Strategi Tekan Impor LPG, Pemerintah Mau Uji Coba Tabung Gas CNG Baru

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 20:35 WIB
Foto: Seorang warga memasak gorengan menggunakan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (14/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Karawang, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai strategi substitusi untuk menekan volume impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah ini diambil mengingat Indonesia masih mengimpor 7 juta hingga 8 juta ton LPG per tahun untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Kebijakan konversi tersebut dipacu oleh tingginya konsumsi LPG masyarakat yang menembus 8,5 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi di dalam negeri hanya berkisar 1,8 juta ton per tahun.

Bahlil mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah tengah melakukan uji coba penggunaan CNG tabung 3 kilogram (kg) untuk kebutuhan rumah tangga. Progres pengujian tabung CNG 3 kg tersebut diproses di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) serta Direktorat Jenderal Migas. Pengujian ini bertujuan mematangkan opsi CNG sebagai energi alternatif berbasis gas C1 dan C2 yang ketersediaannya melimpah di dalam negeri.


"CNG ini sebenarnya sudah digunakan dan prinsipnya hampir sama dengan jaringan gas (jargas). Beberapa restoran dan hotel sudah memakai CNG dengan harga yang lebih murah 30% hingga 40%. Energi ini memanfaatkan gas C1 dan C2 yang melimpah di negara kita, sehingga menjadi strategi tepat untuk melahirkan produk substitusi impor," ujar Bahlil dalam peresmian Kilang LPG di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).

Pemerintah mencatat bahwa ketergantungan impor LPG yang tinggi berdampak langsung pada besarnya alokasi anggaran subsidi energi dalam APBN. Saat Indonesia Crude Price (ICP) berada di posisi US$70 per barel, alokasi subsidi LPG mencapai Rp87 triliun per tahun. Angka ini membengkak hingga mendekati Rp100 triliun per tahun saat rata-rata ICP melonjak ke kisaran US$90 hingga US$100 per barel.

"Tabung ukuran 3 kg ini yang sedang kami uji coba, sedangkan untuk tabung 12 kg sudah mulai digunakan. Jika inovasi ini berhasil diproduksi secara massal, kita dapat menekan ketergantungan impor 8 juta ton per tahun dengan memanfaatkan pasokan domestik," kata Bahlil.

Selain uji coba CNG, pemerintah terus menggenjot pasokan LPG dari kilang dalam negeri melalui kerja sama PT Pertamina (Persero) dan PT Energi Nusantara Perkasa. Kilang di Cilamaya tersebut mampu memproduksi sekitar 160 ton per hari, yang dapat memenuhi 10% hingga 12% dari total konsumsi LPG wilayah Jakarta dan Jawa Barat yang berkisar 1.000 hingga 1.500 ton per hari.

"Berdasarkan catatan saya, konsumsi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat mencapai 1.000 hingga 1.500 ton per hari. Dengan produksi kilang baru ini yang mencapai 160 ton per hari, berarti sekitar 10% sampai 12% kebutuhan LPG Jawa Barat dan DKI Jakarta sudah bisa dipenuhi secara mandiri dari kilang ini," pungkasnya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Meramu Kebijakan Subsidi BBM Tepat Sasaran