Riset DBS Indonesia: Sustainability Jadi Agenda Daya Saing Korporasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Sustainability sering dipandang sebagai agenda kepatuhan, pelaporan Environment, Social, and Governance (ESG), atau pemenuhan ekspektasi regulator dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, transformasi teknologi, dan pergeseran rantai pasok global, sustainability kini memiliki makna yang jauh lebih strategis bagi korporasi.
Pertanyaan yang semakin relevan bagi pengambil keputusan bukan lagi apakah sustainability penting, melainkan bagaimana perubahan tersebut akan mempengaruhi daya saing, arah investasi, dan strategi pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Inilah yang menjadi fokus riset terbaru Bank DBS Indonesia, The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks. .
Melalui kajian terhadap lima sektor strategis Indonesia, laporan ini menunjukkan bahwa sustainability semakin berkembang dari agenda lingkungan menjadi bagian dari strategi ketahanan bisnis, daya saing industri, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Di tengah kompleksitas tersebut, banyak korporasi saat ini masih berada dalam tahap menentukan arah perjalanan ESG mereka.
Bank DBS Indonesia menjadi mitra terpercaya dengan rekam jejak pembiayaan berkelanjutan yang diakui di tingkat internasional. Bank DBS Indonesia juga memberikan pendampingan berbasis insight dan pemahaman kebutuhan bisnis agar korporasi dapat mengambil keputusan yang lebih tepat, berdampak, sekaligus berkelanjutan, baik bagi keberlangsungan usaha maupun lingkungan.
Foto: dok Istimewa |
Ketika Sustainability Menjadi Faktor Penentu Daya Saing
Perubahan lanskap ekonomi global mendorong perusahaan untuk memikirkan sustainability dalam konteks yang lebih luas.
Ketahanan energi menjadi semakin penting di tengah volatilitas harga energi dan ketidakpastian geopolitik. Infrastruktur digital menjadi fondasi baru pertumbuhan ekonomi.
Ketahanan rantai pasok menjadi perhatian utama setelah berbagai gangguan global dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, tuntutan terkait traceability, transparansi, dan standar keberlanjutan semakin mempengaruhi akses pasar dan keputusan investasi.
Riset DBS Indonesia menemukan bahwa sustainability kini semakin terkait dengan tiga agenda utama yang akan menentukan daya saing korporasi pada dekade mendatang. Di antaranya ketahanan ekonomi dan operasional, daya saing industri dan akses pasar, dan ketahanan terhadap risiko iklim dan gangguan rantai pasok.
Head of Research PT Bank DBS Indonesia, William Simadiputra menyebut dengan kata lain, sustainability tidak lagi berdiri sebagai agenda terpisah. Sustainability semakin menjadi bagian dari cara perusahaan mengelola risiko, mengalokasikan modal, dan menangkap peluang pertumbuhan baru.
"Ke depan, pemenang di setiap sektor bukanlah yang hanya piawai menciptakan nilai atau semata tahan terhadap guncangan, melainkan yang mampu merangkai ketiganya sekaligus: nilai, ketahanan, dan keberlanjutan," kata dia dikutip dari keterangannya Selasa (29/9/2026).
Lima Sektor, Lima Jalur Transformasi
Meski menghadapi arah perubahan yang sama, masing-masing industri memiliki dinamika yang berbeda.
Energi: Dari Transisi Energi ke Ketahanan Energi
Di sektor energi, energi terbarukan, dan infrastruktur, sustainability semakin terkait dengan ketahanan energi nasional. Kebutuhan listrik baru yang berasal dari kendaraan listrik, hilirisasi industri, pusat data, kecerdasan artifisial (AI), dan elektrifikasi rumah tangga diproyeksikan mendorong konsumsi listrik Indonesia meningkat dari sekitar 300 TWh pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Menurut William, perubahan ini membuka peluang investasi yang besar di berbagai bagian ekosistem elektrifikasi, mulai dari energi surya, geothermal, battery energy storage system (BESS), modernisasi jaringan listrik, hingga elektrifikasi industri.
Infrastruktur Digital: AI Menciptakan Siklus Investasi Baru
Indonesia saat ini merupakan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi digital yang diperkirakan mencapai USD99 miliar pada 2025. Pada saat yang sama, sekitar 79% pengguna Indonesia telah mengenal AI, yang semakin mendorong kebutuhan terhadap cloud computing, cybersecurity, dan data center.
"Bagi banyak perusahaan, pertanyaan saat ini bukan lagi sekadar bagaimana mengakses konektivitas, melainkan bagaimana mempersiapkan infrastruktur digital yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis AI," ungkap William.
Menurut dia kondisi tersebut menjadikan green data center, renewable-powered infrastructure, serta teknologi pendingin efisien sebagai area investasi yang semakin relevan dalam beberapa tahun ke depan.
