Usai Beras Sumbang Inflasi, Bos Bulog Datangi Pasar Cipinang-Ucap Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Beras kembali menjadi salah satu komoditas yang menyumbang inflasi pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beras memberikan andil inflasi sebesar 0,03% pada September 2026.
Secara keseluruhan, inflasi bulanan pada September 2026 tercatat sebesar 0,30%. Sementara itu, inflasi year to date (ytd) mencapai 2,17% dan inflasi tahunan atau year on year (yoy) sebesar 3,28%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi September. Selain beras, komoditas yang turut mendorong inflasi antara lain cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
"Kelompok pengeluaran yang dorong inflasi pada September 2026 terutama makanan dan tembakau dengan inflasi 0,88% dan memberikan andil inflasi 0,26%," kata Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).
Di tengah kembali masuknya beras sebagai penyumbang inflasi, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan kenaikan harga beras tersebut tidak terlalu signifikan.
Menurut dia, berdasarkan evaluasi inflasi yang dilakukan pemerintah, kenaikan inflasi dari beras hanya sebesar 0,03%. Kondisi tersebut juga terjadi ketika Indonesia mulai memasuki musim paceklik, yakni periode ketika produksi beras dari panen petani sedang menurun.
"Jadi gini untuk beras ya, seperti yang kami laporkan, kami dengan seluruh stakeholder, baik pemerintah maupun pihak swasta, bersinergi semaksimal mungkin untuk menjaga dan menjamin ketersediaan beras tersebut. Ya, termasuk juga menjamin stabilisasi harganya," kata Rizal saat ditemui di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (2/10/2026).
"Namun kita ketahui bersama, saat ini adalah musim paceklik. Musim lagi tidak panen, sehingga kalau mengalami kenaikan kecil itu sangat memungkinkan," lanjutnya.
Meski demikian, Bulog menyebut stok beras yang dikuasainya masih sangat besar. Saat ini stok di gudang Bulog mencapai 4,8 juta ton.
Rizal mengatakan, stok tersebut akan digunakan untuk menjaga pasokan sekaligus menekan harga beras di masyarakat. Bulog bahkan menyiapkan tambahan penyaluran beras SPHP sebanyak 1 juta ton hingga Maret 2027.
"Yang mana stok kami sekarang di gudang 4,8 juta ton, dari 4,8 juta ton tersebut akan disalurkan nanti beras SPHP tambahan sejumlah 1 juta ton sampai di bulan Maret 2027," sebut dia.
Selain SPHP, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan beras sebanyak 1 juta ton pada Oktober, November, dan Desember 2026.
Menurut Rizal, penyaluran bantuan pangan sebelumnya juga mulai memberikan dampak terhadap harga beras. Dia mengatakan harga beras di tingkat distributor bahkan telah turun dalam dua pekan terakhir.
"Dua minggu terakhir ini sudah mengalami penurunan. Jadi mungkin evaluasi kemarin adalah yang evaluasi bulan kemarin. Jadi kalau yang di bulan ini, alhamdulillah masuk di akhir September dan awal Oktober ini mengalami penurunan harga. Mudah-mudahan minggu depan sudah mengalami penurunan inflasi dari yang disampaikan tadi," kata Rizal.
Seorang distributor di Pasar Induk Beras Cipinang menyebut harga beras medium turun sekitar Rp500 per kilogram (kg), dari Rp14.000 menjadi Rp13.500 per kg. Sementara harga beras premium turun dari Rp15.000 menjadi Rp14.500 per kg.
"Kurang lebih Rp500 per kilo. Dari biasa medium itu kemarin Rp14.000 sekarang Rp13.500 (per kg). Terus untuk premium kemarin sudah sempat Rp15.000 turun ke Rp14.500. Cuma harga itu di tingkat distributor ya belum tingkat pengecer," kata distributor tersebut.
Rizal menegaskan, Bulog akan terus mendorong harga beras agar bergerak menuju Harga Eceran Tertinggi (HET). Saat ini pemerintah menetapkan HET beras medium sebesar Rp12.500 per kg dan premium Rp14.900 per kg untuk zona I, meliputi wilayah Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi.
"Ya, jadi sudah diyakinkan dari teman-teman pengusaha disampaikan bahwa mengalami penurunan. Ya memang kalau teman-teman pengusaha pengennya naik terus harganya. Kalau kita kan jaga konsumen juga supaya konsumen bisa beli, maka gimana caranya harga kalau bisa lebih turun lagi sesuai dengan harga eceran tertinggi," ujar Rizal.
Pemerintah Pastikan Beras Tak Kembali Tekan Inflasi
Pemerintah juga memastikan pengawasan terhadap harga dan distribusi beras terus diperketat untuk mencegah kenaikan harga kembali memberikan tekanan terhadap inflasi.
Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Ito Hediarto mengatakan, kontribusi beras terhadap inflasi yang sebelumnya tercatat oleh BPS sebenarnya relatif kecil.
"Yang 0,03 itu kan kecil sekali," ujar Ito ditemui dalam kesempatan yang sama.
Ito pun optimistis beras tidak kembali memberikan tekanan terhadap inflasi pada Oktober.
"Yakin yakin. Kita yakin nggak akan terjadi lagi (beras menyumbang inflasi)," katanya.
Ia menegaskan, pemerintah akan memproses pihak yang menaikkan harga beras di atas HET tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Kalau ada oknum yang menaikkan harga di atas HET tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, itu kita proses," pungkas dia.
(dce)