Ini 3 Skenario & Potensi "Keberhasilan" KTT Trump-Xi Jinping di AS

CNBC Indonesia
23 September 2026 09:45
(COMBO) This combination of pictures created on September 16, 2026 shows (L/R) US President Donald Trump in Washington, DC, on September 4, 2026 and China's President Xi Jinping in Bishkek on September 1, 2026. Chinese President Xi Jinping is expecte
Foto: AFP/PETER KOVALEV

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Empat bulan setelah bertemu di Beijing, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping kembali berhadapan di Washington tanggal 23-25 September ini. Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (China) lebih tenang, tetapi hasil pertemuan Beijing belum sepenuhnya dilaksanakan.

KTT Beijing menghasilkan gagasan constructive strategic stability, Board of Trade dan Board of Investment, serta komitmen pembelian produk pertanian dan sedikitnya 200 pesawat Boeing. Namun, pelaksanaannya tertinggal. Pesanan Boeing belum sepenuhnya menjadi kontrak, pembelian produk pertanian berjalan lambat, sementara pasokan rare earths tetap tidak pasti.

Menjelang pertemuan Washington, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan USTR Jamieson Greer telah bertemu Wakil Perdana Menteri RRT He Lifeng. Mereka membahas Board of Trade dan kemungkinan mekanisme notifikasi apabila terjadi insiden AI yang berdampak terhadap keamanan nasional. Tetapi tidak ada tanda bahwa persoalan tarif, rare earths, Boeing, dan produk pertanian telah selesai pada tingkat menteri.

Artinya, para menteri hanya menyiapkan meja. Trump dan Xi masih harus menentukan sendiri apa yang dapat dipertukarkan. Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah stabilitas dapat dipertahankan, melainkan berapa banyak kepastian ekonomi yang bersedia diberikan Xi, dan berapa banyak ambiguitas geopolitik-terutama mengenai Taiwan-yang dapat diterima Trump sebagai imbalannya.

Skenario Positif: Paket Transaksional yang Nyata

Hasil terbaik yang masih realistis adalah sebuah paket transaksional. Bukan grand bargain, apalagi berakhirnya rivalitas strategis, tetapi cukup konkret untuk mengurangi sebagian biaya dan risikonya.

Gencatan tarif yang berakhir pada 10 November diperpanjang setidaknya satu tahun. Kedua negara menurunkan tarif atas barang nonstrategis dengan nilai perdagangan sekitar US$30 miliar. RRT memperbesar pembelian produk pertanian dan mengonfirmasi pesanan Boeing, sedangkan AS memberi kelonggaran terbatas pada sektor yang tidak dianggap strategis.

Bagian terpenting bagi Washington tetap rare earths. Janji memperbaiki pasokan tidak cukup. Keberhasilannya harus terlihat dari lisensi yang dapat digunakan untuk lebih dari satu pengiriman, akses yang lebih luas bagi pengguna sipil yang terverifikasi, kriteria persetujuan yang lebih transparan, dan terutama pulihnya arus ekspor. Harus ada pula mekanisme konsultasi apabila pengiriman kembali terganggu. Tanpa itu, kelonggaran RRT dapat dibalik setiap saat.

Paket tersebut dapat dilengkapi dengan tindakan terhadap prekursor fentanyl dan pembentukan dialog AI. Namun, hambatan terbesarnya tetap Taiwan. Xi kemungkinan tidak akan memberikan konsesi ekonomi bernilai tinggi tanpa membicarakan penjualan dan pengiriman senjata AS ke Taiwan. Trump, sebaliknya, tidak dapat terlihat menukar keamanan Taiwan dengan transaksi perdagangan.

Saya menempatkan peluang skenario ini sekitar 30 persen. Bukan karena kesepakatan ekonominya tidak mungkin, tetapi karena Taiwan dapat membatasi ruang transaksi keduanya.

Skenario Dasar: Stabilitas yang Rapuh

Hasil yang lebih mungkin adalah kesepakatan yang cukup besar untuk diumumkan sebagai keberhasilan, tetapi tidak cukup rinci untuk menghilangkan sumber perselisihan.

Gencatan tarif diperpanjang. Dialog AI diumumkan, tetapi rinciannya diserahkan kepada pejabat teknis. Board of Trade mulai bekerja tanpa daftar produk yang sepenuhnya disepakati. RRT mempercepat sebagian lisensi rare earths, tetapi tetap mengendalikan cakupan, durasi, dan penerimanya. Boeing dan produk pertanian kembali disebut, sementara pelaksanaannya dibiarkan cukup longgar untuk dinegosiasikan lagi.

Hasil demikian sesuai dengan kepentingan Xi. Ia memerlukan stabilitas hubungan dan perdagangan, tetapi tidak berkepentingan memberikan kepastian penuh mengenai rare earths. Ketidakpastian itu sendiri mempunyai nilai strategis. Xi menginginkan hubungan yang lebih stabil sambil mempertahankan optionality atas instrumen tekanan.

