Peternak Telur Teriak Harga Pakan Mahal, Mendag Buka Opsi Beri Subsidi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah membuka opsi memberikan subsidi untuk menekan harga pakan ayam yang saat ini membebani peternak. Namun, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kebijakan tersebut masih perlu dibahas dan dikoordinasikan lebih lanjut.
Budi mengatakan, tingginya harga pakan ayam tidak terlepas dari sejumlah faktor eksternal, termasuk kenaikan harga minyak yang turut memengaruhi rantai pasok.
"Kalau dari harga, ya salah satunya faktornya memang sekarang karena harga minyak tinggi dan sebagainya," kata Budi di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Menurut dia, pemerintah tengah mencari skema intervensi yang dapat membuat harga bahan pakan lebih terjangkau sehingga tidak semakin menekan biaya produksi peternak.
"Tetapi kan kemarin kami juga sudah disampaikan bagaimana mengatasi ini, apakah nanti akan ada subsidi atau bagaimana ya. Jadi kami memang belum ketemu lagi, tapi pemerintah akan mengambil langkah, agar harga itu terjangkau oleh petani," ujarnya.
Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
Budi menjelaskan, salah satu bahan yang berpotensi mendapatkan subsidi adalah bungkil kedelai atau soy bean meal (SBM). Bahan tersebut masih bergantung pada impor dan menjadi salah satu komponen penting dalam pakan ayam.
Namun, Budi menegaskan skema subsidi untuk SBM perlu dibicarakan lebih lanjut antarinstansi.
"Ini kan khusus untuk pakan, nah nanti akan dikoordinasikan," jelas dia.
Sebelumnya, persoalan mahalnya pakan ayam disuarakan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) dalam RDPU bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026) kemarin.
Peternak menyebut tingginya harga bahan baku pakan telah membuat biaya produksi semakin berat. Bahkan, kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat. Ketua Pinsar Jawa Tengah, Suwardi, mengatakan jagung dan bungkil kedelai menjadi dua komponen utama dalam biaya produksi ayam petelur.
"50% beban produksi peternak itu ada di jagung. Satu hal yang tidak kalah penting adalah 25% itu berasal dari bungkil kedelai," jelas Suwardi.
Ia mengatakan harga bungkil kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp7.200-Rp7.500 per kg kini meningkat menjadi sekitar Rp9.900-Rp10.000 per kg.
Harga tersebut merupakan harga bungkil kedelai yang dibeli peternak melalui BUMN yang mendapat penugasan untuk mengimpor sekaligus menjual bahan baku pakan tersebut.
(wur) [Gambas:Video CNBC]