Peternak Ayam Broiler Teriak Harga Pakan Naik-Jagung Sulit, Desak Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Peternak ayam broiler rakyat tengah menghadapi tekanan usaha akibat lonjakan biaya produksi yang tidak diikuti kenaikan harga jual ayam di tingkat peternak.
Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mencatat harga pakan starter untuk ayam usia 7-21 hari kini rata-rata telah menembus di atas Rp9.400 per kilogram (kg). Angka tersebut naik dibandingkan kondisi normal yang berada di kisaran Rp8.000-Rp8.500 per kg.
Kenaikan biaya produksi tersebut terjadi di tengah meningkatnya harga bahan baku pakan, salah satunya jagung. Berdasarkan informasi yang diterima Permindo, harga jagung saat ini telah berada di atas Rp7.800 per kg, bahkan di sejumlah daerah menembus lebih dari Rp8.000 per kg.
Namun, kenaikan harga jagung tidak serta-merta dinikmati peternak broiler karena mayoritas peternak ayam pedaging menggunakan pakan jadi dari pabrikan, bukan mencampur pakan sendiri.
"Jagung SPHP lebih banyak dinikmati peternak ayam petelur karena rata-rata mereka mencampur pakan sendiri. Pakan ayam broiler berbeda karena harus dipadatkan atau dibentuk," kata Anggota Permindo, Asep dalam keterangannya, dikutip Senin (5/10/2026).
Di sisi lain, harga ayam hidup atau live bird (LB) di tingkat kandang justru mengalami penurunan. Saat ini harga LB berada di kisaran Rp21.000-Rp22.000 per kg, sementara harga pokok produksi (HPP) peternak telah mencapai sekitar Rp23.000-Rp23.500 per kg.
Artinya, peternak harus menjual ayam di bawah biaya produksinya. Kondisi ini semakin mempersempit ruang usaha peternak rakyat ketika biaya pakan dan komponen produksi lainnya terus meningkat.
Tekanan biaya produksi juga diperkirakan belum akan berakhir. Memasuki awal Oktober, harga pakan diperkirakan kembali naik sekitar Rp150-Rp300 per kg seiring semakin terbatasnya pasokan jagung.
"Awal Oktober, harga pakan diperkirakan naik lagi Rp150-Rp300 per kg. Informasinya harga masih akan terus naik karena stok jagung tidak tersedia dan pasokannya sulit," ujarnya.
Minta HAP Ayam Naik
Melihat kondisi tersebut, Permindo meminta pemerintah melakukan pengendalian dari sisi hulu hingga hilir untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam broiler rakyat.
Permindo menyampaikan lima aspirasi kepada pemerintah.
Pertama, pemerintah diminta menekan harga bahan baku pakan agar harga pakan jadi dapat kembali ke kisaran Rp7.000-Rp8.000 per kg seperti pada 2025.
Kedua, Permindo meminta pemerintah mengendalikan harga DOC pada kisaran Rp5.500-Rp6.000 per ekor untuk menekan biaya produksi peternak.
Ketiga, Permindo mendorong kenaikan Harga Acuan Penjualan (HAP) live bird menjadi Rp27.000 per kg. Menurut Permindo, penyesuaian tersebut diperlukan untuk menyesuaikan HAP dengan perkembangan biaya produksi, khususnya harga pakan dan DOC.
"Karena tidak terkendalinya harga pakan dan DOC, kami minta HAP ayam hidup dinaikkan menjadi Rp27.000 per kg," ucap Asep.
Keempat, pemerintah diminta mengendalikan kelebihan stok DOC agar produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasional.
Kelima, Permindo mendorong pengendalian harga ayam hidup atau LB di kisaran Rp25.000-Rp27.000 per kg. Langkah ini dinilai dapat membuat harga jual di tingkat peternak lebih seimbang dengan biaya produksi.
Asep menilai pengendalian harga perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku pakan, DOC, hingga harga ayam hidup di tingkat peternak.
Menurutnya, koordinasi dan pengawasan di sepanjang rantai produksi perlu diperkuat agar gejolak harga di sisi hulu maupun hilir tidak semakin menekan peternak rakyat.