Health Summit 2026

Ramai-Ramai Stakeholder Ungkap PR Besar Sektor Kesehatan RI

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Jumat, 09/10/2026 15:42 WIB
Foto: CNBC Indonesia TV

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri kesehatan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya terkait alat kesehatan (alkes) dan obat-obatan yang masih bergantung pada impor. Padahal industri kesehatan merupakan sektor strategis yang dapat mendukung perekonomian Indonesia.

Oleh sebab itu, demi mendorong industri kesehatan Indonesia, dibutuhkan kerja sama yang kuat baik dari sisi pemerintah maupun pihak swasta agar industri kesehatan Indonesia ke depan bisa semakin kuat. Salah satunya lewat Investasi.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bahkan mengungkap strategi untuk menarik investasi di sektor kesehatan demi mengurangi ketergantungan impor. Menurutnya, Indonesia harus mampu memproduksi alat kesehatan hingga obat-obatan di dalam negeri.


Salah satu strategi yang ditempuh Kemenkes adalah membuat regulasi yang bisa memacu sektor swasta untuk menggunakan modalnya dalam berinvestasi

"Jadi harus membuat regulasi yang bisa meng-trigger swasta-swasta ini menggunakan balancing mereka, menggunakan capital-nya mereka, menggunakan biaya yang bisa menjual untuk investasi di Indonesia, membangun industri," ujar Budi dalam Health Summit 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia, Kamis (8/10/2026).

Menurut Budi, jika regulasi yang disusun tidak bagus, maka sektor swasta tidak akan berminat untuk berinvestasi membangun fasilitas kesehatan hingga pabrik. Padahal, dengan investasi tersebut angka belanja kesehatan bisa diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Budi memberi contoh hilirisasi darah yang berhasil dilakukan di dalam negeri. Sebelumnya, Indonesia harus mengimpor Albumin dan IVIG (Intravenous Immunoglobulin) dengan harga yang sangat mahal, padahal keduanya merupakan produk turunan dari plasma darah.

Di sisi lain, sebagai negara dengan populasi besar, Indonesia memiliki sumber plasma darah yang mumpuni.

"Hilirisasi kan bukan hanya natural resources dalam bentuk ore, nickel ore, hilirisasi juga bisa datang dari blood. Blood, we can downstream blood," ujarnya.

Sektor Kesehatan RI "Seksi"

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan mengakui bahwa investasi sektor kesehatan di Indonesia sangat seksi atau menarik. Pasalnya, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar, sehingga tidak heran banyak sejumlah perusahaan masuk ke Indonesia. Contohnya perusahaan biofarmasi asal Jepang Takeda.

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.

"Populasi Indonesia yang hampir 300 juta, ini hal seksi. Salah satunya yang membuat Takeda tertarik," ujar Nurul.

Selain itu lanjutnya, ketertarikan Takeda di Indonesia juga dilatarbelakangi ketersediaan pasokan plasma di Indonesia yang masih kurang dan belum mencukupi kebutuhan nasional. Sehingga dibutuhkan pembangunan ekosistem plasma dari hulu-hilir.

"Pemerintah juga punya kepentingan berangkat dari pengalaman pada saat COVID kemarin, kita kesulitan sekali untuk bisa mendapatkan plasma sebagai bahan untuk membuat produk yang berkualitas," terangnya.

Di sisi lain, President Director PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht mengatakan bahwa Takeda bukan pemain baru di Indonesia namun telah hadir selama 55 tahun dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Adapun investasi terbaru yang dilakukan adalah investasi tahap awal untuk membangun ekosistem plasma darah yang berkelanjutan di Indonesia.

"Indonesia merupakan contoh nyata dari situasi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win situation). Prioritas pemerintah Indonesia dan Takeda benar-benar sejalan. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Budi, Indonesia ingin membangun ketahanan kesehatan, khususnya dalam menjamin pasokan obat-obatan esensial yang diproduksi dari plasma darah," rinci Andreas.



Penguatan Layanan

Dalam mendorong industri kesehatan, Pemerintah juga menyiapkan perubahan fundamental dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk melalui pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas layanan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan di wilayah masing-masing.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya mengatakan, perubahan sistem pelayanan kesehatan akan mencakup sejumlah aspek mendasar, salah satunya perubahan sistem rujukan.

