Geo Dipa Mau Terbitkan Obligasi Akhir 2027, Ini Bocorannya
Bogor, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis ungkap rencana untuk menerbitkan obligasi untuk membiayai proyek geothermal.
Rencana penerbitan obligasi tersebut kemungkinan akan dilakukan pada akhir tahun 2027 atau awal 2028. Dirinya mengatakan saat ini sudah dibicarakan rencana tersebut dan akan melakukan persiapan lebih serius pada tahun depan.
"Tahun depan itu mau kita bikin kajiannya. Mau kita persiapkan. Mudah-mudahan di akhir tahun atau awal tahun 2028 kita bisa IPO," katanya kepada awak media saat ditemui di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Selain itu, dirinya juga mengatakan tengah berbicara dengan Kementerian Keuangan terkait penerbitan obligasi bersama atau collaborative
"Bisa (melakukan collaborative bond). Kan pemerintah kebanyakan bond itu hanya untuk defisit utang aja kan. Mungkin ini bisa dimasukin juga. Itu yang kita lagi bicarakan sama teman-teman di Kemenkeu," ujarnya.
Penerbitan obligasi ini merupakan upaya pembiayaan kreatif atau creative financing dari Geo Dipa untuk bisa mendapatkan sumber pembiayaan.
Karena masih dikaji, Yudistian mengatakan saat ini belum ada tanggal pasti dan jumlah utang yang diterbitkan. Namun, dirinya melihat minat besar investor untuk obligasi tersebut di Eropa dan Jepang.
"Eropa banyak tuh (minat obligasi). Jepang juga minta," ungkapnya.
Pembiayaan adalah salah satu sumber pembiayaan Geo Dipa dalm menjalankan proyek ekstraksi energi dari panas bumi. Yudis menatakan dalam 10 tahun ke depan, memeiliki target membangun energi geothermal hingga 1 gigawatt.
"Nah, kalau melihat dari sisi Geo Dipa saja, maka kalau hari ini Geo Dipa berjalan as it is, maka Geo Dipa 10 tahun ke depan akan membangun sebesar 1 giga atau hampir 965 megawatt," ujarnya.
Untuk mensukseskan target tersebut, Yudis telah menghitung kebutuhan dana sebesar US$ 5,75 miliar atau Rp102,77 triliun (kurs: Rp17.872/1US$).
Kebutuhan tersebut, berasal dari sumber yakni pembiayaan utang dan penyertaan modal. Masing-masing ditargetkan mendapat US$ 1,35 miliar dalam bentuk penanaman modal dan 4,4 miliar dolar dalam bentuk utang.
Saat ini, penyertaan modal sudah mendapatkan Rp1,3 triliun dari Penanaman Modal Negara (PMN). Sementara dari pembiayaan, Geo Dipa telah mendapatkan pinjaman dari Bank Pengembangan Asia (ADB) senilai US$ 180 juta atau Rp2,99 triliun dengan tujuan peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia.
(haa/haa)