Internasional

Bakal Panas? 6 Isu Dibahas Trump & Xi Jinping di AS Hari Ini

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 24/09/2026 10:10 WIB
Foto: (Tangkapan Layar Video/REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambut pemimpin China Xi Jinping di Washington, Rabu waktu setempat. Xi Jinping akan memulai kunjungan kenegaraan selama tiga hari dengan pertemuan puncak di Kamis (24/9/2026) ini.

KTT Trump dan Xi Jinping adalah pertemuan kedua mereka tahun ini, setelah sebelumnya bertemu di China pada Mei. Kedua pemimpin berupaya menciptakan stabilitas dalam hubungan kedua negara yang tengah berada di bawah tekanan akibat berbagai isu.


Xi sendiri telah mengawasi lonjakan perdagangan China dengan dunia beberapa tahun terakhir, di tengah minimnya belanja domestik dan krisis properti. Sementara itu, Trump kini harus menghadapi perang dengan Iran berserta dampaknya termasuk tingkat persetujuan publik yang rendah di detik-detik pemilihan umum (pemilu sela) anggota DPR dan Senat AS, yang bisa melengserkan partainya dari pimpinan Kongres.

Berikut sejumlah isu utama yang akan dibahas dalam pertemuan mereka di Gedung Putih:

1.Gencatan Senjata Dagang atau Kembali ke Perang Dagang?

Mengutip Reuters, pasar akan mencermati tanda-tanda perpanjangan gencatan senjata tarif yang diumumkan setelah KTT Trump-Xi Jinping di Korea Selatan (Korsel) pada Oktober tahun lalu. Kesepakatan tersebut dijadwalkan berakhir pada 10 November.

Kesepakatan itu sebelumnya menghentikan perang dagang, ketika dua ekonomi terbesar dunia saling mengancam dengan tarif yang mencapai lebih dari 100%. Hal tersebut telah menimbulkan risiko terhadap rantai pasok global.

"Kedua negara akan membuat sejumlah pengumuman terkait pertanian dan hambatan non-tarif," kata Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bulan ini.

Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan kesepakatan penurunan tarif bersama yang mencakup perdagangan senilai US$30 miliar (sekitar Rp536,49 triliun). Salah satu langkah yang paling mudah dilakukan China adalah memangkas tarif atas produk pertanian AS.

2.Pesawat Boeing dan Produk Pertanian

Trump akan berupaya mengumumkan hasil positif di bidang perdagangan menjelang pemilu paruh waktu Kongres AS pada November. Hal tersebut antara lain melalui pembelian besar pesawat Boeing dan produk pertanian AS oleh China.

Greer mengatakan pada Senin bahwa China telah membuat kemajuan terkait komitmen pembelian 200 pesawat Boeing. Sayangnya, ia tidak memberikan indikasi bahwa pesanan tambahan dalam jumlah besar akan segera diumumkan.

Trump sebelumnya mengatakan pada Mei bahwa China berpotensi meningkatkan pesanan Boeing hingga 750 pesawat. Namun, CEO Boeing Kelly Ortberg pekan lalu justru menurunkan ekspektasi sejumlah analis industri bahwa China akan membuat pesanan baru Boeing saat pertemuan Trump-Xi berlangsung.

"Saya pikir akan ada tambahan pesanan ke depannya," kata Ortberg dalam konferensi dengan investor menekankan akan pengumuman akan dilakukan oleh masing-masing maskapai sesuai dengan waktu yang mereka tentukan.

Sumber-sumber industri mengatakan kesepakatan yang lebih besar telah tertahan selama bertahun-tahun setelah Trump mengancam akan menghentikan akses China terhadap suku cadang mesin penting. Gedung Putih mengatakan setelah KTT pada Mei bahwa China telah berkomitmen membeli setidaknya US$17 miliar produk pertanian AS per tahun pada 2026, 2027, dan 2028.

Sementara itu, Senator AS dari Partai Republik Pete Ricketts mengatakan pekan lalu bahwa Trump seharusnya mendesak Xi memenuhi komitmen tersebut. Termasuk menjalankan janji untuk membuka pasar China bagi lebih banyak produk daging sapi AS.

3.Cengkeraman China atas Rare Earth

Beijing mendesak AS untuk kembali menunda aturan yang akan melarang ribuan perusahaan China menerima teknologi canggih dari AS. Di sisi lain, Washington ingin Beijing melonggarkan pengiriman rare earth dan mineral kritis yang sangat penting bagi berbagai industri berteknologi tinggi, mulai dari otomotif hingga manufaktur dirgantara dan pertahanan.

Para pakar mengatakan Trump mengambil pendekatan yang lebih lunak dari biasanya menjelang pertemuannya dengan Xi. Salah satu alasannya adalah meningkatnya kekuatan China berkat penguasaan mineral kritis.

Menurut konsultan AlixPartners, China menguasai hingga 70% penambangan rare earth dunia. Negara ini juga mendominasi 85% kapasitas pemurnian serta sekitar 90% produksi paduan logam dan magnet rare earth.

