Begini Strategi Danantara Tekan Ketergantungan Impor
Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa mengatakan, sektor industri di Indonesia tidak harus selalu melakukan impor. Apalagi kalau ada volatilitas, ada currency exchange, serta kondisi global yang luar biasa.
"Jadi saya pikir tidak mungkin kita harus impor terus. Substitusi impor itu bukan berarti kita harus menggeser yang lain, bukan. Tapi kita memastikan bahwa kita bisa memiliki ketahanan terhadap industri yang kita bangun, apalagi industri pertahanan, dan juga untuk kontinuitas sustainability dari produk dan industri yang kita bangun," ungkap dia dalam Mindialogue 2026: Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI, di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Sigit mencontohkan, di industri pertahanan ada kebutuhan yang luar biasa terkait dengan isian atau bahan pendorong amunisi, di mana jumlah produsennya cukup terbatas, dan apabila ada permintaan besar, pasokannya baru bisa dipenuhi beberapa tahun kemudian.
"Tapi Alhamdulillah kita lakukan R&D bersama pemerintah, bersama mitra, kita lakukan sertifikasi, NATO standar sudah terpenuhi, dan yang paling penting adalah materialnya semuanya dari Indonesia, 100%. Jadi begitu kita bisa, sekarang kita lagi scaling up dari 10 ton menjadi 70 ton menjadi 1.000 ton. Kalau 1.000 ton kita sudah bisa fulfill untuk yang isian tadi, kita bisa paham bisa ekspor nanti kalau pada saat kita membutuhkan sampai ke 2.300 ton," rinci Sigit.
Oleh karena itu, Sigit menegaskan, bahwa mengurangi ketergantungan impor sangat mungkin, misalnya yang bisa dilakukan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia melakukan kerja sama dengan sumber-sumber terbaik. Dia memastikan untuk hal ini pemerintah sangat mendukung.
Sebelumnya, SIgit juga mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur karena memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Sehingga sangat penting agar Indonesia bisa mengelola sumber kekayaan alam tersebut dan memberikan nilai tambah yang lebih optimal, di mana salah satunya dilakukan lewat hilirisasi.
Danantara sendiri, lanjutnya, memiliki strategi agresif dalam mendorong hilirisasi bisa berjalan dengan baik. Salah satunya dengan melakukan proses integrasi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Langkah ini sangat penting agar produksi hingga distribusi tidak terputus.
"Selama ini tahun 70-an, 80-an kita untuk mineral lebih banyak ekstraktif industri activity. Kita di sisi hilir hanya posisi di mana produksi dan industri untuk assembly missing link ada di tengah. Jadi Danantara dalam rangka bangun indusri berkelanjutan maka kita akan membangun indusrtri berkelanjutan dari mulai hulu upstream sampai ke downstream," terangnya.
Seperti diketahui, tantangan yang cukup besar selama ini dalam pemanfaatan sumber daya alam lebih banyak menyorot ke arah industri ekstraktif. Mengingat teknologi dan sumber daya manusia belum mumpuni. Selain itu, investasi yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Beruntung saat ini Indonesia telah memiliki Danantara. Kebutuhan investasi yang besar dalam mendorong program hilirisasi bisa dipenuhi.
"Jadi tantangan invest its not a problem anymore," tandasnya.