MARKET DATA

Jangan Main-Main! RI Penting Buat Dunia, Ini Buktinya

pgr,  CNBC Indonesia
14 October 2026 15:15
Ilustrasi pengiriman batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan kapal Baruna Power 3301 milik PT PLN Energi Primer Indonesia. (PT PLN Persero)
Foto: Ilustrasi pengiriman batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan kapal Baruna Power 3301 milik PT PLN Energi Primer Indonesia. (PT PLN Persero)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sangat berpengaruh buat dunia! Ini bisa digambarkan atas kepemilikan sumber daya alam (SDA) terbesar di dunia seperti misalnya batu bara.

Dalam paparan Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, Indonesia menyumbang 43% peredaran batu bara di Dunia atau sebanyak 500 juta ton dari 1,3 miliar ton batu bara yang diperdagangkan di pasar internasional.

Namun sayangnya, meskipun Indonesia menjadi negara dengan tingkat peredaran batu bara terbesar di Dunia, tidak membuat negara ini mampu 'menyetir' harganya sendiri.

Bahlil mengatakan, harga batu bara masih diatur oleh asing. "43% batu bara itu suplai dari Republik Indonesia. Tetapi harganya diatur oleh asing. Barang-barang punya kita tapi harganya diatur oleh orang lain," ujar Bahlil dalam acara Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), di Jakarta, Senin (12/10/2026).

Dalam upaya mengambil alih kendali harga, Kementerian ESDM akhirnya memperketat alokasi produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand). Strategi tersebut dinilai efektif menjaga stabilitas harga batu bara Indonesia di tingkat internasional.

Dari kebijakan tersebut, volume produksi batu bara Indonesia pada 2026 disesuaikan menurun dibanding 2025. Kendati volumenya berkurang, nilai transaksi perdagangan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor pertambangan justru tercatat meningkat.

"Tahun 2026 produksi batu bara kita dibandingkan dengan 2025 itu menurun volumenya, tetapi angka transaksinya itu melebihi di 2025 dan pendapatan negara kita PNBP kita naik," imbuhnya.

Produksi RI diperketat, harga mulai naik-Dunia tertekan

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (12/10/2026) menguat 0,7% ke US$ 151,55 per ton. Harganya sudah naik dua hari beruntun.

Harga batu bara termal China melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun. Kenaikan ini dipicu oleh lambatnya pertumbuhan produksi domestik dan gangguan pasokan dari Indonesia sebagai pemasok utama batu bara China, di tengah reli harga energi akibat perang AS-Iran.

Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, harga acuan batu bara untuk pembangkit listrik mencapai CNY1.004 atau sekitar US$150 per ton pada Senin (12/10/2026).

Ini menjadi kali pertama harga menembus level CNY 1.000 dalam dua tahun. Sejak pertengahan Juli, harga batu bara tersebut telah melonjak sekitar 25%.

Batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik China, dengan kontribusi sekitar separuh dari bauran listrik negara tersebut, meskipun pengembangan energi terbarukan meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Produksi batu bara domestik China turun lebih dari 3% sepanjang Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah kendala produksi domestik, pengiriman batu bara dari Indonesia, pemasok utama batu bara termal impor China, juga turun tajam sepanjang tahun ini.

Persoalan pasokan juga melanda India, akibtanya, pemadaman listrik mulai melanda rumah tangga, pabrik kecil, dan pabrik baja di India. Kondisi ini terjadi ketika persediaan batu bara di banyak pembangkit listrik merosot, sementara permintaan listrik melonjak akibat cuaca yang lebih panas dan penurunan tajam produksi listrik tenaga air.

Data pemerintah pada akhir September menunjukkan, proporsi PLTU yang memiliki persediaan batu bara sangat rendah melonjak dalam beberapa pekan terakhir hingga melampaui 40% dari seluruh pembangkit batu bara yang beroperasi. Pada 1 Oktober, sebanyak 85 pembangkit tercatat memiliki stok batu bara di bawah 25% dari kebutuhan normalnya.

Ekspor Turun Tapi Setoran ke Negara Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 anjlok 9,33% ke 227,7 juta ton.

Laporan dari Kpler menunjukkan ekspor pada Agustus 2026 hanya mencapai 36,1 juta ton atau anjlok 25,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa penataan RKAB 2026 memangkas rata-rata produksi bulanan batu bara sebesar 8 juta ton dan produksi nikel sebesar 13 juta ton bijih (ore).

Menurutnya tata kelola produksi yang terukur terbukti mampu mendongkrak penerimaan negara tanpa perlu melakukan eksploitasi secara berlebihan.

"Jadi artinya kalau misalnya kita lihat, dengan adanya pengelolaan yang baik, dengan kita tidak jor-joran untuk produksi, itu nyatanya akan memberikan dampak yang positif kepada negara dan kita semua," jelasnya.

PNBP dari sektor batu bara meningkat menjadi Rp 66 triliun per 31 Agustus 2026 dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 59 triliun. Kenaikan setoran batu bara sebesar Rp 7 triliun tersebut terjadi di tengah penurunan rata-rata produksi bulanan dari 68 juta ton pada 2025 menjadi 60 juta ton pada 2026.

"Jadi secara produksi kita secara bulanan turun 8 juta (ton), tapi secara PNBP kita naik Rp 7 triliun. Artinya setiap tahun kita mengalami kenaikan Rp 1 triliun dengan produksi turun 8 juta ton," paparnya.

Batu Bara RI masih dikuasai swasta

Berdasarakan paparan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tercatat total cadangan batu bara Indonesia sebesar 31,9 miliar ton. Indonesia berada di peringkat keenam dunia, berada di bawah Amerika Serikat sebesar 247,9 miliar ton, Rusia 162,2 miliar ton, China 157,0 miliar ton, Australia 149,5 miliar ton, dan India 127,7 miliar ton.

Dari cadangan batu bara itu, mayoritasnya masih dikuasai oleh pihak swasta. Sementara Porsi batu bara yang dikelola BUMN melalui PTBA tercatat hanya sekitar 5,81% dari total sumber daya batu bara nasional.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menjelaskan bahwa total sumber daya batu bara nasional mencapai 98,41 miliar ton, sedangkan kepemilikan PTBA tercatat sebesar 5,71 miliar ton. Dari jumlah tersebut, porsi cadangan terbukti yang dikuasai PTBA berada di angka 2,88 miliar ton atau 9,03% dari total cadangan terbukti nasional yang sebesar 31,89 miliar ton.

"Jadi porsi Bukit Asam hanya 5,81%. Maksudnya apa? Jadi kita tidak dikuasai oleh negara. Batu bara hari ini kan lebih banyak di swasta. Nah itu nanti itu yang sudah kejadian lah di masa lalu, tapi saya ingin mengingatkan bahwa batu bara adalah milik nasional, milik negara harusnya," ujar Bambang di Jakarta, dikutip Rabu (7/10/2026).

Bambang menekankan pentingnya menata kembali pengelolaan sumber daya alam nasional agar sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Ia mengatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya semestinya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran seluruh rakyat.

"Jadi kalau kita kembali ke Pasal 33, memang ini sudah sudah kurang pas lagi. Tapi itulah, enggak apa-apa kita enggak mau lihat ke belakang, tapi kita mau ke depan mau ngapain ini. Supaya ke depan kita menata kita harus lebih baik lagi, enggak boleh yang sudah-sudah yang tidak kurang baik harus kita perbaiki," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features