Manfaat Green Energy Buat RI: 1,9 Juta Lapangan Kerja-Sumbang 11% PDB

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 10:10 WIB
Foto: Arif Gunawan S.

Jakarta. CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan bahwa aktivasi energi hijau, termasuk yang berasal dari panas bumi mampu meningkatkan perekonomian.

Yudistian menjelaskan saat ini kebutuhan investasi hijau Indonesia yang dapat mencapai US$45 miliar-US$60 miliar atau sekitar Rp804,9 triliun hingga Rp1.073 triliun (asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS).


Adapun kebutuhan investasi tersebut mencakup sisi penyediaan energi terbarukan dan pengembangan industri hijau.

"Kalau kita proyeksikan di Indonesia maka tambahan investasi hijau yang kita butuhkan untuk melingkar ini itu ada dua hal, sisi penyediaan energinya sama sisi industrinya sendiri itu hampir US$45 miliar sampai US$60 miliar," ujar Yudistian dalam media gathering, dikutip Senin (5/10/2026).

Investasi besar tersebut paparannya dapat menambah potensi Produk Domestik Bruto (PDB) 6-11%.

"Dengan harapan dia bisa menambah potensi tambahan PDB nasional sekitar 6 persen. Mungkin ini terlalu ini, tapi menurut saya maksimum mungkin 6 persen dia bisa nambah," sambungnya.

Potensi tersebut bersumber dari pengembangan ekosistem industri hijau, termasuk penyediaan energi terbarukan untuk manufaktur ekspor, tekstil, kendaraan listrik, pusat data, hingga industri pengolahan mineral.

Ia mengatakan kebutuhan listrik industri hijau pada 2026-2034 diperkirakan dapat meningkat 3,5 hingga 6,3 kali lipat yang didorong standar ESG & akses pasar ekspor.

Selain itu, pengembangan industri hijau juga mampu membuka 1,8-1,9 juta lapangan kerja hijau pada 2030.

"Karena lapangan kerjanya terbuka, produk-produk hijau ekspor kita itu disukai, memang banyak sekali produk industri kita yang disukai, khususnya kerajinan, barang-barang furniture dan garment itu banyak sekali, tidak tertentu kemungkinan dia akan bisa menambah pembukaan lapangan kerja itu sekitar 1,5 sampai hampir 2 juta lapangan kerja hijau," ujar Yudistian.

Yudistian mengatakan jika mendapatkan dukungan penuh, energi hijau akan bisa mengurangi atau me-netzero-kan yang fosil yang equivalent sebesar 151 juta ton CO2.

"Ini peluangnya. Jadi kita mau coba bahwa bagaimana EBT kita itu tidak hanya sekedar kita berlaku perilaku baik sebagai warga dunia, tapi itu menjadi peluang untuk mesin pertumbuhan ekonomi," imbuhnya.

Rencana Terbitkan Obligasi untuk Investasi Proyek Energi Panas Bumi

Yudistian membeberkan bahwa pihaknya tengah mencari sumber pendanaan dalam rangka mengembangkan proyek energi panas bumi.

Rencana penerbitan obligasi tersebut kemungkinan akan dilakukan pada akhir tahun 2027 atau awal 2028. Dirinya mengatakan saat ini sudah dibicarakan rencana tersebut dan akan melakukan persiapan lebih serius pada tahun depan.

"Tahun depan itu mau kita bikin kajiannya. Mau kita persiapkan. Mudah-mudahan di akhir tahun atau awal tahun 2028 kita bisa IPO," katanya kepada awak media saat ditemui di Bogor, Jumat (2/10/2026).

Selain itu, dirinya juga mengatakan tengah berbicara dengan Kementerian Keuangan terkait penerbitan obligasi bersama atau collaborative

"Bisa (melakukan collaborative bond). Kan pemerintah kebanyakan bond itu hanya untuk defisit utang aja kan. Mungkin ini bisa dimasukin juga. Itu yang kita lagi bicarakan sama teman-teman di Kemenkeu," ujarnya.

Karena masih dikaji, Yudistian mengatakan saat ini belum ada tanggal pasti dan jumlah utang yang diterbitkan. Namun, dirinya melihat minat besar investor untuk obligasi tersebut di Eropa dan Jepang.

"Eropa banyak tuh (minat obligasi). Jepang juga minta," ungkapnya.

Pembiayaan ini adalah salah satu sumber pembiayaan Geo Dipa dalm menjalankan proyek ekstraksi energi dari panas bumi. Yudis menatakan dalam 10 tahun ke depan, memiliki target membangun energi geothermal hingga 1 gigawatt.


(ras/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Pemerintah & DPR Targetkan 3,49 Juta Lapangan Kerja Baru di 2027