Permintaan Kopi-Besi Loyo, Ekspor Pertanian & Tambang RI Turun 2 Digit
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat merosotnya kinerja ekspor non migas untuk sektor pertanian dan pertambangan, meskipun industri pengolahan masih mampu mencatatkan kinerja pertumbuhan.
Secara total, nilai ekspor Indonesia masih mampu tumbuh 6,72% per Agustus 2026, menjadi sebesar US$25,62 miliar dari periode yang sama tahun senilai US$23,89 miliar. Terutama ditopang oleh ekspor non migas US$25,62 miliar atau naik 7,23% dibanding periode yang sama tahun lalu US$23,89 miliar.
"Kenaikan nilai ekspor Agustus 2026 secara tahunan terutama didorong kenaikan ekspor non migas," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono di kantornya, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Ekspor non migas yang tumbuh satu-satunya ialah berasal dari sektor industri pengolahan dengan nilai mencapai US$22,29 miliar, dengan pertumbuhan sebesar 12,48% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Adapun untuk sektor lainnya, seperti pertanian justru merosot 11,64% menjadi US$530 juta, dari sebelumnya pada Agustus 2025 US$600 juta. Dipicu oleh turunnya permintaan untuk kopi hingga buah-buahan tahunan.
"Ekspor pertanian turun sebesar 11,64% secara tahunan, terutama pada kopi, buah-buahan tahunan, dan juga tanaman tahunan lainnya," kata Ateng.
Sedangkan untuk sektor pertambangan, penurunannya lebih dalam lagi dengan minus mencapai 19,47% menjadi US$2,79 miliar, dari periode yang sama tahun lalu US$3,47 miliar.
"Pertambangan turun 20,30% secara yoy terutama pada komoditas besi, tembaga, kemudian juga ada biji zirkonium dan ada juga dari niobium, ada juga tantalum, serta aspal," tegasnya.
(arj/haa)