Harga Cabai Makin Mahal, BPS Ungkap Efek Horornya ke Warga RI Ini

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 14:45 WIB
Foto: Pedagang cabai menunggu pembeli di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Senin (21/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga cabai merah dan cabai rawit terus mengalami kenaikan pada awal Oktober 2026. Kondisi ini membuat Badan Pusat Statistik (BPS) mewaspadai dampaknya terhadap inflasi pada akhir tahun.

Berdasarkan pemantauan BPS, harga rata-rata cabai merah pada minggu pertama Oktober 2026 mencapai Rp63.913 per kg. Angka tersebut naik 11,38% dibandingkan September dan sudah berada di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp55.000 per kg.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan harga cabai merah juga terjadi di banyak daerah. Tercatat sebanyak 292 kabupaten/kota atau 81,11% mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai merah.


"Harga saat ini Rp63.913 rata-ratanya, sedangkan HAP batas atasnya itu Rp55.000 (per kg)," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (5/10/2026).

Sementara itu, harga cabai rawit juga mengalami kenaikan cukup tinggi. Pada minggu pertama Oktober, harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp86.846 per kg, naik 10,21% dibandingkan September yang berada di Rp78.802 per kg. Harga tersebut juga jauh di atas batas atas HAP sebesar Rp57.000 per kg.

"Cabai rawit naik cukup besar di minggu pertama Oktober, kenaikannya sampai 10,21%. Bahkan kalau kita bandingkan dengan batas atas HAP, ini gap-nya semakin tinggi," tuturnya.

BPS mencatat sebanyak 259 kabupaten/kota atau 71,94% mengalami kenaikan IPH cabai rawit pada periode tersebut.

Ateng mengatakan, perkembangan harga cabai perlu menjadi perhatian, terutama menjelang akhir tahun. Sebab, apabila tren kenaikan terus berlanjut, harga pada Desember 2026 berpotensi lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Ini menjadi catatan, jika cabai rawit selalu meningkat maka jika dibandingkan year on year-nya, kondisi akhir tahun Desember, ini khawatir semakin jauh dibandingkan Desember tahun 2025 yang dampaknya akan terjadi inflasi secara tahunan dan juga year on year-nya pada bulan Desember," jelas dia.

Hal serupa juga terjadi pada cabai merah. Menurut Ateng, posisi harga cabai merah saat ini sudah lebih jauh dari HAP dibandingkan kondisi menjelang akhir tahun sebelumnya.

"Cabai merahnya kita lihat di kondisi Desember itu sedikit di atas HAP, sekarang sudah agak jauh. Jika tidak dikawal, maka kondisi Desember 2026 akan jauh dibandingkan Desember 2025, artinya inflasi tahunannya bisa jadi terdorong naik karena cabai merah dan juga cabai rawit," sebut Ateng.

Pedagang cabai menunggu pembeli di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Senin (21/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pedagang cabai menunggu pembeli di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Senin (21/8/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Kementan Ungkap Stok Cabai

Di sisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut ketersediaan cabai secara nasional sebenarnya cukup memadai. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto mengatakan, ketersediaan cabai rawit secara nasional sekitar 132.000 ton, sedangkan cabai besar sekitar 115.000 ton.

"Sebaran produksinya sebetulnya kalau secara agregat secara nasional itu ketersediaan aneka cabai rawit misalnya, itu sekitar 132.000 ton, sedangkan untuk cabai besarnya sekitar 115.000 ton," ujar Sudi dalam kesempatan yang sama.

Ia juga menyebut luas panen cabai pada Oktober mencapai sekitar 11.917 hektare. Menurutnya, angka tersebut cukup memadai untuk membantu mengendalikan dinamika harga.

Namun, persoalan distribusi antardaerah masih menjadi tantangan. Sudi mengatakan, kerja sama antardaerah dalam mendistribusikan cabai belum berjalan optimal.

"Cuma memang dalam praktiknya, ini kerja sama antardaerah yang mungkin belum bisa dilaksanakan secara optimal," sebutnya.

Sudi mencontohkan pengiriman cabai dari Kediri ke wilayah Kalimantan yang cukup besar. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi pergerakan harga di daerah sentra produksi.

"Karena memang beberapa daerah, kami mendapat informasi juga, misalnya di wilayah Kediri, itu ada perdagangan pengiriman cabai ke wilayah Kalimantan yang cukup besar. Itu mungkin salah satu yang memicu adanya pergerakan juga harga di daerah-daerah sentra," terang dia.

Untuk cabai merah keriting, Sudi mengatakan harga secara umum masih berada di kisaran Rp40.000-Rp50.000 per kg. Namun, terdapat daerah sentra yang harganya sudah mencapai Rp90.000 per kg.

"Tapi untuk cabai merah keriting sebetulnya secara umum masih di kisaran Rp40.000-Rp50.000 (per kg) ya, hanya beberapa daerah seperti di Kabupaten Batu Bara itu tingkat harganya sudah mencapai Rp90.000 (per kg) di daerah sentra," ujar Sudi.

Kementan juga terus menambah luas tanam cabai. Dalam dua bulan terakhir, terdapat tambahan luas tanam sekitar 1.023 hektare untuk cabai rawit. Sementara untuk cabai besar, tambahan luas tanam mencapai hampir 1.070 hektare.

"Artinya selama dua bulan terakhir, ini sebetulnya ada tambahan luas tanam baru sekitar 1.023 hektare untuk cabai rawit. Sedangkan untuk cabai besar itu di September ada sekitar 380 hektare dan di bulan Oktober ada 690 hektare. Ya, ini hampir 1.070 hektare juga, ada tambahan luas tanam cabai besar," paparnya.

Tambahan luas tanam tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan kenaikan harga cabai, khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Pertambahan luas tanam ini diharapkan juga bisa digunakan sebagai salah satu ya nantinya pengendali kenaikan harga cabai rawit dan cabai besar, khususnya menjelang Nataru," pungkas dia.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BPS Catat Inflasi September 2026 Tembus 3,28% (yoy)