Studi Terbaru: Swasta Sumbang 90% Nilai Tambah Ekonomi RI

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Selasa, 13/10/2026 15:55 WIB
Foto: Dewan Penasihat Prasasti, Burhanuddin Abdullah. (CNBC Indonesia/Arrijal Rachman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Penasihat Prasasti Center of Policy, Burhanuddin Abdullah, mengatakan kontribusi perusahaan swasta terhadap nilai tambah ekonomi sangat signifikan.

Burhannudin mengatakan peran perusahaan swasta dalam menciptakan nilai tambah ekonomi itu porsinya mencapai 90% dari total aktivitas sektor usaha.

"Perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) menghasilkan sekitar 95% nilai tambah, dengan sektor swasta sendiri menyumbang sekitar 90%," katanya saat memberikan opening remarks di acara Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).


Sementara itu, Direktur Riset Prasasti Adhi Nugroho Saputro mengatakan pemerintah harus terus mendorong kontribusi penciptaan ekonomi perusahaan swasta sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dan mencapai target pertumbuhan 8%.

Menurut Adhi, ruang improvisasi perusahaan swasta tersebut masih terbuka karena mayoritas perusahaan swasta di Indonesia masih berskala mikro dan kecil.

"Jumlah perusahaan Indonesia sangat banyak, non-agriculture firm di Indonesia itu ada sekitar 24 juta, tapi 99 persen itu adalah usaha mikro dan kecil, kita itu sangat sedikit usaha-usaha berukuran menengah dan besar," papar Adhi dalam acara yang sama.

Improvisasi yang dimaksud adalah meningkatkan skala perusahaan swasta di Indonesia dari skala kecil dan menengah menjadi skala besar. Terlebih lagi, perusahaan skala besar di Indonesia jumlahnya sangat sedikit hanya 0,12 persen.

Namun, meskipun jumlahnya hanya 0,12 persen jumlah perusahaan besar, namun dampak terhadap ekonomi dan serapan tenaga kerja sangat besar.

"Sedangkan kalau kita lihat kontribusinya, mereka yang ada di 0,1 persen atau perusahaan besar tersebut, ini berkontribusi 40 persen pada PDB, dan juga employing 55 persen dari kerjaan," ucap Adhi.

Karena itu, kebutuhan perusahaan kecil dan menengah untuk naik kelas sangat diperlukan untuk mampu mendorong ekonomi Indonesia lebih cepat dan lebih dekat dengan visi Indonesia sebagai negara maju dengan pertumbuhan ekonomi 8%.

Adhi mengatakan ada tiga tantangan yang dihadapi perusahaan kelas kecil dan menengah yang berdampak langsung terhadap kemampuan meningkatkan skala usaha, yakni isu tenaga kerja, regulasi, dan pungutan liar.

Dirinya mengatakan bahwa bahkan masalah keuangan atau modal bukan merupakan faktor penentu bagi banyak perusahaan kecil dan mikro, karena mereka memiliki aset untuk dijaminkan dalam pengajuan pembiayaan modal.

Faktor-faktor penghambat tersebut harus segera diselesaikan agar membuka potensi lebih luas untuk percepatan ekonomi.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Airlangga Ungkap Alasan Ekonomi Vietnam Tumbuh Lebih Kencang Dari RI