Teman Eks Presiden Akui Cuci Uang, Rp 3,2 Triliun Disita
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha asal Kolombia yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Alex Saab, mengaku bersalah dalam kasus pencucian uang di Amerika Serikat. Saab juga setuju menyerahkan aset senilai US$195 juta (sekitar Rp3,5 triliun) kepada pemerintah Amerika Serikat (AS).
Mengutip Reuters, Selasa (29/9/2026), Saab menyampaikan pengakuan bersalah atas satu dakwaan konspirasi pencucian uang dalam sidang di Pengadilan Distrik AS di Miami, pekan lalu. Dalam kesepakatan dengan Departemen Kehakiman AS, Saab juga menyatakan bersedia bekerja sama dengan penyidik.
Namun hingga kini, dokumen pengadilan belum mengungkap secara rinci terkait penyelidikan apa saja yang akan melibatkan kerja samanya. Jaksa AS menuduh Saab mengambil keuntungan dari program bantuan sosial Venezuela yang bertujuan menyediakan makanan bagi masyarakat miskin, di mana dana dialihkan melalui rekening bank di AS.
Sosok Dekat Eks Presiden
Alex Saab merupakan pengusaha kelahiran Kolombia yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Maduro. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian Venezuela sebelum akhirnya dicopot dari jabatan tersebut.
Kasus hukum Saab menjadi sorotan karena keterkaitannya dengan pemerintahan Maduro yang selama bertahun-tahun menghadapi tuduhan korupsi dan tekanan internasional. Saab sebelumnya ditangkap di Cape Verde pada 2020 dan kemudian diekstradisi ke AS pada 2021 untuk menghadapi tuduhan pencucian uang terkait dugaan skema suap senilai ratusan juta dolar.
Dalam kasus sebelumnya, jaksa AS menuduh Saab terlibat dalam pengalihan sekitar US$350 juta dari Venezuela melalui jaringan transaksi internasional.
Pernah Diberi Pengampunan Biden
Kasus Saab juga memiliki sejarah panjang dalam hubungan AS-Venezuela. Pada Desember 2023, Presiden AS saat itu Joe Biden memberikan pengampunan kepada Saab.
Ini menjadi bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan. Namun, kasus hukumnya kembali berjalan setelah perubahan politik di Venezuela.
Sementara itu, mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat ini juga menghadapi proses hukum terpisah di AS. Maduro ditahan di Brooklyn dan menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkotika.
Ia membantah tuduhan tersebut dan menyatakan dirinya memiliki kekebalan sebagai mantan kepala negara. Sidang Maduro dijadwalkan berlangsung pada 2027, sementara kasus Saab menjadi salah satu perkara besar yang mengungkap hubungan antara bisnis, kekuasaan politik, dan aliran dana Venezuela.
(sef/sef)