8 Photos
Momen Presiden Iran "Tampar" Trump di Markas PBB, Bawa Foto Khamenei
Di PBB , Presiden Iran mengkritik kebijakan perang Trump. Ia juga membawa foto Ayatollah Khamenei yang ia sebut dibunuh AS. Mengatakan Iran korban terorisme.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berbicara dalam Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Rabu waktu malam setempat. (AFP/TIMOTHY A. CLARY)
Dalam pidatonya pada sesi Debat Umum Majelis Umum PBB, Pezeshkian menyatakan bahwa "perdamaian harus didasarkan pada kewajaran, keadilan, martabat, dan kesetaraan hak" bagi semua negara. (Tangkapan Layar Video/REUTERS)
Melansir dari Reuters, Kamis (24/9/2026), ia menegaskan bahwa Iran bersedia untuk bernegosiasi dan bekerja sama. Namun, tegasnya, tidak akan menerima paksaan untuk memberikan konsesi melalui penggunaan kekuatan, sanksi, atau ancaman militer. (Tangkapan Layar Video/REUTERS)
Di momen pidato ini Pezeshkian "menampar" kebijakan perang Presiden AS Donald Trump dengan menujukkan potret mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei seraya menyebutnya telah dibunuh. Ia pun membawa foto-foto kuburan anak-anak yang tewas di Iran saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap 28 Februari ke sebuah sekolah di Teheran, seraya mengatakan "anak-anak ini dibom dengan senjata dari AS dan Israel". (AFP/TIMOTHY A. CLARY)
"Kami (Iran) menjadi korban dari terorisme," katanya seraya mengatakan Trump seorang "pembully". (Tangkapan Layar Video/REUTERS)
Ia menegaskan bahwa sikap Iran dalam menjaga keamanan nasional, kedaulatan, dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai memandang kemampuan pertahanan sebagai jaminan penting untuk menangkal ancaman eksternal, sembari menolak upaya mencapai keamanan melalui cara-cara hegemonik. Pezeshkian juga mengkritik standar ganda sejumlah negara terkait isu nuklir Iran dan persoalan Palestina, serta berpendapat bahwa pendudukan, agresi, dan ketidakadilan yang terus berlanjut akan memperparah konflik regional. (AFP/TIMOTHY A. CLARY)
Ia menyatakan bahwa perang dan kekuatan militer tidak dapat menggantikan hukum internasional ataupun dialog diplomatik dan politik, serta menyerukan pencapaian keamanan bersama melalui kerja sama regional. (AFP/TIMOTHY A. CLARY)