Bos Toyota Ungkap Mobil Produksi Mulai 2016 Bisa E20, Tapi Ada Masalah

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 16/10/2026 12:50 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif global terus mencari alternatif bahan bakar untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Salah satu yang dilirik adalah etanol, bahan bakar berbasis nabati yang berpotensi dikembangkan di Indonesia dengan dukungan sumber daya pertanian.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengungkapkan, dari sisi kendaraan, teknologi untuk menggunakan campuran etanol sebenarnya sudah tersedia. Tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan bahan bakar tersebut agar dapat digunakan secara luas oleh konsumen.

"Mobil-mobil keluaran 2016 ke atas itu sebenarnya sudah bisa E20. Jadi, secara mobil sudah siap. Masalahnya adalah ketersediaan bahan bakarnya," ujar Nandi dikutip Jumat (16/10/26).


E20 merupakan bahan bakar dengan kandungan etanol sebesar 20% yang dicampur dengan bensin. Selain campuran tersebut, Toyota juga memiliki pengalaman mengembangkan kendaraan untuk pasar yang menggunakan konsentrasi etanol lebih tinggi, termasuk Brasil dan Argentina.

"Sejak tahun 2000-an, kita sudah ekspor ke Argentina, Brasil, dan Vietnam untuk E100. Jadi, permasalahannya bukan hanya kesiapan dari sisi mobil, tetapi juga infrastruktur untuk bahan bakarnya, termasuk fuel station," kata Nandi.

Penggunaan etanol dengan konsentrasi tinggi membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan bensin biasa. Karakteristik etanol yang mudah menyerap air membuat sistem penyimpanan dan distribusinya perlu disesuaikan agar kualitas bahan bakar tetap terjaga. Di sisi lain, pengembangan etanol di Indonesia juga berkaitan dengan ketersediaan bahan baku.

"Kalau Indonesia, sumber untuk menjadi etanol ada di mana-mana. Dari singkong, sorgum, sagu, sampai jagung. Kalau mau membuat E20, sebenarnya tinggal mengembangkan lagi pabrik-pabrik etanol, termasuk sektor pertaniannya," ujar Nandi.

Pengembangan industri etanol juga berpotensi membawa aktivitas ekonomi ke daerah penghasil bahan baku. Fasilitas pengolahan idealnya berada dekat dengan sumber bahan baku untuk menekan ongkos pengangkutan dan meningkatkan efisiensi produksi.

Nandi menilai, dampak ekonomi dari pengembangan etanol tidak hanya berasal dari penjualan bahan bakar, tetapi juga dari terbentuknya industri pengolahan dan penyerapan tenaga kerja. Keterlibatan sektor pertanian menjadi bagian penting dalam rantai nilai tersebut.

"Kalau pabrik etanol dibangun dekat dengan bahan bakunya, misalnya di Lampung, biaya logistiknya bisa lebih efisien. Dampaknya juga bisa membuka lapangan kerja baru dan mendorong pembangunan industri di daerah. Buat Indonesia, itu sangat baik," ujar Nandi.

Meski demikian, harga energi hijau saat ini masih menjadi tantangan. Pengembangan bahan bakar alternatif membutuhkan investasi dan dukungan kebijakan agar dapat bersaing secara ekonomi dengan bahan bakar konvensional. Bagi Toyota, upaya tersebut juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang.

"Kalau kita bicara green energy, sekarang memang lebih mahal. Tetapi suatu hari nanti, pada titik tertentu, biayanya bisa menjadi lebih murah. Kita harus melihat energi masa depan bukan hanya dari kondisi sekarang. Kita membeli masa depan," kata Nandi.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Pelaku Industri, DPR, & Bankir 'Ngumpul' Bahas Nasib Sektor Otomotif