Dengar Keluhan Peternak Ayam, Titiek Soeharto Langsung Telepon Amran
Jakarta, CNBC Indonesia - Peternak ayam petelur mengeluhkan sulitnya mendapatkan jagung untuk pakan di tengah tingginya biaya produksi. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) wilayah Jawa Tengah, Suwardi, menyebut kebutuhan jagung peternak hingga Februari 2027 mencapai 223.000 ton, sementara stok yang tersisa di Bulog dari penyaluran SPHP jagung sebelumnya disebut hanya sekitar 30.000 ton.
Suwardi mengatakan, penyaluran jagung melalui skema SPHP sebelumnya telah menggunakan sekitar 213.000 ton.
"Jadi dengan segala hormat, bahwasanya di Bulog hari ini hanya ada catatan stok sisa SK (surat keputusan) 1 maupun 2 adalah 30.000 ton," kata Suwardi dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat peternak kesulitan memenuhi kebutuhan pakan. Harga jagung di sejumlah daerah juga masih tinggi. Di Lampung, misalnya, harga jagung disebut mencapai Rp8.400 per kg, sedangkan di Nusa Tenggara Barat sekitar Rp7.700 per kg.
"Poinnya, hari ini kami butuh jagung. Ayam kami sudah tidak bisa makan, karena ketersediaan berkurang, harganya terus melambung," ujarnya.
"Kadang kita ada sedikit uang membeli jagung saja kita berebut," sambung dia.
Persoalan tidak hanya terjadi pada jagung. Suwardi juga menyoroti kenaikan harga bungkil kedelai yang menjadi salah satu bahan baku pakan.
"Mulai dari Januari sampai bulan Juni, ketika bungkil kedelai ini berada di pasar umum, di mana pabrik pakan atau importir atau trader bisa mengimpor ke Indonesia, harga bungkil kedelai itu Rp7.200 sampai Rp7.500 (per kg). Tapi hari ini, kita bicara bungkil kedelai itu harganya Rp9.900 sampai Rp10.000 (per kg)," ucapnya.
Ia mempertanyakan kenaikan harga tersebut meski pemerintah telah mengatur masuknya bahan baku pakan melalui Permentan No. 11 Tahun 2026.
"Kenapa kalau harganya bisa dikontrol, itu bisa naik Rp2.000 sampai Rp2.500?" tanya dia.
Di sisi lain, kondisi harga telur di tingkat peternak masih tertekan. Suwardi menyampaikan harga telur berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, sebesar Rp26.500 per kg di tingkat produsen, sementara biaya pakan terus meningkat. Kondisi ini membuat sebagian peternak kesulitan mempertahankan usahanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk meminta Bulog membantu menstabilkan harga jagung.
"Habis ini saya minta telepon Pak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) dan minta juga dikoordinasikan ke Bulog supaya harga jagungnya ini bisa distabilkan. Dan insyaallah disampaikan ke Pak Presiden (Prabowo Subianto)," kata Titiek dalam kesempatan itu.
Titiek bahkan berjanji akan langsung menghubungi Menteri setelah rapat.
"Jadi Pak, kami akan usahakan.. saya janji habis ini, habis rapat ini saya telepon Pak Menteri, mudah-mudahan insya Allah ada jalan keluarnya supaya harganya bisa turun," ujarnya.
Menurut Titiek, persoalan pakan perlu ditangani secara khusus agar harga bahan baku yang diterima peternak lebih wajar. Ia kemudian mengusulkan adanya badan pemerintah yang secara khusus mengurusi pakan ternak, mulai dari impor hingga distribusi.
"Ke depan ini Komisi IV DPR RI, kita minta supaya ada satu badan yang bisa khusus mengurusi pakan ini," ujar Titiek.
"Jadi tidak swasta-swasta yang mengimpor pakan atau bahan baku pakan, tapi badan pemerintah ini yang mengimpor, mereka mengolah dan mendistribusikan kepada para peternak dengan harga yang wajar ya," pungkasnya.
(wur)