500 juta harga jual itu, mungkin kita belinya bisa Rp500.000, Rp700.000 mungkin masih bisa," katanya.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Main! Nyicil Rp1 Jutaan Bila Beli Rumah Ini-Ada Harga Rp166 Juta


Most Popular
Features