MARKET DATA

Mendag Budi Ungkap PT KAI Belum Ajukan Impor Kereta Bekas dari Jepang

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
15 October 2026 11:32
TANJUNG PRIOK, JAKARTA, INDONESIA - 2015/05/05: Some officers assisted heavy equipment lowered railroad cars at the Port of Tanjung Priok. PT KAI Commuter Jabodetabek (KJC) bring 32 units of KRL purchased a used 205 series from Japan. The train is th
Foto: LightRocket via Getty Images/Pacific Press

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan transportasi Jabodetabek masih menggantung. Di tengah lonjakan jumlah penumpang dan usia armada yang semakin tua, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso justru berharap kebutuhan kereta bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa harus mendatangkan kereta bekas dari luar negeri.

Ditemui saat pembukaan TEI di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026), Budi mengungkapkan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) belum menerima pengajuan izin impor KRL bekas dari Jepang. Dengan demikian, rencana yang sebelumnya diwacanakan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) (Persero) tersebut belum memasuki tahap pemrosesan izin impor di kementeriannya.

"Kalau kami sih berharapnya produksi dalam negeri kan sudah ada, jadi saya berharap tidak ada impor bekas. Tapi sampai sekarang belum ada pengajuan," ujar Budi.

Ia menegaskan Kemendag masih menunggu apabila permohonan impor tersebut diajukan. Namun, sampai saat ini belum ada kepastian mengenai kelanjutan rencana tersebut, termasuk apakah KAI akan benar-benar menempuh opsi pengadaan kereta bekas dari Jepang.

"Kita tunggu kalau ada, tapi belum tahu," kata Budi.

Di sisi lain, KAI mengusulkan impor KRL bekas sebagai jalan keluar untuk mengatasi kebutuhan armada yang terus meningkat. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengungkapkan jumlah penumpang KRL Jabodetabek pada semester I 2026 meningkat 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jauh di atas perkiraan pertumbuhan awal sebesar 3%-4%.

"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).

Lonjakan penumpang tersebut turut terlihat di sejumlah stasiun dengan mobilitas tinggi. Di Stasiun Bogor, jumlah penumpang naik dan turun yang sebelumnya masih di bawah 100.000 orang per hari kini mencapai sekitar 160.000 orang. Kondisi ini memperlihatkan semakin besarnya ketergantungan masyarakat terhadap KRL untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, persoalan usia armada menambah tekanan terhadap operasional KRL. KAI mencatat sekitar 92 trainset telah berusia 40 tahun dan harus dikonservasi secara bertahap. Persoalan tersebut diperkirakan semakin mendesak pada 2029, ketika sejumlah rangkaian memasuki usia sekitar 45 tahun dan menghadapi keterbatasan suku cadang serta penurunan kondisi material.

"Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.

KAI menilai impor kereta bekas dapat menjadi solusi sementara sambil menunggu industri dalam negeri meningkatkan kapasitas produksi. Pengadaan kereta baru membutuhkan waktu lebih panjang, sedangkan rangkaian bekas dari Jepang dinilai dapat didatangkan lebih cepat untuk menutup kebutuhan armada yang mendesak. KAI juga menyebut penggunaan kereta impor tersebut direncanakan untuk jangka waktu terbatas, yakni sekitar 10 tahun.

"Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi," ujar Bobby.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article KAI Mau Impor 23 Trainset KRL Bekas Jepang, Ini Respons Menhub


Most Popular
Features