Trump juga mempunyai kebutuhan sendiri. KTT berlangsung beberapa minggu sebelum pemilu anggota Kongres. Ia memerlukan hasil yang cepat dan mudah dijelaskan kepada pemilih: pembelian Boeing, produk pertanian, penurunan tarif, atau membaiknya pasokan mineral kritis. Tetapi ia juga tidak boleh terlihat lemah terhadap RRT. Karena itu, transaksi besar secara angka mungkin lebih menarik baginya daripada mekanisme pelaksanaan yang rumit.

Di luar ekonomi, Perang Iran dapat menjadi bagian penting dari transaksi. Trump membutuhkan bantuan Beijing untuk menekan Teheran, menjaga Selat Hormuz, dan meredakan harga minyak. Xi dapat menawarkan mediasi atau pengaruh ekonomi secara terbatas, tetapi tidak akan menjadi pelaksana strategi Washington. Ukraina juga akan dibahas, meskipun ruang komprominya lebih kecil. AS menginginkan RRT menekan Moskow, sedangkan Beijing tidak akan mengorbankan hubungan strategisnya dengan Rusia. Dalam kedua perang itu, hasil yang mungkin hanyalah pengendalian risiko.

Taiwan tetap dikelola melalui ambiguitas. Xi menekan Trump agar mengurangi penjualan senjata, sementara Trump menahan keputusan final dan mempertahankannya sebagai alat tawar.

Menurut saya, inilah hasil yang paling mungkin, dengan peluang sekitar 55 persen. Namun, paling mungkin tidak berarti paling stabil. Perusahaan AS dapat kembali mengeluhkan pengiriman rare earths. Beijing dapat menuduh Washington lambat menurunkan tarif atau memberi kelonggaran teknologi, sementara pesanan Boeing dan produk pertanian tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Board of Trade mungkin menampung keluhan itu, tetapi belum tentu dapat menyelesaikannya.

KTT akan terlihat berhasil pada hari pengumumannya. Beberapa bulan kemudian, keberhasilan tersebut dapat mulai terurai.

Skenario Negatif: Taiwan Meruntuhkan Paket Ekonomi

Kemungkinan terakhir adalah kunjungan kenegaraan yang hangat secara seremonial, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan substantif. Pemicunya bukan tarif atau Boeing, melainkan Taiwan.

Xi dapat mendesak Trump menghentikan penjualan baru maupun pengiriman senjata yang telah dipesan. Trump kemudian menghadapi Kongres, tekanan dari Partai Republik, dan kekhawatiran sekutu bahwa Washington sedang menukar kepentingan keamanan dengan keuntungan ekonomi.

Jika Trump menolak, Xi dapat menahan konsesi mengenai rare earths, tarif, dan pembelian produk AS. Jika Trump memberi terlalu banyak, ia mungkin memperoleh paket ekonomi, tetapi kehilangan kepercayaan di dalam negeri dan di antara sekutu AS di Asia.

Dalam keadaan itu, gencatan tarif tidak memperoleh kepastian baru. Board of Trade tetap menjadi forum konsultasi. Boeing, produk pertanian, dan dialog AI kembali diserahkan kepada perundingan berikutnya. Peluang skenario ini sekitar 15 persen, tetapi dampaknya paling besar karena kegagalan mengenai Taiwan dapat membawa hubungan ekonomi kembali ke jalur eskalasi.

Ukuran Keberhasilan

Keberhasilan KTT tidak seharusnya dinilai dari upacara kenegaraan ataupun pernyataan bahwa pembicaraan berlangsung sangat baik. Yang harus dicari adalah perubahan yang dapat dilaksanakan: perpanjangan gencatan tarif yang jelas, daftar produk yang memperoleh penurunan tarif, lisensi rare earths yang lebih luas dan arus ekspor yang benar-benar pulih, serta perubahan komitmen Boeing dan produk pertanian menjadi kontrak. Dialog AI juga baru berarti apabila mempunyai mandat dan kanal komunikasi yang nyata.

Di atas semua itu, perlu dilihat apakah kesepakatan ekonomi dibayar dengan perubahan sikap terhadap Taiwan yang tidak diumumkan secara terbuka.

Di KTT Beijing, Trump dan Xi membuktikan bahwa dua negara besar yang tidak saling percaya masih dapat mencegah konflik terbuka. Di KTT Washington, mereka harus membuktikan bahwa stabilitas dapat menghasilkan kepastian tanpa mengubah transaksi ekonomi menjadi konsesi geopolitik.

Jika tidak, hubungan AS-RRT mungkin tetap tenang di permukaan, tetapi selalu berada satu langkah dari krisis berikutnya.


(msir/sef)
Next Article Abdul El-Sayed & Awal Pergeseran Politik Luar Negeri Demokrat AS