MARKET DATA

Biaya Produksi Bioetanol Singkong Rp8.000/ Liter, Agrinas Jual Rugi?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
08 October 2026 14:45
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani (dua dari kiri) dalam diskusi bersama media di Kuningan, Jaksel Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani (dua dari kiri) dalam diskusi bersama media di Kuningan, Jaksel Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) mengungkap hitungan bisnis pengembangan bioetanol berbasis singkong di Indonesia. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut mengklaim biaya produksi bioetanol dari singkong dapat ditekan hingga sekitar Rp6.300 per liter, atau sekitar Rp8.000 per liter setelah memperhitungkan berbagai biaya tambahan.

Angka tersebut berada di bawah harga acuan pembelian etanol yang ditetapkan pemerintah, yang menurut Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani berada di kisaran Rp10.800 per liter.

Keunggulan tersebut berasal dari integrasi antara perkebunan bahan baku dan industri pengolahan bioetanol. Agrinas tidak hanya membangun pabrik, tetapi juga menyiapkan sendiri bahan baku singkong sehingga biaya produksinya dapat dihitung sejak dari hulu.

"Singkong itu nanti HPP bioetanolnya itu cuma Rp6.300. Karena singkong itu harganya per kilo cuma Rp704. Kalau ditambah-tambah sampai biaya lain, bunga bank dan seterusnya, itu paling enggak Rp8.000," kata Ghani dalam diskusi bersama media di Kuningan, Kamis (8/10/2026).

Dengan biaya produksi sekitar Rp8.000 per liter, bioetanol tersebut masih memiliki ruang keuntungan apabila dijual sekitar Rp11.000 per liter. Terlebih, Agrinas melihat pasar bioetanol akan semakin terbuka seiring rencana peningkatan bauran bahan bakar nabati di dalam negeri.

Model bisnis tersebut akan menggunakan skema business to business (B2B) dan mengandalkan offtaker yang jelas. Agrinas juga tengah menjajaki kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) maupun perusahaan swasta untuk pembangunan fasilitas pengolahan bioetanol.

"Artinya bisnis ini dengan uang bank bisa mengembalikan uang bank, tidak perlu pakai APBN. Yang diperlukan adalah izin untuk menggunakan lahan untuk ditanam apakah sorgum, jagung maupun singkong. Lalu perbankan pasti lihat angka ini enggak masalah, karena nanti bisnis ini bisnis yang offtakernya jelas," ujarnya.

Model tersebut berbeda dengan pengembangan bioetanol yang sebelumnya pernah dilakukan di Indonesia. Kegagalan proyek bioetanol pada masa lalu salah satunya disebabkan ekosistem bahan baku dan industri yang tidak terintegrasi, sehingga harga singkong dari petani dapat berubah-ubah.

Agrinas kini menyiapkan pemetaan lahan untuk mengembangkan tanaman bahan baku bioetanol. Ghani menyebut perusahaan memiliki rencana mengalokasikan hingga sekitar 1 juta hektare lahan untuk tanaman pangan dan energi, termasuk singkong, dengan tetap memperhatikan aspek konservasi.

Jika berjalan, pengembangan 1 juta hektare singkong tersebut juga diklaim dapat memberikan dampak ekonomi yang besar. Ghani memperkirakan proyek tersebut berpotensi menyerap sekitar 500.000 tenaga kerja langsung dan 600.000 tenaga kerja tidak langsung serta menghemat devisa hingga sekitar Rp94 triliun per tahun.

"Kalau ini sampai bisa dikerjakan, 1 juta hektare singkong itu bisa menampung tenaga kerja 500.000 yang langsung, yang tidak langsung 600.000. Kemudian terhadap dampak ekonominya, devisanya bisa dihemat Rp94 triliun per tahun," kata Ghani.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Mau E20, Agrinas Siapkan 1 Juta Ha Lahan Bahan Baku Bioetanol


Most Popular
Features