MARKET DATA

Efek Dahsyat KNMP Tongke-Tongke, Nelayan-ABK Happy Pendapatan Naik

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
25 September 2026 14:25
Nelayan dan para ABK kapal di KMNP Tongke-Tongke Sulawesi Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Nelayan dan para ABK kapal di KMNP Tongke-Tongke Sulawesi Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Sinjai, CNBC Indonesia - Kehadiran Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) mulai dirasakan nelayan di Desa Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Salah satu perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya harga jual ikan hasil tangkapan nelayan.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HlNSI) Kabupaten Sinjai, yang sekaligus pengelola Unit Pengolahan Ikan (UPI) KNMP Tongke-tongke, Emil Salim, mengatakan harga tuna yang sebelumnya berada di kisaran Rp30.000 per kilogram (kg) kini telah mencapai Rp45.000 per kg.

"Jadi nilai hasil tangkapan nelayan kita semenjak ada KNMP itu ada kenaikan harga. Dari awalnya sebelum ada KNMP harga itu di angka Rp30.000 per kg. Setelah KNMP berjalan ini, ada kenaikan terus terkait harga tuna yang ada di Sinjai. Dan akhir sekarang ini di posisi Rp45.000 (per kg). Jadi ada kenaikan Rp15.000. Itu dalam rentang 4-5 bulan," kata Emil saat ditemui di KNMP Tongke-tongke, Jumat (25/9/2026).

Pemilik kapal di KNMP Tongke-Tongke, Hairul Mukmin, juga menyebut kenaikan pendapatan nelayan setelah KNMP berjalan berada di kisaran 40%-50%.

"Kalau dirata-ratakan mungkin kenaikan signifikannya sekitar 40% sampai 50%. Karena kalau kemarin kan hasil tangkapannya teman-teman nelayan itu pengepulnya sudah milih-milih, karena hanya-hanya itu orang. Tapi karena di sini sudah ada KNMP, berapapun hasil tangkapan nelayan itu langsung diserap. Jadi tidak ada lagi permainan harga. Jadi itu yang kemudian bisa meningkatkan ekonomi nelayan yang ada di sini," ujar Hairul.

Menurut Hairul, perubahan tersebut terjadi karena rantai perdagangan ikan yang sebelumnya cukup panjang kini dapat dipangkas. Nelayan tidak lagi harus menjual hasil tangkapan melalui agen, pengepul atau tengkulak sebelum sampai ke perusahaan.

Nelayan dan para ABK kapal di KMNP Tongke-Tongke Sulawesi Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Nelayan dan para ABK kapal di KMNP Tongke-Tongke Sulawesi Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Nelayan dan para ABK kapal di KMNP Tongke-Tongke Sulawesi Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Kalau di sini kan dulunya, sebelum ada KNMP, nelayan itu menjualnya ada yang ke agen, ada yang ke pengepul, tengkulak. Pengepul ini yang kemudian bawa ke Jawa atau ke Makassar, di perusahaan," jelasnya.

"Sekarang dengan hadirnya KNMP ini langsung tidak ada lagi tangan kedua, tangan ketiga, atau tangga-tangganya. Langsung dari nelayan ke KNMP. Dan harganya itu harga perusahaan. Artinya, kenaikan pendapatannya itu sampai 50% dari harga yang sebelumnya," sambung dia.

Pendapatan ABK Ikut Terdongkrak

Kenaikan harga ikan kemudian ikut berdampak pada pendapatan awak kapal atau ABK. Emil mengatakan, sebelum KNMP beroperasi, pendapatan sebagian nelayan berada di kisaran Rp3 juta-Rp4 juta per bulan.

Namun, setelah penjualan ikan meningkat, terdapat ABK yang memperoleh pendapatan hingga sekitar Rp12 juta per orang.

"Jadi ada salah satu nelayan kita ini kurang lebih kalau dihitung perorangannya bisa tembus Rp12 juta per orang per bulan. Untuk ABK. Ini bagi-bagi jatah buat ABK," kata Emil.

Sementara itu, Hairul menjelaskan pendapatan ABK di wilayah tersebut menggunakan sistem bagi hasil. Artinya, ketika hasil penjualan ikan meningkat, bagian yang diterima ABK juga ikut meningkat.

