Produksi Bahan Baku Baterai RI Diperkirakan Naik 2x di 2027
Jakarta, CNBC Indonesia - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi bahan baku baterai akan melonjak hingga dua kali lipat melampaui 900 ribu ton pada akhir 2027. Hal itu dampak dari hasil hilirisasi nikel dalam negeri berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Proyeksi peningkatan kapasitas produksi tersebut didorong oleh masuknya proyek-proyek fasilitas pemrosesan dan pemurnian (smelter) hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) ke tahap operasi penuh.
Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengungkapkan bahwa penambahan kapasitas produksi bahan baku baterai tersebut seiring dengan selesainya tahap konstruksi sejumlah proyek HPAL di Tanah Air.
Dia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut ditopang oleh percepatan komisioning fasilitas pengolahan yang memproses nikel kadar rendah menjadi komponen baterai kendaraan listrik.
"Pada tahun 2027 akan ditandai oleh penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," ungkap Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).
Berdasarkan catatannya, realisasi produk hidrometalurgi berupa MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat pada 2025 berada di level sekitar 450 ribu ton nikel. Lalu, pada 2027 diperkirakan akan naik melebihi 900 ribu ton.
Kenaikan kapasitas produksi di atas 900 ribu ton pada akhir 2027 dinilai sebagai lompatan dalam rantai pasok bahan baku baterai nasional.
"Pada tahun 2025 produk HPAL berupa MHP, nikel sulfat dan kobalt sulfat sekitar 450 ribu ton nikel. Diperkirakan pada akhir 2027 kapasitas produksi MHP di Indonesia akan meningkat signifikan melebihi 900 ribu ton nikel," paparnya.
Secara keseluruhan, FINI mencatat total produksi nikel nasional pada 2025 mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate dari total kapasitas fasilitas pemurnian sebesar 2,7 juta ton Ni.
Sebagian besar produksi tersebut didominasi oleh produk pirometalurgi seperti NPI, FeNi, dan Matte sebesar 2,05 juta ton, sementara porsi MHP dan nikel sulfat terus digenjot untuk menopang industri baterai.
"Jumlah produksi sebesar itu telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia (~60%)," tandasnya.
(wia)