Kesehatan: Ketahanan Rantai Pasok Menjadi Prioritas
Di sektor kesehatan dan farmasi, tantangan utama berasal dari ketergantungan terhadap impor bahan baku farmasi aktif (API). Saat ini sekitar 90% API masih diimpor, sementara kebutuhan layanan kesehatan terus meningkat seiring bertambahnya prevalensi penyakit kronis dan non-komunikabel.
"Dalam konteks ini, isu sustainability tidak lagi semata-mata berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga menyangkut ketahanan pasokan, akses layanan kesehatan, serta kemampuan membangun sistem kesehatan yang lebih resilien," kata dia.
Peluang pertumbuhan muncul melalui lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur domestik, diversifikasi pemasok, serta pengembangan layanan kesehatan spesialis yang masih relatif terbatas di Indonesia.
Agribisnis: Produktivitas Menjadi Kunci
Di sektor pangan dan agribisnis, fokus mulai bergeser dari ekspansi menuju produktivitas dan ketahanan pangan.
Dia mencontohkan pada industri kelapa sawit, pertumbuhan masa depan semakin bergantung pada peningkatan produktivitas, replanting, dan kemampuan memenuhi standar traceability global. Lalu di sektor perunggasan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penambahan Grand Grand Parent (GGP) breeding stock menciptakan proyeksi permintaan jangka panjang yang lebih kuat.
William menjelaskan perubahan tersebut membuka peluang investasi pada agritech, cold chain logistics, traceability systems, teknologi peternakan, serta solusi ekonomi sirkular yang mendukung produktivitas dan efisiensi rantai pasok.
Logam dan Pertambangan: dari Skala Produksi ke Daya Saing Berkelanjutan
Indonesia berhasil membangun posisi sebagai pemain utama global dalam industri nikel dan logam. Namun, laporan DBS Indonesia menunjukkan bahwa fase berikutnya tidak lagi hanya ditentukan oleh skala produksi.
Standar global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), EU Battery Regulation, dan berbagai persyaratan traceability mulai mengubah cara pasar menilai daya saing sebuah industri.
"Karena itu, peluang berikutnya semakin bergeser menuju pengembangan komponen baterai, battery energy storage systems (BESS), daur ulang baterai, logam rendah karbon, serta manufaktur bernilai tambah yang mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global," kata dia.
Tantangan Utamanya Bukan Kekurangan Peluang
Salah satu temuan penting dari laporan ini adalah bahwa besarnya peluang tidak secara otomatis membuat sebuah proyek mudah direalisasikan.
Banyak peluang investasi strategis masih menghadapi tantangan dalam bentuk kesiapan proyek, struktur pembiayaan, profil risiko, kepastian arus kas, hingga kompleksitas regulasi.
Dengan kata lain, peluang tersedia, tetapi memerlukan pendekatan yang tepat agar dapat diwujudkan secara komersial dan berkelanjutan.
"Di sinilah kebutuhan perusahaan berkembang. Organisasi tidak hanya membutuhkan akses terhadap modal, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perubahan sektoral, pergeseran rantai nilai, arah investasi baru, dan faktor-faktor yang akan menentukan daya saing pada masa depan," terang dia.
Dari Insight Menjadi Keputusan Strategis
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin mengatakan dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks, kualitas pengambilan keputusan menjadi sama pentingnya dengan akses terhadap pembiayaan.
Sebagai mitra terpercaya bagi korporasi dan institusi di Asia, tambah dia, Bank DBS Indonesia terus memperkuat perannya melalui kombinasi wawasan sektoral, perspektif pasar, kapabilitas advisory, dan jaringan regional yang membantu para pengambil keputusan memahami perubahan struktural yang sedang berlangsung.
"Yang dibutuhkan korporasi hari ini bukan sekadar akses pembiayaan, tetapi menentukan kejelasan arah di sektor mana yang harus bergerak lebih dulu, prioritas investasi apa yang paling berdampak, dan bagaimana merancang struktur pembiayaan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing bisnis," ujar Sehonamin.
Sehonamin menegaskan The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks merupakan bagian dari komitmen tersebut. Laporan ini mengidentifikasi peluang dan risiko di berbagai sektor strategis dan memberikan perspektif mengenai bagaimana perusahaan dapat membangun ketahanan, memperkuat daya saing, dan menangkap peluang pertumbuhan yang muncul dari transformasi ekonomi Indonesia.
"Bagi perusahaan yang tengah merencanakan strategi lima hingga sepuluh tahun ke depan, memahami sustainability shift bukan lagi sekadar pilihan. Ini adalah bagian dari upaya memahami bagaimana arah pertumbuhan, investasi, dan daya saing akan terbentuk pada fase berikutnya dari perkembangan ekonomi Indonesia," tutup Sehonamin.
Laporan The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks dapat diunduh melalui tautanberikut.
(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]