"Kalau misalnya pendapatannya dari penghasilannya itu meningkat, otomatis juga pendapatan ABK-nya itu meningkat. Nggak sama kayak pegawai dia stagnan di situ, ndak. Dia misalnya kalau hasilnya banyak, tentu pembagian untuk ABK-nya juga banyak," ujarnya.

Adapun satu kapal nelayan di Tongke-Tongke biasanya membawa sekitar 6-7 ABK dan beroperasi selama 10-20 hari, dengan rata-rata sekitar 15 hari dalam satu trip.

Ikan Tak Perlu Lagi Dibawa ke Makassar

Selain meningkatkan akses pasar dan harga jual, keberadaan Unit Pengolahan Ikan (UPI) di KNMP juga membuat nelayan tidak perlu lagi membawa hasil tangkapan ke Makassar untuk diproses.

Sebelum ada KNMP, hasil tangkapan nelayan Tongke-Tongke umumnya dibawa ke Makassar. Perjalanan tersebut membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dan berpotensi memengaruhi kualitas ikan karena rantai pendingin tidak selalu terjaga.

"Kalau misalnya nelayan ini membawa hasil tangkapan ke Makassar, ini tentu ada perubahan kualitas mutu. Itu sudah jelas karena yang pertama, butuh waktu ke Makassar ini 4 sampai 5 jam. Itu pun kondisi kendaraan tidak sesuai dengan SOP, jadi rantai pendingin ini pasti akan putus meskipun beberapa pelaku usaha ini memakai kendaraan, memakai es begitu. Tetapi lagi-lagi SOP itu tidak sesuai," jelas Emil.

Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Kini, hasil tangkapan dapat langsung dibawa ke UPI di KNMP untuk diolah sebelum dikirim sesuai pesanan ke sejumlah daerah seperti Jakarta dan Surabaya.

Emil mengatakan, kondisi tersebut membuat kualitas ikan lebih terjaga dan pada akhirnya ikut mendukung nilai jual hasil tangkapan nelayan.

Meski memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi nelayan, KNMP Tongke-tongke masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satunya adalah keterbatasan pasokan BBM subsidi.

Emil mengatakan, kondisi tersebut bahkan sempat membuat sejumlah nelayan tidak melaut.

"Yang jadi permasalahan sekarang kuota BBM kita. Nah, jadi ini contoh kasusnya ini banyak jerigen yang kosong. Ini memang karena kita terkendala bahan bakar minyak bersubsidi buat nelayan," ungkap dia.

"Jadi di bulan-bulan kemarin ini banyak nelayan kita tidak melaut karena adanya kondisi kurang mendapatkan bahan bakar," lanjutnya.

Hairul pun menyampaikan persoalan serupa. Menurutnya, beberapa kapal sempat tidak beroperasi karena harus mengantre mendapatkan solar subsidi.

"Kalau yang kami harapkan itu pasokan solar subsidinya. Karena beberapa bulan terakhir ini, khusus di Sulawesi Selatan itu kelangkaan. Banyak kemarin kapal-kapal yang ada di sini itu mangkrak, karena kita harus antri dengan beberapa truk-truk," ujar Hairul.

Selain BBM, akses masuk kapal dari laut ke kawasan KNMP juga masih menjadi kendala akibat sedimentasi. Emil berharap pemerintah melakukan normalisasi muara agar kapal nelayan lebih mudah keluar-masuk.

Ia juga meminta status pelabuhan setempat ditingkatkan dari tempat pelelangan ikan (TPI) menjadi pelabuhan perikanan yang memiliki kewenangan lebih luas.

"Makanya saya berharap sekali untuk kemudian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bukan hanya nelayannya dinaikkan, tetapi status kepelabuhannya juga dinaikkan, menjadi P3 paling tidak minimal. Pelabuhan Perikanan Pantai," kata Emil.

Dengan demikian, KNMP Tongke-Tongke telah membawa sejumlah perubahan yang dirasakan langsung oleh nelayan, terutama dari sisi harga jual ikan, akses pasar dan pendapatan.

Namun, keberlanjutan manfaat tersebut masih bergantung pada penyelesaian sejumlah persoalan operasional, terutama pasokan BBM dan akses pelabuhan.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article KKP Amankan 1.048 Ton Udang Impor Ilegal, Begini Kata-Kata Trenggono


Most Popular
Features