MARKET DATA

80% LPG RI Masih dari Impor, Begini Jurus Bahlil Cari Penggantinya

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
29 October 2026 13:40
Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sambutan dalam FOREK HULU MIGAS 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)
Foto: Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sambutan dalam FOREK HULU MIGAS 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam negeri.

Tak tanggung-tanggung, Indonesia masih mengimpor sekitar 80% dari total kebutuhan LPG dalam negeri.

Dari kebutuhan sekitar 11-12 juta ton per tahun, produksi LPG nasional masih kurang dari 2 juta ton per tahun atau hanya sekitar 1,8 juta ton per tahun.

"Memang sekarang untuk gas (alam) kita tidak impor. Tapi yang masih kita impor gas berbentuk LPG. Indonesia masih 80% impor LPG," kata Bahlil pada acara pembukaan Forek Hulu Migas 2026, di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, besarnya kebutuhan namun belum dibarengi dengan jumlah produksi membuat Pemerintah Indonesia masih harus tetap mengimpor LPG.

"Total kebutuhan sekarang, misal untuk Lotte totalnya 8,5 juta ton. Untuk Lotte dan Chandra Asri itu butuh tambahan 3 juta ton. Jadi memang kita lagi membutuhkan kurang lebih sekitar 11-12 juta ton per tahun untuk LPG," terang Bahlil.

"Memang tidak ada cara lain selain impor, karena gas yang kita hasilkan bukan bahan baku untuk LPG," ujarnya.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah pun kini tengah mengembangkan sejumlah proyek pengganti LPG, seperti hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) serta mengembangkan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG).

"Jadi kita lagi konversi sebagian, ada sebagian kita bikin DME dengan batu bara low calorie dan sekarang lagi kita mendorong untuk CNG," ujar Bahlil.

Pihaknya juga mengungkapkan uji coba gas CNG tabung 3 kg masih dilakukan dan saat ini proses uji cobanya belum selesai. Namun, uji coba tabung CNG tersebut terus dilakukan agar pemanfaatan CNG bisa lebih maksimal dan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor LPG.

"Untuk CNG tabung 3 kg masih dalam uji coba dan ini belum selesai uji cobanya," imbuhnya.

Seperti diketahui, Kementerian ESDM mulai melakukan uji coba tabung CNG 3 kg sejak awal September 2026. Uji coba dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) Kementerian ESDM.

(wia) [Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Impor LPG 8 Juta Ton, Bahlil: Banyak Sekali Devisa Kita Keluar


Most Popular
Features