MARKET DATA

RI Target Nilai Hilirisasi RI Tembus Rp806 Triliun di Akhir 2026

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
14 October 2026 19:30
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Trade Expo Indonesia 41Th di Jakarta, Rabu (14/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Trade Expo Indonesia)
Foto: Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Trade Expo Indonesia 41Th di Jakarta, Rabu (14/10/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Trade Expo Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menargetkan nilai hilirisasi nikel di Indonesia bisa mencapai US$ 45 miliar setara Rp 806,26 triliun (asumsi kurs Rp17.917 per US$). Target tersebut diramal bisa tercapai untuk sepanjang tahun 2026 ini.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa peningkatan nilai ekspor nikel menjadi salah satu keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia dari pengekspor bahan baku menjadi produsen barang olahan. Berdasarkan catatannya, nilai ekspor nikel sendiri telah meningkat lebih dari 10 kali lipat pada tahun 2023 jika dibandingkan dari tahun 2017-2018 lalu.

"Pada tahun 2017-2018, ekspor nikel kita itu hanya mencapai US$ 3,3 miliar. Begitu kita menyetop ekspor ore nikel, kita membangun industrialisasi, kita membangun hilirisasi, kita membangun ekosistem baterai mobil dari hulu ke hilir sampai dengan battery pack, alhamdulillah nilai ekspor kita untuk di sektor mineral nikel aja pada tahun 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar, dan di tahun 2025 sudah lebih di angka US$ 40 miliar, dan di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$ 45 miliar," ujar Bahlil dalam acara Trade Expo Indonesia 2026, Rabu (14/10/2026).

Pemerintah mencatat lonjakan nilai ekspor nikel bergerak secara bertahap dari US$3,3 miliar pada periode 2017-2018 menjadi US$ 34 miliar pada 2023. Realisasi tersebut kemudian meningkat melampaui US$ 40 miliar pada 2025 sebelum diproyeksikan mencapai batas minimal US$ 45 miliar pada 2026.

"Bapak, Ibu semua investor, kami meyakinkan kepada Bapak, Ibu bahwa Indonesia ke depan tidak lagi menjadi negara yang hanya mengekspor bahan baku. Kami tahu betul beberapa negara yang sudah menjalankan industrialisasi dengan mengharapkan bahan baku dari Indonesia, itu awalnya merasa terganggu betul," imbuhnya.

Selain sektor nikel, pemerintah juga telah menyusun peta jalan atau masterplan hilirisasi nasional hingga tahun 2040 dengan total target nilai transaksi mencapai US$ 618 miliar setara Rp 11.062 triliun. Langkah hilirisasi tersebut dijalankan secara menyeluruh mencakup sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.

"Saya ingin menyampaikan bahwa masterplan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040, target kita mencapai US$ 618 miliar. Dan hilirisasi ini sesungguhnya dilakukan dari semua sektor. Baik sektor mineral batu bara, sektor oil and gas, sektor kehutanan, perikanan, maupun pertanian," tambahnya.

Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan larangan ekspor bahan mentah dan pengembangan hilirisasi tidak sekadar bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional semata. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk membangun kemandirian politik dan ekonomi Indonesia sesuai amanat konstitusi.

"Bapak, Ibu semua, pertarungan penciptaan nilai tambah tidak hanya dimaknai sebagai bagian daripada pertumbuhan ekonomi nasional, tapi harus dimaknai sebagai bagian kemandirian politik ekonomi nasional. Ini sejalan dengan arahan substansi daripada Pasal 33 Undang-Undang Dasar '45," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah Dorong Danantara Ikut Investasi di Proyek Hilirisasi


Most Popular
Features