MARKET DATA

Warga RI Lagi Ogah-ogahan Beli Baju Baru, Bos Mal Ungkap Penyebabnya

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
15 October 2026 15:20
Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Pengunjung melihat produk yang dijual pada salah satu tenan di Pusat Perbelanjaan Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Toko pakaian di pusat perbelanjaan menghadapi tantangan ketika aktivitas pengunjung mal masih relatif ramai, tetapi transaksi belum tentu meningkat. Situasi ini berkaitan dengan pola belanja masyarakat yang berubah selama periode low season industri ritel pada paruh kedua 2026.

Produk fesyen menjadi salah satu kategori yang rentan menghadapi perlambatan karena pembeli tidak selalu memiliki kebutuhan mendesak untuk membeli pakaian baru. Berbeda dengan kebutuhan sehari-hari, pembelian busana dapat ditunda ketika konsumen ingin membatasi pengeluaran.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan kondisi tersebut merupakan pola yang lazim terjadi dalam siklus bisnis ritel. Setelah momentum belanja besar berlalu, permintaan terhadap sejumlah kategori barang cenderung melemah.

"Sebagaimana biasanya dalam periode low season, maka produk ataupun barang kategori busana, sandang, atau fesyen akan mengalami tekanan sehubungan tidak ada kebutuhan mendesak untuk hal tersebut," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).

Pola tersebut menjadi tantangan bagi peritel yang mengandalkan momentum belanja musiman untuk mendorong penjualan. Ramainya pengunjung di pusat perbelanjaan tidak selalu cukup untuk menggerakkan pembelian apabila konsumen belum merasa perlu mengganti pakaian atau menambah koleksi busana.

Kondisi ini juga perlu dibaca dalam konteks siklus penjualan tahunan. Ramadan dan Idulfitri biasanya menjadi periode penting bagi industri ritel karena kebutuhan belanja masyarakat meningkat menjelang hari raya, sedangkan periode setelahnya cenderung lebih tenang.

Pada 2026, kondisi musiman tersebut mendapat tekanan tambahan karena Ramadan dan Idulfitri berlangsung lebih awal, yakni pada triwulan I. Akibatnya, jarak menuju momentum belanja besar berikutnya terasa lebih panjang bagi pelaku usaha.

Alphonzus menilai situasi tersebut tidak berarti masyarakat berhenti mendatangi pusat perbelanjaan. Aktivitas pengunjung relatif bertahan karena mal juga digunakan untuk berkumpul dan menikmati hiburan, meskipun tujuan kunjungan tidak selalu berujung pada pembelian produk fesyen.

"Sampai dengan saat ini rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan relatif stabil karena ada kecenderungan masyarakat Indonesia tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan dalam segala situasi dan kondisi," ujarnya.

Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut membuat strategi penjualan perlu disesuaikan dengan karakter konsumen selama periode sepi belanja. Ketika kebutuhan membeli pakaian belum mendesak, peritel perlu memperhitungkan waktu promosi dan momentum belanja agar tidak hanya mengandalkan jumlah pengunjung untuk mengejar target penjualan.

Selain faktor musiman, kondisi daya beli masyarakat juga menjadi tantangan bagi bisnis ritel. Tekanan ekonomi global dan domestik dapat membuat konsumen lebih berhati-hati dalam menentukan prioritas pengeluaran, terutama untuk barang yang masih bisa dibeli pada waktu lain.

"Selain periode low season yang panjang, tekanan juga terjadi akibat dampak global dan berbagai situasi serta kondisi dalam negeri yang berimbas terhadap daya beli masyarakat," kata Alphonzus.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tanda-tandanya Muncul di Mal, Fenomena Rojali-Rohana Serang RI Lagi?


Most Popular
Features