Menurutnya, ke depan rujukan tidak lagi semata-mata didasarkan pada tingkatan atau kelas rumah sakit, tetapi pada kompetensi yang dimiliki rumah sakit untuk menangani kondisi pasien.

"Kita akan menyiapkan layanan kesehatan secara fundamental. Akan ada tiga perubahan mendasar, salah satunya rujukan berbasis kompetensi," ujar Azhar.

Peran AI sendiri sangat penting dalam mendongkrak layanan kesehatan di Indonesia. Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Abdi Waluyo, Sigit Pramono bahkan mengatakan, di bidang medis tidak terlepas dari teknologi dan AI.

Teknologi AI ujarnya sangat penting untuk dapatkan diagnosis, terapi optimal, dan cepat untuk dapatkan patient safety, avidance base medicine, persolize patient care.

"Oleh karena itu, Abdi Waluyo selalu mengutamakan menggunakan kemajuan teknologi, inovasi, untuk mendapatkan diagnosa terapi, yang cepat dan tepat, serta mengkombinasikan AI dengan sumber daya manusia yang selalu ditingkatkan untuk mendapatkan personilze patient care yang jadi visi utama RS Abdi Waluyo," jelas dia.

Dia merinci bahwa penggunaan AI di RS Abdi Waluyo sudah dimulai sejak 2004. Bahkan Abdi Waluyo menjadi yang pertama menggunakan 64 Slice CT, Cathlab, dan First Cardiac Imaging, yang terus diupdate hingga pada 2015, Abdi Waluyo menjadi RS pertama yang menggunakan 512 Slice CT Revo, dan MRI 1,5 T.

Pentingnya penguatan teknologi juga diakui oleh Managing Director OCS Indonesia dan President of Indonesia Chapter of IFMA, Yohanes Jeffry Johary.

Ia menjelaskan dalam sektor kesehatan, investasi pada bangunan yang lebih baik, teknologi canggih, dan inovasi medis merupakan hal penting yang patut mendapat perhatian. Namun, setelah sebuah rumah sakit menjadi lebih maju, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang menjadi lebih kuat setelah rumah sakit tersebut berkembang?

Apakah tenaga kerjanya menjadi lebih kompeten? Apakah operasionalnya menjadi lebih andal? Apakah masyarakat memperoleh manfaat? Dan apakah hubungan rumah sakit dengan lingkungan sekitarnya juga menjadi lebih baik?

"Di sinilah manajemen fasilitas berkontribusi, yaitu dengan membantu mengoordinasikan berbagai fungsi tersebut melalui kerja sama erat dengan pimpinan klinis dan unit spesialis lainnya. Setiap perjalanan pasien bergantung pada ekosistem operasional rumah sakit. Karena itu, penguatan ekosistem ini seharusnya menjadi bagian dari cara kita menilai kesiapan layanan kesehatan," jelas Yohanes.

Dengan penguatan fasilitas dan layanan kesehatan di RI, bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia ke depan lebih memiih berobat di dalam negeri ketimbang di luar negeri.

Icon Cancer Center Hadir di Bali

CEO of Icon Cancer Centre ASEAN, Serena Wee mengatakan bahwa kini masyakarat Indonesia yang mengidap kanker tidak perlu lagi keluar negeri. Pasalnya, dia mengatakan hampir 30% obat kanker yang sebelumnya belum tersedia di Indonesia, kini tersedia di Bali International Hospital (BIH)

Icon juga menyebut telah membawa obat onkologi inovatif berbasis bukti ke Indonesia. Serena mengatakan sekitar 30% obat yang sebelumnya belum tersedia di Indonesia kini tersedia di Bali International Hospital.

"Hal yang paling penting dari kemajuan ini adalah memungkinkan kami memberikan pelayanan terbaik dengan sedekat mungkin dengan tempat tinggal pasien Indonesia," ungkap dia dalam kesempatan yang sama.

Ke depan, Serena Wee berharap bisa menghubungkan berbagai peluang yang telah dimungkinkan oleh perubahan kebijakan dengan realitas praktis dalam mendapatkan pelayanan kesehatan di Indonesia. Selain itu, Icon Cancer Center memastikan untuk bekerja bersama dan membangun kapasitas bersama rekan-rekan di Indonesia.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Health Summit 2026: Memperkuat Kemandirian Industri Kesehatan Nasional