Pemerintahan Trump sejauh ini tidak mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap impor China ataupun melarang ekspor teknologi AS. Sikap tersebut berbeda dengan pendekatan agresif yang dilakukan menjelang sejumlah KTT sebelumnya.

Perlu diketahui, tahun lalu, sebagai balasan atas tarif Trump, China membatasi ekspor rare earth. Hal ini mengguncang pasar dunia.

4.Taiwan

Para sekutu AS di Asia semakin khawatir bahwa demi mendapatkan keuntungan ekonomi, Trump mungkin tergoda untuk melonggarkan dukungan Washington terhadap Taiwan. Pulau ini diklaim China dan memiliki pemerintahan demokratis.

Taiwan sendiri menolak klaim kedaulatan China tersebut. Meski AS, seperti sebagian besar negara di dunia, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, Washington merupakan pendukung internasional dan pemasok senjata terpenting bagi pulau tersebut.

Trump mengatakan Xi menekan dirinya terkait penjualan senjata AS kepada Taiwan saat kunjungan Mei. Setelah itu, Trump menggambarkan paket senjata yang sedang diproses senilai hingga US$14 miliar sebagai "alat negosiasi".

Selain persoalan senjata, orang-orang yang mengetahui upaya China mengatakan kepada Reuters bahwa Beijing juga berharap Trump menyatakan secara terbuka bahwa AS menentang kemerdekaan Taiwan. Jadi, bukan sekadar mengatakan bahwa Washington tidak mendukung kemerdekaan Taiwan seperti formulasi yang digunakan AS selama beberapa dekade.

Setiap perubahan sikap AS terkait Taiwan akan sangat kontroversial. Hal itu dapat menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen Washington untuk mempertahankan Taiwan dan memicu penolakan di Kongres.

Pada Senin, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu dengan mitranya dari Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Mereka kembali menegaskan komitmen AS terhadap pertahanan kedua sekutu utama tersebut dan menyatakan dukungan terhadap Taiwan.

Dalam surat kepada Trump pada Jumat, Ketua Komite Pemilihan DPR AS untuk China dari Partai Republik, John Moolenaar, mengatakan keberatan China terhadap penjualan senjata AS dan kerja sama keamanan dengan Taiwan harus "ditolak mentah-mentah".

5.Perang Iran

China memiliki hubungan dekat dengan Teheran dan merupakan pembeli minyak Iran terbesar di dunia. Washington melihat Xi sebagai sosok yang memiliki kemampuan unik untuk memberikan tekanan kepada Teheran.

Namun, Xi sejauh ini menunjukkan sedikit kecenderungan untuk melakukan hal tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Trump dan Xi akan melanjutkan pembicaraan mengenai hubungan keuangan China dengan Teheran selama KTT.

Meski Washington frustrasi terhadap Beijing, Bessent tidak menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank China ketika bulan lalu mengumumkan "serangan ekonomi" terhadap Iran dan memperingatkan negara-negara lain untuk memutus hubungan bisnis dengan Iran. Pekan lalu, Trump mengabaikan laporan bahwa Iran memperoleh citra satelit sebuah pangkalan di Yordania dari entitas China sebelum serangan pada Juli yang menewaskan tiga tentara AS.

Reuters juga melaporkan bulan lalu bahwa Beijing menjual barang senilai miliaran dolar ke Iran melalui skema untuk menghindari sanksi. Kementerian Luar Negeri China mengatakan pihaknya tidak mengetahui hal tersebut.

6.Kecerdasan Buatan (AI)

Para analis melihat AI sebagai salah satu bidang yang berpotensi menjadi ruang kerja sama antara AS dan China, mengingat dampaknya terhadap keamanan nasional, daya saing ekonomi, dan kemampuan militer kedua negara. Kedua negara juga memiliki kekhawatiran yang sama mengenai penyalahgunaan AI.

Namun, para pakar mengatakan persaingan sengit AS-China di bidang AI kemungkinan membatasi ruang kerja sama. Kesepakatan yang dibuat diyakini bersifat simbolis.

Bessent mengatakan setelah pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng pada akhir pekan bahwa kedua pihak membahas pembentukan dialog AI AS-China yang baru. Dialog tersebut akan mencakup sistem notifikasi mengenai tujuan dan ancaman bersama, termasuk insiden terkait AI yang mencapai tingkat keamanan nasional.

CEO perusahaan AI AS Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bulan ini bahwa dominasi China dalam AI dapat menimbulkan risiko keamanan bagi AS. Media pemerintah China menepis peringatan tersebut dan menyebutnya sebagai bagian dari "pola pikir Perang Dingin".

Trump sendiri menolak seruan untuk memperlambat perkembangan AI. Ia mengatakan bahwa "kekuatan yang sangat negatif" telah membesar-besarkan kekhawatiran mengenai AI.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: "Kopi Darat" Trump - Xi Jinping di Washington