Kampung Nelayan Tongke-Tongke Dulu Kumuh, Trenggono Sulap Jadi Modern

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 25/09/2026 15:45 WIB
Foto: Wajah lama pesisir di Desa Tongke-tongke sebelum hadir KNMP. (Dok. Humas KKP)

Sinjai, CNBC Indonesia - Pemandangan Pelabuhan Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kini terlihat jauh berbeda. Kawasan yang menjadi tempat nelayan beraktivitas itu perlahan berubah menjadi kawasan yang lebih tertata setelah dibangun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Jika melihat kondisi Tongke-Tongke sebelum adanya KNMP, kawasan pesisir tersebut tampak masih sangat sederhana. Deretan kapal nelayan bersandar di tepian sungai, sementara area daratan di sekitarnya berupa lahan terbuka dengan bangunan-bangunan sederhana.

Dalam dokumentasi foto kondisi lama, belum terlihat fasilitas penunjang perikanan yang terintegrasi. Area aktivitas nelayan juga masih terlihat seadanya, dengan lahan terbuka, material yang berserakan, serta bangunan sederhana yang berdiri di sekitar tepian sungai.


Kini, wajah kawasan tersebut berubah. Tongke-tongke mulai dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukung aktivitas nelayan, mulai dari cold storage, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, cool box, kios perbekalan, sentra kuliner, hingga sudah tidak berbau amis.

Perubahan ini sejalan dengan gagasan Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono yang sejak awal mendorong pembenahan kawasan pelabuhan perikanan di Indonesia.

Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Trenggono melihat masih banyak pelabuhan perikanan yang identik dengan kondisi yang tidak tertata dan menimbulkan persoalan lingkungan.

"Sekarang ini pelabuhan perikanan identik dengan kotor dan bau, sehingga perlu pembenahan menyeluruh untuk mengubah stigma tersebut," kata Trenggono beberapa waktu lalu, dikutip Jumat (25/9/2026).

Dari Pesisir Jadi Kawasan Terintegrasi

Konsep KNMP kemudian tidak hanya menyasar bangunan fisik. Kawasan nelayan juga ditata agar berbagai aktivitas perikanan dapat dilakukan dalam satu kawasan.

Di Tongke-Tongke, fasilitas yang dibangun mencakup sarana untuk menangani hasil tangkapan hingga mendukung kebutuhan nelayan. Kehadiran gudang beku (cold storage) dan pabrik es, misalnya, memungkinkan hasil tangkapan seperti tuna ditangani dengan rantai dingin yang lebih baik.

Fasilitas lainnya seperti kendaraan berpendingin dan cool box juga mendukung proses distribusi hasil tangkapan agar kualitas ikan tetap terjaga sebelum dikirim ke pasar.

Hal tersebut menjadi penting bagi Tongke-tongke, karena tuna merupakan salah satu komoditas utama hasil tangkapan nelayan setempat.

Bahkan, hasil tangkapan dari kawasan ini kini sudah dapat diproses di Unit Pengolahan Ikan (UPI) KNMP sebelum dikirim ke berbagai daerah, termasuk Jakarta.

Perubahan itu membuat kawasan yang sebelumnya hanya menjadi tempat kapal bersandar dan nelayan beraktivitas secara tradisional, kini mulai memiliki fungsi yang lebih luas sebagai sentra kegiatan perikanan dari hulu hingga hilir.

Bagi Trenggono, pembenahan seperti ini bukan sekadar membuat kawasan terlihat lebih rapi. Infrastruktur perikanan juga harus mampu meningkatkan kualitas hasil tangkapan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi nelayan.

Di Tongke-Tongke, perubahan tersebut mulai terlihat dari fasilitas yang tersedia dan aktivitas pengolahan serta distribusi hasil laut yang kini dapat dilakukan dari kawasan nelayan itu sendiri.

Dengan demikian, KNMP Tongke-Tongke bukan hanya mengubah wajah fisik kawasan pesisir. Lebih jauh, kawasan yang dulu tampak sederhana dan belum tertata kini diarahkan menjadi kampung nelayan yang lebih bersih, terintegrasi, dan memiliki fasilitas untuk menopang aktivitas ekonomi nelayan.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

KKP Sukses Budi Daya Lobster di Batam, Hasil Panen Diserap Singapura